Senin, 22 April 2013

Penyesalan


~ini sebuah cerita karangan saya baca deh Seru looh~

PENYESALAN


Kisah ini diambil dari kisah masa lalu ku. Dimana, kisah ini tidak akan pernah aku lupakan. kisah dimana telah terjadi 3 tahun yang lalu. Kisah dimana yang sangat menyesalkan diriku. Dan mungkin aku akan terus menyalahi diriku. Inilah Kisahku.

Inilah sekolahku,orang-orang bilang,sekolahku bagus, baik dari segi prestasi dan juga dari kegiatan ekstrakulikulernya, gak kalah ko sama sekolah-sekolah lain.  Aku selalu menjalani hari hari ku di sekolah dengan canda,tawa dan kegembiraan bersama teman temanku terutama sahabatku. Terkadang aku suka bosan berada di sekolah dengan pelajarannya, akan tetapi sahabat terbaikku selalu mengingatkanku dan terus mendukungku untuk bersemangat ketika mengikuti pelajaran.
Ya, itulah sahabat ku, dia bernama NATA SYARA NAZWA , kita sebut saja “Nata” dia sangat rajin, tidak pernah melanggar peraturan sekolah,baik hati,dan selalu mendapatkan Juara petama di dalam kelas maupun diluar kelas, dia tertib, disiplin, dan tidak pernah menyombongkan kepintarannya,selalu membantu temannya yang kesulitan, bahkan saking baiknya, dia pernah mengerjakan tugasku sempai malaman. Hehehe.. terkadang aku suka iri dengan sifat baiknya.  Sunggu bertolak belakang sifat nya dengan sifatku. Seperti biasa, aku pemalas, kadang juga rajin, yang aku pentingkan adalah bermain bercanda dan bersenang senang bersama teman, Nata, dan juga Pacarku. Hehe
Uuooppss! Pacarku? Ya dia memang pacarku, yang baik hati,pengertian,juga selalu mengerti keadaanku, dia tidak pernah selingkuh dong terutama... hubungan kita telah terjalin selama 1 thun. Teman-teman ku suka heboh kalau aku lagi berduaan di halaman sekolah mereka bilang hubangan kami sangat cocok dan romantiiisss. Nama pacarku AZI RAINAL. Intinya dia sangat baik dan tampan pula! Hehehe
Ups hampir lupa, ini lah aku. Sekarang aku duduk di kelas 3 SMA bisa disebut juga kelas 12. Namaku NASYA PUTRI RAHMAN. Mmmm nama Rahman di ambil dari nama belakang ayahku. Terkadang aku juga suka kesel dengan nama itu teman-teman ku meledekku dengan sebutan PAK RAHMAN. Akan tetapi itu hanya ledekan biasa. Ketika aku bertanya kepada ibuku, ibu hanya menjawab nama itu sebuah titipan dari ayahmu, jika ayah sudah tiada mungkin ayah akan terkenang dengan menyimpan nama belakangnya di namaku. Keluarga ku keluarga yang sederhana. Aku mempunyai satu orang kakak laki-laki. Yang bernama RIZKY PUTRA RAHMAN. Nama ayahku selalu dipakai. Hehe oh iyah dua bulan lagi ada UN (ujian Negara). Huh disanalah perjuanganku dimulai. Dan sebentar lagi aku akan mencapai cita-cita. Kuliah di universitas terkenal, dan menjadi orang yang paling berguna di negara ini. Itulah impianku dari dulu dengan sahabatku Nata. Tapi dalam masalah kerajinan da kecerdasan aku dan Nata bertolak belakang.
Eh kelamaan cerita. Yuk kita mulai ceritanya dariiii. Mmm sini ajah!
TAKE 1
Di pagi hari tepat pukul 05.00 jam alarm ku berbunyi, mmm itu yang membuatku sangat kesal, hari ini, hari Senin. Dimana hari ini aku kembali kesekolah setelah satu hari kemarin tidak pergi kesekolah alias libur (minggu)..hari yang menyebalkan karena adanya UPACARA. Pernah berfikir gunanya upacara apa sih? Eh sahabatku Nata menjawab kita upacara untuk mengenang para pahlawan kita yang dulu, jadi jangan pernah meremehkan upacara soalnya para pahlawan kita berjuang mati-matian demi memerdekakan negara kita INDONESIA. Yaah kalah lagi pikir ku nanya ke Nata. Soalnya dia rajin sih harusnya aku nanya ke orang yang juga malas kaya aku. Tapi baiknya aku jadi semangat mendengar ceramahnya Nata. Hehe
Eh hampir lupa pukul 05.10 aku langsung ambil wudhu, untuk shalat subuh. Walaupun pemalas, dalam beribadah aku tidak pernah malas. Setelah shalat aku langsung ke kamar mandi dengan cepat.
“wooooyyyy cepet mandinya!!!” teriak kakak ku.
“la la la la la la la.....!” jawabku dengan nyanyian.
“heh anak so imut! Cepet dong mandinya gue ada jadwal kuliah pagi niiiiii!!!” teriak nya juga.
“suruh siapa telat bangun? Makannya punya uang tabung buat beli jam bekker!” ledek ku kembali.  
Kakak tidak kembali menjawab! Mungkin dia marah atau mungkin dia mandi di kamar mandi yang berada di kamar ayah dan ibu. Aaah itu semua aku abaykan, kembali lagi aku membersihkan tubuhku untuk nanti ke sekolah. Hampir setiap pagi aku dan kakak ku ribut berebut kamar mandi. Karena di rumah kami hanya ada dua kamar mandi. Satu di kamar ayah dan ibu satu lagi, ya di dekat dapur! 30 menit sudah aku mandi. Ku lirik jam ternyata pukul 05.40! WOW! Lama juga ya aku mandi hehe.. dengan buru2 aku mengambil seragam sekolah ku Putih-Putih. Untungnya buku-buku dan topi upacara sudah aku siapkan dari malam.
Pukul 06.15 kami sekeluarga makan pagi di meja makan seperti biasa. Kakak ku begitu cemberut melihatku, ah mungkin dia masih marah. Aku tanya saja dia.
“ masih ngambek kak? “ tanya ku polos
“ iyah.” Jawabnya singkat
“ oh ya udah deh, minta maaf aja.”balas ku kembali.
“kenapa ini ko kalian berdua marahan?” tanya ayahku.
“ ga kenapa-kenapa, biasa kamar mandi.” Jawabku dengan ledekan sambil melihan kakaku.
Kami semua tertawa hanya saja kakak ku masih cemberut! Iih males banget punya kakak kaya gitu! Pukul 06.30 aku berangkat sekolah. Aku ke sekolah menggunakan motor matic ku, sekolahku tidak terlalu jauh. Sebelum ke sekolah, aku pergi untuk menjemput Nisa yang mungkin udah nunggu beberapa menit lalu di rumahnya. Sesampainya di rumah Nisa,benar saja dia udah nunggu dengan pakaian rapih di depan rumahnya.
“Udah lama nunggu Nat?” tanya ku.
“ngga baru aja keluar rumah.” Jawabnya sambil menaiki motor ku. “yu berangkat!”
Sesampainya di sekolah aku dan Nisa langsung menuju ke kelas tercinta kami. Dan akhirnya… hari ini tidak ada Upacara. Woow bahagianyaa.. aku tidak tahu apa alasannya, yang paling penting TIDAK Upacara. Hahaha
Didalam kelas, sebelum ada guru. Aku berbincang-bincang dengan teman-temanku, terkecuali Nata, dia sedang asik membaca buku.
“pulang sekolah ke cafe yu ah!” ajak Randi.
“lah gue ga punya uang!” jawab Galih.
“yyaa ayo ayo! Yah lu mah lih kita di cafe cuman mau Hang out aja. Cari kesenangan gituuh!” seru Rana.
“mmm gimana yah? Gue ajak Nata yah! Sama pacar gue!hehe Tp kayanya kalo Nata ga ikut gue juga ga ikut deh! ” jawabku!
“huuuu lu mah pacar mulu! Eh Nisa emang mau ikut? Emang kenapa Nata ga ikut Lo juga ga ikut?”tanya Randi.
“yaaa ajak aja, kan gue sahabatnya, ga enak dong kalo ga di ajak!ya soalnya kasian dia di rumah sendirian sama pulangnya gak ada kendaraan” jawab ku.
“siipp sipp!”
“ eh eh ada ibuuuu ada ibuuuu!!!” serruu Rizal sambil masuk kekelas yang tadinya ada di luar kelas. Serentak semuanya cepat-cepat duduk di bangkunya masing-masing. Ibu gurupun masuk.
“Selamat pagi anak-anak!!” sapa ibu Fida sambil berjalan ke kursinya.
“Pagiiiiiiii buuuuu!” jawab anak-anak kelas.
“ Pelajaran Bahasa Indonesia sekarang membahas karangan. Oh iyah ada pr tidak?”
“gak ada bu!” jawab kami semua.
Ibu gurupun menerangkan dan menjelaskan pelajaran bahasa Indonesa yang membahas tentang Karangan. Setelah 2 jam pelajaran b.indonesia selesai. Ibu Fida memberikan tugas untuk membuat sebuah karangan. Hhmmm itu membuatku malass!
“mau jajan gak?” ajak Nata.
“ayoo!! Lapaaarrr buuu!!!” jawab ku. Sambil beranjak pergi.
Nata mengikuti dari belakang. Eh padahal kan Nata yang ngajak ko Nata yang mengikuti yah? Hahaha aneh!

“ke kantin bi Surti yuu ah Nat!” ajak ku!
“iyah ayo! Biar sekalian irit! Hahha” jawabnya.
Bi Surti, seorang pedagang kantin yang sangat baik hati. Makanannya enak-enak dan bergizi,itu membuat murid-murid SMA ini sangat betah kalau jajan ke kantin Bi Surti. Menjadi langganan jajanan aku dan Nisa. Wow di kantin Bi Surti ternyata udah banyak murid-murid yang sedang jajan.
“bii pesen nasi kuning 2 dan jus strawberrinya 2 juga ya biii!!!!” teriakku!
“siiaap neng Nasya!” teriak bi Surti.
Tak lama kemudian,pesanan ku datang. Sambil makan aku pun berbincang-bincang dengan Nata. Disaat kita sedang berbincang-bincang, Azi pun datang.
“ekheem yang lagi makan nasi kuning niihh.” Sindirnya.
“ekheem ekhem, ada apa? Mau ?hehe” jawabku.
“ngga ah, ganggu ga nih yang?” tanya Azi.
“ngga kok! Santai aja zii! Hahaha” jawab Nata.
“iyah sini sini duduk!” ajak ku!
“sippp! Tapi aku cuman bentar yah! Soalnya banyak tugas belum di kerjain!” obrol azi.
“iyah ga apa-apa! Iih tugas tuh kerjainnya di rumahh doong!!!” ledek kU!
“yyaahh kaya yang sendirinya ngerjain tugas sendiri aja! Hahaha” ledek kembali Nata.
“yaeellaaa lu mah ngebocorin aja! Hahhaha” seru ku.
“hahahahahahahaha” serentak kita tertawa!
“ya udah yah duluan ke kelas! Dadaaahh bebeb hahaha! Daaahh Nata!” seru Azi.
“yooooo!!!” jawab kita berdua.
Tak lama kemudian bel berbunyi kembali. Aku dan Nisa segera pergi ke kelas dan tak lupa membayar jajanan yang dibeli tadi. Di kelas belum ada guru. Seperti biasa aku bergabung bersama teman-teman. Tak lama kemudian guru matematikapun datang. Yaitu Bu Tati.
“ayoo anak-anak cepat keluarkan tugas kalian. Yang tidak mengerjakan lari 10 keliling di lapang!”omongan sinis guru matematika pun mulai.
Deg!!! “Paraaahh nih gue kan belum!” bisik ku ke Nata.
“yaahh kamu mah suka lupaan!! Kenapa ga ngomong dari tadi?” cemas Nata.
“yaaahh namanya juga manusia pasti ada lupanya!!!!!” seruu ku!
“heh Heri! Kenapa ga ngerjain? Randi? Bobi? Farah? Loli? Guntur? Eggy? Siapa lagi yang ga ngerjain? Nasya ngerjain gak?” tanya dengan suara yang memang tidak enak itu!
“be be belum bu!” jawabku gugup.
“ dasaaar! Gimana mau bener kaliaaan? Kerjaan main main teruuss! Sana cepet lari!!” teriak bu Tati.
Aku dan nama-nama yang di sebut oleh bu Tati langsung pergi kelapangan dan mengerjakan hukuman itu. Wwiiihhh guru yang killeerr! Hehehe uppss guruu loo!
“ heh Nas lu mah malu-maluin tuh sobat lu mah Nata baik ngerjain tugas rajinn lah elu!” tanya bobi sambil lari2 kecil.
“heh! Lu juga kaya yang ga di lariin aja! Udah ga usah ngomong! Ngomong aja lo suka sama Nisa!” jawab ku tegas.
“hahaha udah-udah! Kita sama2 di hukum harus saling mengerti!” ceplos Farah.
Setelah selesai di larikan, kami semua pun masuk kelas kembali. Ibu Tati sudah menerangkan banyak tentang Matematika yang membahas Logika Matematika. Yaaahh ketinggalan deh  -_- . bu Tati tetap saja jutek.
“Nata Syara! Cepat kerjakan soal yang ada di depan ini!” suruh Bu tati sambil menunjuk papan tulis.
“baik bu!” jawab tenang Nata
Nata menjawab soal matematika itu dengan lancar. Memang dia sangat pintar, ga salah kalau dia mengerjakan soal itu dengan cepat dan benar.
Setelah 2 jam pelajaran matematika pun selesai. Bel pulang pun berbunyi. Aku mengajak Nisa agar ikut pergi ke cafe bersama teman-teman.
“Nata, ikut yu! Ke cafe dulu! Hang Out gituuuH!” ajak ku.
“ ngapain? Ngga ah, gue kan mau ngerjain tugas! Kamu juga! Mening ngerjain tugas aja! Yuu ah!” jawab dia dan dia pun mengajak kembali.
“yaahh lu mah kebiasaan! Ayoo dong yoo!! Kan bentar dikit mah nongkrong. “ bujukku.
“ngga Nasya Putri Rahman. Pokonya kita harus ngerjain tugas! Emangnya mau dihukum kaya tadi? Ngga kan?! “ tolak dia kembali.
“yyaaahh ga usah pake rahman gitu laaah! iya deh iya!!!”jawab ku dengan malas.
Tetapi Nata hanya tersenyum melihat wajahku yang malas ini. Benar-benar sahabat yang sangat baik hati.
Sesampainya di rumah Nata, aku pun tidak pulang kerumah dahulu, aku masuk kedalam rumah Nata untuk mengerjakan tugas. Kami berdua mengerjakan tugas bersama sambil memakan cemilan dan berbincang-bincang. Keluarga Nata jarang ada di rumah, dia hanya tinggal bersama ibunya,kakaknya, dan adik perempuannya. Nata bisa disebut dengan anak yang Broken Home. Karena ayah dan ibunya telah bercerai tiga bulan yang lalu. Keluarganya menjadi hancur, karena ulah ayahnya yang tidak pernah mengerti anak-anaknya dan ibunya. Ayahnya tidak pernah memberi nafkah, hanya ibunya yang bekerja. Akan tetapi Nata tidak berkecil hati, iya tetap bersemangat dalam menjalani hidup! Aku senang bersahabat dengannya dia benar-benar sahabat yang sejati.
Selesai mengerjakan tugas, aku pun pamit pulang. Ketika aku baru menaiki motor ku, ibu Nata pun datang dan menyapaku. Matanya sayu seperti ia telah menangis.
eh ada Nasya.  apa kabar Nas? ” sapanya lembut.
“baik bu, ada apa bu kayanya lesu banget?” jawabku penasaran.
ga ada apa-apa.” jawabnya pun lembut dan tersenyum. Seperti menutupi kesedihannya. Dan akupun pamit pulang. Ibunya Nata yang wajahnya terlihat lesu itu terbayang-bayang olehku.
TAKE 2
Keesokan harinya, seperti biasa aku pergi ke sekolah, ketika ku sms Nata, tidak di balas dan di telfon pun tidak menjawab. Aku segera pergi kerumahnya, di rumahnya, seperti tidak ada siapa-siapa. Akupun heran. Dan karena sudah pukul 06.40 aku terpaksa tidak menunggu Nata dan meninggalkannya, karena di pikiranku, mungkin Nata telah pergi ke sekolah sendiri, dan tidak memberi sms kepadaku karena tidak ada pulsa. Dan tidak menjawab telfon, handphone nya tidak terbawa. Pikirku positif.
Sesampainya  di sekolah, ketika aku memasuki kelas, Nata tidak ada, aku pun semakin diberi kekhawatiran. Tak lama kemudian, bel berbunyi dan akhirnya Nata pun datang kesekolah. Aku melihatnya heran, matanya seperti sudah menangis, tubuhnya lemas, wajahnya pucat. Ada apa dengan dirimu sahabat? Aku melihatnya khawatir. Apa mungkin dia mempunyai masalah? Apa mungkin dia sedang sakit Pikirku khawatir sekali.
“kenapa lo Nat? Ada masalah? Cerita sama gue! Mungkin gue bisa bantu.” tanyaku cemas.
“ngga ada apa-apa. gue baik.” Jawabnya santai dengan senyuman indahnya yang kaku.
“kenapa lo ga bales sms gua? Telfon gue ga di angkat?” tanyaku untuk meyakini.
“ gue ga tau kalo kamu sms ato nelfon, gue ga bawa handphone.” Jawabnya dengan lembut.
“gak bohong kan? Kenapa datang terlambat?” tanyaku kembali.
“semalam aku menginap di rumah nenek nindi. Dan maaf gak ngasih kabar.” Jawabnya yakin dan tetap lembut dan lemas.
Aku tidak menjawab kembali, kenapa aku merasa kesal sama Nata? Padahal seharusnya aku menghiburnya, membuat dia tersenyum kembali. Tapi yang aku lakukan hanya bertanya kepadanya secara terus menerus, jika dia mempunyai masalah dan aku terus menerus bertanya, aku yakin dalam hati dia sangat kesal kepadaku, akan tetapi dia tetap ramah,menjawab semua pertanyaanku dengan sabar dan lembut. Kau benar-benar terbaik Nat. Jika benar kau mempunyai masalah yang berat aku harap ada jalan keluar untuk semua masalahmu. Disini aku mendukungmu Nisa.
Beberapa menit kemudian, kepala sekolah kami Bapak Drs. Sunarya Budi M.dp memasuki kelas kami, dengan kumis tebalnya dan peci di atas kepalanya yang sangat berwibawa. mungkin ada pengumuman penting untuk siswa kelas 12. Entah masalah UN ataupun perpisahan. Ooppss perpisahan?mmm kejauhan kali ya, UN juga belum. Hehe
“Selamat siang anak-anak,saya datang ke kelas kalian ini akan memberitahukan tentang Ujian Negara. Ujian Negara tinggal 2 bulan lagi, dan bapak harap kalian semua mempersiapkan dengan sebaik mungkin. Karena bisa saja yang pintar tidak lulus karena banyak pikiran, ataupun dalam proses mengerjakan soalnya tidak  konsentrasi. Itu semua bisa saja. Jadi bapak harap kalian menjaga diri kalian baik-baik jaga kesehatan tidak memikirkan masalah seberat mungkin.” Pengumuman dari kepala sekolah.
Tiba-tiba saja aku melirik kepada Nata, kulihat dia hanya menunduk,dan seperti akan menangis, Nata ada apa dengan kau? Hatiku seperti tidak tenang melihat Nata. Aku melihatmu prihatin, kemudian aku merangkul Nata, dia hanya tersenyum dan kembali menunduk.
“oh tidak lupa anak-anak, minggu depan akan diadakan Try Out pertama. Maka persiapkan diri kalian sebaik mungkin. Pesan bapak  tidak boleh ada beban pikiran apapun. Oke terimakasih atas perhatiannya. ” lanjut kepala sekolah memberi pengumuman.
                Kemudian bapak Drs.Sunarya Budi M.pd pun pergi meninggalkan kelas ku. Bel istirahatpun berbunyi, aku mengajak Nata pergi ke kantin.
                “Nat, kantin  yu! Kelihatannya lo lemes banget makn yu!!!” Ajak aku semangat.
“iyah kamu aja gue disini aja, gak laper.” Jawabnya tenang dan lembut.
“yaahh yuu ah! Gue tlaktir deh! Sekalian gue mau nemenin Hani ngelabrak adik kelas. Kelas 11 tuhh yang ga sopan, terus ngedeketin cowonya Hana! Aahh pasti seruu yu ikutan! Yu yu yu!” ajak ku kembali.
“ngga makasih, ngapain ngelabrak? Omonginnya baik-baik aja, gimana kalo kalian nanti ngelabrak eh malah kena BP lagi. Udah jelek tau! Ngapain ngelabrak? Jangan main hakim sendiri.” jawabnya dan nasihatnya.
“hhmm Iya iya deh ga akan! Mau kekantin aja ko!ya udah kalo ga mau ikut! Daahh nis!” jawabku tidak meyakinkan.
Duuhh kenapa gue harus ngomong sama Nata mau ngelabrak adik kelas? Yyeehhh sialan! Kan jadi gak boleh! Aahh tapi gak apa-apa lah! Nata nya juga di dalam kelas! Hehehe “pikirku”
“Nas yuu bantuin ngomongin adik kelas yang so imut ituu!” ajakan Hana.
“mmmm, gue td bilang ke Nata mau ngelabrak, eehh malah di ceramahin.” Jawabku
“yaaahh lu mah malah ngomong! Udah tau dia mah baik hati dan tidak sombong!” balas Hana enteng.
“yeehh lu mah jangan ngejelekin Nisa. Gitu-gitu juga sahabat gue kali!” seruku tegas.
“hehe iya iya sory sory! Yuu ah ga apa-apa kali, Nata juga ga ngeliatkan?” ajaknya lagi.
“iya yah bener! Okey ayooooo!!” seruu ku.
Aku mendatangi adik kelas itu. Namanya Sisi dan ditemani temannya Nia. Ternyata anaknya ga cantik-cantik amat. Hana membentak Sisi. Sedangkan aku hanya melihatnya saja. Dia seperti tidak bersalah.
   “ hey! Ngerti sopan santun gak?” Bentak Hana kepada adik kelas itu.
“weess na lu sadis amat! Pelan-pelan aja!” bisik gue.
“aaahh diem lu! Nafsu gue!” omong Hana lagi.
“ada apa ya kak? Maaf jangan kasar-kasar dong!” balas Sisi adik kelas.
“lu gak sopan! Biasa aja dong! Diajarin sopan santun gak sama orang tua?” bentak Hana kembali.
Aku hanya melihatnya, Hana terlalu kasar. Memang benar apa kata Nata omongin baik-baik. Tibak-tiba salah satu guru BP datang. Duuuhh mampuss dehh gue! Pikirku!
“ hey hey hey! Ada apa ini? Hana?Nasya? Sisi? Ada apa?” tanyanya tegas.
“ini bu ka Hana tiba-tiba marah-marah gitu?” jelas Sisi.
“aaah apa bu! Yang pertama nyari masalah dia! Ya kan Nasya?” jelas kembali Hana.
“i i i iya bu.” Jawabku gugup
“udah ikut ke kantor saya! Biar masalahnya selesai!” tegas guru BP Bu Yani tersebut.
Kami berempat ikut keruang Bu Yani, (ruang BP). Didalam pikiran ku, terbayang-bayang omongan Nata, dia benar jangan main hakim sendiri. Kalo kaya gitu kita akan kena getahnya kan! Ternyata itu bener gue yang cuman ikut ajah, kena getahnya. Sampai bel pulang berbunyi kami di ruang BP. Kami tidak mengikuti kegiatan belajar di kelas. Dan dalam hati aku merasa bersalah kepada Nata. Maafkan aku Nata. Ketika aku dan Hana keluar dari ruang BP, aku melihat Nata menunggu di depan kelas. Nata melihatku dengan rasa cemas lalu tersenyum.
“kenapa Nasya? Ada masalah? Di bawa keruang BP?” tanyanya dengan lembut.dan menurutku itu menyindirku. “mmm aku ga bermaksud menyindirmu nas.” Lanjutnya lembut.
“Nat maafin gue, tadi gue ga ngedengerin apa kata lo! Gue malah main hakim sendiri. Padalah gue cuman ikut doang.” Jelas ku.
“kenapa harus minta maaf! Udah yang udah berlalu lupain ajah yah J lain kali, jangan kaya gini lagi yah! Kan lo udah gede Nindi udah mau LULUS UN! Terus nanti kita ke Universitas terkenal!” jawabnya dengan senyuman,lembut.
“okeh! Yuu kita pulang Nis!” ajakku.
Kemudian aku mengambil motor matic ku di parkiran. Lalu, Nata pun ku bonceng. Aku mengantarkan Nata sampai depan rumahnya. Nata tersenyum dan menyuruhku cepat pulang karena hari sudah sore.
TAKE 3
Hari-hari selanjutnya aku lalui, Syukurlah Nisa kembali bersemangat! Lewat satu minggu. Dan hari minggu pun datang. Sekolah pastinya libur. Aku mengajak Nata untuk belajar bersama dirumahku. Nata pun bersedia datang,dan bersenang hati mau mengajariku. Setelah ku tunggu-tunggu, Nata pun datang.
“Nasyaaa,, Nasyaa!” panggilnya di depan rumahku.
“heeyy! Gue tunggu! Masuk yuu!” ajakku.
Nata pun masuk kedalam rumahku. Kemuadian aku menyiapkan makanan-makanan ringan,minuman,dan buku untuk belajar tentunya.
“yuu Nat kita belajar!” ajak ku dengan semangat.
“iyah ayoo! Seneng deh kamu jadi semangat gini!” seru Nata.
“oohh iya dong kamu juga semangat! Aku juga harus semangat!” balasku dengan gembira.
“haha iya iya alhamdulillah deh.” Syukurnya.
“kamu ada masalah ga Nat?” tanyaku penasaran.
“mm? Ga ada.” Jawabnya dengan senyuman.
Aku tidak membalasnya, aku hanya mengangguk dan mengerjakan soal-soal untuk latihan Try Out nanti. Nata,sepertinya sekarang suka menutupi masalahnya dan tidak pernah berkata jujur lagi kepadaku. Aku heran apa masalahnya? Dia bisa berubah seperti itu? Mungkin dia sedang ingin memendam masalahnya itu. Pikirku, mengertikan sahabatku ini.
“udah belum soalnya Nasya? Ko diliat-liat malah ngeliatin soalnya doang?hehe”canda Nata.
“mmm? Ngga,,aku mikirin aja, orang yang pemalas seperti aku Lulus gak yah nanti?” tanyaku agar dia tidak terlalu curiga dengan pikiranku.
“Pasti bisa nas, percaya! Asal kamu sekarang mau bener-bener. Dan aku siap ngebantu ko!” jawabnya.
“iyah makasih yah,dukungannya Nat.” Balasku dengan senyum.
Tak lama kemudian ibuku datang.
“eeh ada Nata, makan dulu yu nat, biar enak nanti belajarnya. Yuu tuh makanannya di meja makan.”ajak ibuku.
“iyah bu makasih,tadi pagi udah di rumah.”jawab Nata.
“eehh ayo ah ayo cepet makan dulu! Sekarang kan udah siang! Cepet kamu Nasya makan dulu!” bujuk ibuku kembali.
“iya iya buu.. yuu Nat makan dulu!” ajakku.
Nata pun mengikutiku dari belakang. Ketika kami sedang makan, kakak ku datang dan mencubit pipiku.
“heh! Dee.. kakak beli buku UN nih! Pelajari sana! Berdua sama Nata, kan biar lulus!” omong kakakku.
“huh! Tumben perhatian!”celotehku.
“yeeee ga di perhatiin salah,diperhatiin salah! Mau lu apa?” jawab kesel kakakku. Nata hanya tersenyum melihat kita bertengkar.
“iyyaa iyyaa.” Jawabku dengan muka malas sambil menyuap nasi.
Aku mengambil buku itu dan ku pelajari.
TAKE 4
Keesokan harinya, hari yang sangat mendebarkan, Try Out Pertama. Wow baru saja Try Out pertama udah deg degan gimana UN nya? Hahaha pagi-pagi seperti biasa sebelum berangkat sekolah setelah sarapan pagi, aku pergi menjemput Nata ke rumahnya. Dan Nata pun sudah siap dengan pakaian rapih. Hhmm,, kebetulan sekali aku seruangan dengan Nata karena, Nata awal namanya dari N dan aku juga dari N, dan nomor Unnya juga berdekatan karena dari 6 sd sampai SMA aku dan Nata selalu sekelas. Lebih untungnya aku kan bisa melihat jawaban NaTa. Ooppss udah niat ga bener tuh! Ga jadi deh niat nyonteknya. Hehee
Sebelum masuk kelas, aku menitipkan helmku ke penjaga sekolah, yaitu mang Sarif, yang berasal dari jawa tengah, baik, sopan, suka diajak bercanda juga lo sama aku. Bel berbunyi. Tetapi sebelum masuk ruangan, kami kelas 12 . kami diberikan petunjuk dan penjelesan akan mengikuti Try Out ini. Hatiku merasa gugup namun senang. Aku berada di ruangan 4.
Di dalam ruangan aku melihat Nata sedang asik mengerjakan soal-soal try out, tanpa kebingungan, akan tetapi aku sendiri kadang bertanya dan kadang bingung. Try out hari pertama selesai, hari ke 2 dan ke 3 sama seperti biasa. Try Out pertama pun selesai. Alhamdulillah leganya.
Kembali lagi aku kesekolah untuk belajar seperti biasa. Hasil try out pun tiba, ternyata hasilku tidak begitu jelek, yang penting lulus. Dan kulihat hasil try out Nata wow! Sungguh luar biasa, nilainya hampir sempurna.  Akan tetapi hari-hari ini sangat aneh, tidak ada Nata. Aku sms tidak ada balasan, aku menelfonnya handphone nya tidak pernah aktif.ada apa ini? Dalam hati terus bertanya-tanya. Aku khawatir dengannya.
“Nas, Nata kemana sih? Ko jarang masuk? Malah udah dua minggu loh! Kan bentar lagi Try Out terakhir. Kalau dia ga ikut bisa ga lulus  tuh!” tanya Hani.
                 “gue juga ga tau ni, kemana dia lost contact gue ma dia. Gue ke rumahnya ga pernah ada jawaban. Tapi gue yakin dia lulus ko!” jelas ku.
“iyah tapi, kalo udah dua minggu ga ada surat keterangan gini mau gimana? Yang tiga hari gak ada surat keterangan juga udah di pertimbangin apalagi 2minggu?” balas hani.
Aku tidak menjawabnya kembali. Sungguh ke khawatirannku sangat kuat. Apa dia ada masalah keluarga? Masalahnya apakah besar? Atau dia sedang sakit dan dirawat di rumah neneknya? Dipikiranku selalu ada pertanyaan-pertanyaan tentang kamu Nata. Cepat kembali nat.
TAKE 5
Try out terakhirpun tiba, Nata tidak hadir kembali, aku sedih melihatnya. Kegelisahan selalu hadir di hati dan pikiranku. Kemana kamu Nata? Aku harap kau ada!
Sepulang Try Out, aku dan teman-teman pergi bermain dulu atau istilahnya Hang Out di cafe. Tanpa Nata. Itu yang aku pikirkan. Walaupun aku tertawa, tapi tetap saja ada yang mengganjal di pikiranku, kemana Nata? Kemana Nata? Kemana sahabatku?
“Nas lo mikirin Nata?” tanya Rendi.
“iyah keliatannya gelisah banget?” lanjut Guntur.
“iyah, gue mikirin Nata. Gua takut Nata kemana? Gua khawatir, kan bentar lagi UN?” jawab ku.
“mmm emang lu nyangka dia kemana?” tanya Dila.
“gue nyangkanya di sakit di rumah neneknya.” Jawabku dengan penuh harapan.
“ya udah kita cari ke sana!” seru Rizal.
“iyah bener zal! Kita bantu deh! Lu taukan rumah nenek nya?” seruu loli.
“gue gak tahu. Itu masalahnya.”jawabku pasrah.
“yyaaaahh,, mmmm ya udah lo sabar aja, kita doain aja, besok Nata masuk sekolah yah!” omong tenang Caca.
“aamiiiiiiiinnnnnn!!!!!!” jawab kami serentak.
TAKE 6
Kemarin aku, Randi,Galih,Rizal,Bobi,Farah,Hana,Hani,Caca,Guntur,dan Loli. Ketika sedang bersantai di cafe. Mendoakan kamu Nata agar kamu ada di sekolah kembali. Hari terus berjalan, hampir 3 minggu Nata tidak hadir. UN di depan mata. 1minggu lebih UN akan di mulai.
Hari ini hari Selasa. Aku senang melihatnya, Nata datang. Nata telah duduk dibangku yang telah 3 minggu aku tempati sendiri. Dia tersenyum kepadaku. Aku memluknya erat, teman-teman sekelaspun ikut senang. Aku belum smpat bertanya, aku masih memeluknya.
“Nasya maafin aku yah, udah lama ga ada kabar.” Omongnya lembut.
Aku meneteskan air mata, “kenapa harus minta maaf? kejadian yang lalu biarlah berlalu Nat. Asal sekarang kamu jangan kaya gitu lagi.” Jawabku mengikuti perkataan Nata ketika aku masuk BP.
“apakah kamu mengikuti perkataanku nas? Haha” celotehnya.
Kami berdua tertawa bersama. Bel masukpun berbunyi. Ibu Fida guru bahasa Indonesia dan juga wali kelas kami, masuk kedalam kelas. Dan membagikan kartu Ujian Negara.
   “anak-anak, hari ini tidak ada kegiatan belajar mengajar, karena akan diadakannya rapat tentang Ujian Nasional kalian yang akan segera dilaksanakan pada tanggal 15 April 2010. Di sini ibu akan membagikan kartu ujian kalian, ibu panggilkan satu persatu.” Jelas ibu Fida.
Ibu Fida pun membagikan kartu ujian dan memanggil satu-persatu anak kelas. Rasanya masa depan semakin dekat. Tak  lama kemudian, namaku dan nama Nata dipanggil untuk membawa kartu ujian itu. Setelah bu Fida membagikan katu ujian, aku dan Nata pulang, dan akan pergi kerumah Nata. Sesampai dirumah Nata, perasaan ku sangat heran, kenapa rumah Nata berbeda? Suasana yang aneh. Ketika aku melihat ke kamarnya Nata, disana banyak sekali obat-obatan. Akupun bertanya kepada Nata.
“Nat? Ko banyak obat-obatan?dikamar lo?” tanyaku heran.
“hah? Itu obat-obatan nenek ku, kemaren sakit.” Jawabnya yang memang kurang meyakinkan.
“oh serius?”balasku yakin.
“iyah Nasya.” Jawabnya lembut.
Aku yakini sajah. Akan tetapi,hatiku belum meyakininya. Entah obat apa itu? Aka tidak kembali bertanya. Seperti biasa,didalam rumah Nata sangat sepi. Tiba-tiba ada yang membukakan pintu rumah, aku pun melihat ke arah pintu, ternyata yang membukakan pintu itu adalah Nisa adiknya Nata. Adiknya Nata tersenyum ramah kepadaku aku pun kembali tersenyum. Ketika aku pamit akan pulang adiknya Nata berkata.
“ka Nataaaa cepet minum obat!” teriaknya  agak pelan.
“sssttt kamu jangan bilang begitu!” balas Nata sambil menutup mulutnya Dian.
Aku melirik Nata, Nata hanya tersenyum. Lirik ku heran, ada apa ini? Kenapa Nata di suruh makan obat? Dia sakit apa? Aku tidak terlalu memikirkannya dulu. Aku  menaiki motor matic ku,lalu aku menuju ke rumah. Sampai dirumah, aku langsung pergi ke dalam kamarku. Di dalam kamarku, aku memikirkan Nata. Lalu, aku letakkan tubuhku ini diatas kasur yang tidak begitu empuk. Aku berfikir, apakah Nata baik-baik sajah? Kenapa dia harus memakan obat sebnyak itu? Apa memang benar apa yang dikatakan Nata semua obat itu milik neneknya? Sungguh membuat ku bingung. Masih ku ku terbaring di atas tempat tidurku. Kemudian aku menarik bantal guling yang ada di bawah kaki ku. Tak lama aku berbaring sambil memikirkan Nata, mataku ku pejamkan. Dan akupun terlelap tidur.
Aku tidur tidak terlalu lama, hanya satu jam saja. Karena suara ketukan pintu kamarku yang membuatku terbangun.
“ tuk tuk tuk.. Nasya... Nas! Nasya banguuunn woy!” teriak suara di balik pintu itu.
Akupun terbangun,lalu ku buka pintu kamarku. Mmm menjengkelkan. Ternyata yang mengetuk pintu adalah kakaku. Dengan wajah malas ku bertanya.
“ada apa sih? Ganggu kenikmatan orang aja!” tanyaku dengan kesal.
“yeeee sewot! Gue mau ngajak lu maen! Yuu ikut!” jawabnya.
“hah? Tumben! Ngapain?” jawabku kembali aneh.
“anter beli nasi goreng aja! Yah! Gue tlaktir deeh!” ajaknya.
“ ayoo! Seriuss ya  tlaktir.” Seruku girang.
Kakaku menganggu sambil berangkat. Dia mengambil motornya yang dia bilang keren banget itu! Padahal biasa aja! Aku mengikutinya dari belakang. Di jalan, kakaku menggunakan motornya tidak terlalu cepat, di perjalanan, aku melihat dua orang yang mirip sekali dengan Nata dan kakak laki-lakinya. Orang memasuki sebuah rumah sakit. Aku tidak sempat melihat wajahnya. Ketika aku melihat orang itu, dipikiran ku hanya ada Nata. Apakah itu benar Nata? Tp kalaupun benar Nata buat apa dia pergi kerumah sakit dengan kakaknya? Ahh mungkin itu orang lain, Di dunia ini banyak orang yang wajahnya mirip walaupun bukan saudara kembar bahkan saudara biasa. Aku berfikir  positif, dan jika aku masih penasaran dengan orang itu, yang mirip dengan Nata besok bisa aku tanya dia.

TAKE 7
Keesokan harinya, ketika aku akan pergi ke  sekolah, aku menerima sms dari Nata, dia berkata, “hari ini aku tidak pergi kesekolah dengan mu, aku baru saja pergi  jalan kaki,kamu pergi sendiri saja. Maaf tidak menunggumu.” Dengan menggunakan tanda senyum di akhir kalimatnya yang lembut itu. Tinggal menghitung hari, Ujian Nasional akan dimulai. Ya, 3 hari lagi siswa kelas 3 SMA. Itu membuatku takut, gugup dan semangat belajar pun meningkat!
Sesampainya di dalam kelas, aku melihat Nata dia duduk dan sedang membaca buku. Kemuadian aku mendekati Nata dan menyimpan tas lalu aku duduk disampingnya. Nata tersenyum ramah seperti biasanya. Akan tetapi aku melihatnya heran.
“selamat pagiii Nata!” sapa seseorang di belakang Nata. Nata pun menjawab dengan senyuman. Dan ternyata dia adalah Bobi cowo yang suka ke Nata itu loo!
“heh bob, so imut lo! So akrab! Ngomong kalo suka sama Nata!” ledekku kepada Bobi.
“yyeee apaan si lu! Kan cuman nyapa aja! Sebagai orang muslim, kita kan harus saling menyapa. Ya kaann Nat?” jelas Bobi so imut.
“ nyapa-nyapa! Ke Nata aja? Ke gue engga gituh? Dasaarr!” balasku tegas.
“addaa ibuu heyy addaa ibuu!!!” teriak Randi.
Serentak seperti biasa anak-anak dengan cepat menuju tempat duduknya masing-masing.
“selamat pagi anak-anak! 2 hari lagi kita akan diadakan Ujian Nasional, apakah kalian telah menyiapkan semuanya?” tanya guru bahasa Inggris. Yaitu bu Rida.
“ udaahh bu!” jawab anak kelas ku serentak.
“ bagus, kita sekarang membahas tentang soal-soal latihan Ujian Nasional yah!” omong Bu Rida.
Semua anak2 kelas pun memperhatikan Bu Rida yang sedang menerangkan. Akan tetapi, ketika aku melihat Nata dia seperti tidak konsentrasi dalam memperhatikannya. Aku heran, ketika aku melihat wajahnya, dia sangat pucat, lemas. Kekhawatiranku datang kembali. Setelah selesai belajar disekolah, aku mengajak Nata pulang bersama. Sebelum kita pergi pulang aku bertanya kepada Nata.
“nat,kemarin lo pergi ke rumah sakit dengan kakak lo ga?” tanyaku ceplos.
“hah? Kapan? Aku.. aku.. aku ga pernah pergi kerumah sakit.” Jawabnya dengan gugup. Aku melihatnya heran, dan kenapa akhir-akhir ini aku selalu di buat khawatir dan heran oleh Nata.
“oouh. Kenapa kamu pucat sekali?” tanyaku kembali.
“ga tau, mungkin lapar kali, hehehe.” Jawabnya dengan candaan.
“makan dulu yu di cafe!” ajakku.
“mmmm ngga ah, aku makan di rumah aja, adik dan kakaku sudah menunggu ku dari tadi.” Jawabnya.
Kemudian aku pergi mengambil motor ku, ketika ku ajak Nata ternyata dia sedang asik ngobrol sama mang Sarif, duuh ada apa nii? Hehee. Di perjalanan.
“Nata, belajar bareng yu! Di rumah ku! Tar jam 4 sore aku jemput! Kamu tunggu di depan rumah yah!” ajakku.
“okke baik! Aku tunggu yah!” jawabnya dengan senang hati.
Setelah mengantarkan Nata kerumahnya akupun sampai di rumah ku. Lalu aku langsung menuju kamar seperti biasa, sebelum aku mengganti baju seragam, handphone ku bergetar, ku lihat ternyata ada sms dari Azi, pacarku.. hehe! Ternyata dia mengajakku untuk pergi. Dan tak lama dari sms itu datang, Azi lasung menelponku.
Di telpon:
“haallooo sayang. Hehe jalan yuu! Kita pergi ke cafe atau apa gituh! Sebelum ujian kan ada refresing dulu dong!hehe” ajak Azi.
“hhmm, haha ayoo! Bete nih dirumah.”jawabku. Aku melupakan perjanjian belajar bersama Nata. Itu selalu aku lakukan. Tapi, Nata tidak pernah sekalipun kesal apalagi marah kepadaku.
“aku jemput yah sekarang kerumah mu.” Seruunya.
“okkkee aku tungguu yaang!!!” girangku. Langsung aku mengambil baju yang menurutku bagus dan pantas untuk dipakai.
Ketika aku keluar kamar,di ruang tamu sudah ada Azi yang sedang mengobrol dengan ayahku. What? Ayahku? Ngomongin apa aja tuh, jangan sampe jauh-jauh dulu deh baru juga mau keluar SMA. Pikirku. Ternyata, mereka hanya mengobrol biasa.
“udah siap Nasya?” tanya ayahku.
“iihh ayah mau ikut campur aja!” jawabku malu.
“eehh emang gak boleh yah nanya gitu?” balas ayah.
“nggaa boleh ko boleh! Yu zi kita berangkat!” omongku. “ayah aku pamit yah!” pamitku.
“marii om pergi dulu.” Pamit Azi.
“iyah  hati-hati kalian, jangan lama-lama maennya satu hari lagi Ujian Nasional.”teriak ayahku, karena kita sudah mulai pergi.
Kita pergi dari pukul 03.30 dan pulang ke rumah pukul 18.30. tidak terlalu lama. Sesampai dirumah, ku lihat keruang tempat kumpul keluarga, disana ada ayah,ibu,dan kakak ku yang melihatku baru pulang bermain, mereka meledekku dengan ledekan.”yang habiss pacaraan nii.” Uuhh betapa malunya aku. Aku langsung lari ke kamar. Lalu aku pergi untuk mandi. Setelah mandi, aku kaget!
“ya ampuuunn lupa! Pukul 04.00. aku kan ada janji sama Nata buat belajar bersama!” omongku sendiri! “aku harus menelpon Nata!” omongku kembali.
Ketika ku telpon:
“halooo Nat?” omongku cemas,  karena aku takut dia marah.
“assalamualaikum? Iyah ada apa Nasya?” jawabnya dengan lembut dan seperti tidak memikirkan janji yang tidak aku tepati itu.
“nas, maagin gue! Tadi gue ga dateng jemput lo! Sumpah gue bener-bener minta maaf!” mohonku.
“mm iyah ga kenapa-kenapa ko, santai aja, aku ngerti ko! Ga usah di permasalahin yah, asal jangan di ulangi lagi aja. Hehe” jawabnya tanpa meragukanku.
“yang benar? Maaf yah! Hehehe besok gue jemput yah ke sekolah?” ajakku.
“ngga usah, besok aku diantar kakakku. Soalnya kakakku lagi libur kualiah.” Jawabnya.
“ouuh ya udah daah good night my sob!” obrolku. Kututup telponku, dan kubaringkan tubuhku di tempat tidur. Aku merasa sangat lelah. Aku tiba-tiba terlelap.
TAKE 8
Keesokan harinya, yaahh hari-hari terakhir aku berada di jalan yang lumayan santai tapi mendebarkan. Karena keesokan harinya akan diadakan Ujian Nasional yang akan menentukan masa depan. Hari ini tidak ada kegiatan belajar mengajar, kita semua harus membersihkan kelasnya masing-masing. Sebelum ku bersihkan kelasku, aku mencarii.... Nata, yah Nata! Dia kemana? Katanya akan diantarkan oleh kakaknya, akan tetapi, sampai bel berbunyi dia belum datang juga. Hhhmmm kekhawatiran dan kecemasanku datang lagi.
“Far, liat Nata ga?” tanyaku kepada Farah yang sedang menyapu kelas.
“ngga, kenapa? Dia ga hadir lagi?” tanyanya balik.
“iyah! Ga tau ini! Padahal besok kan UN! Gue cemass nih!” jelasku kepada Farah.
Lalu akau bertanya kepada Guntur, dia tidak melihatnya. Dan aku bertanya kepada Galih tetap dia tidak melihatnya. Aku bertanya kepada Dila tetap saja dia tidak melihatnya. Aku mencarinya kemana-mana dia tidak ada. Sampai pada saat kita pulang sekolah, dia tidak ada kabar. Hari ini aku tidak terlalu memikirkan Nata. Aku fokus dengan belajar, karena besok Ujian Negara. Sampai malampun, Nata tidak ada kabar. Aku biarkan sajah.
Keesokan harinya tanggal 10 April  2010. Ujian Nasional di laksanakan. Hatiku berdebar, gugup. Ketika ku lihat ke sekeliling, akhirnya Nata ada. Aku mendekati nya. Lalu bertanya.
“hey nat! Kemaren lo kemana?” tanyaku heran.
“a..aa..aaku.. mmm pergi kerumah nenek. Soalnya nenek lagi sakit. Terus gak ngabarin kamu, handphone ku ketinggalan di dalam kamar ibuku.” Jawabnya yang kurang meyakinkan dan gugup.”
Belpun berbunya tanda kami akan memulai perang yang menentukan masa depan kami. Aku memasuki ruang 4. Dimana ruang 4 adalah ruangan ujian ku dan Nata. Pertama kali ku lihat Nata mengerjakan dengan rasa gelisah. Aku melihatnya heran. Tapi aku berfikir positif. Masa seorang Juara kelas Juara segalanya tidak lulus dari ujian? Itu mustahil. Pikirku.
Ujian Nasional telah aku lalui dengan lancar. Kami semua berdoa agar kami lulus dalam Ujian ini. Dan bisa meneruskan ke Universitas yang kami inginkan. Beberapa minggu sampai satu bulan, kami kelas 12 menunggu hasil UN tersebut dan menunggu Kelulusan.
Tepat pada tanggal 29 Mei 2010, pengumuman kelulusan akan di berikan. Kami harus membawanya sendiri. Beberapa pengumuman di umumkan oleh kepala sekolah. Dan beberapa guru membagikan surat kelulusan. Uuuhh sangat mendebarkan!
“anak-anakku sekalian, apapun Nilai yang ada di dalam kertas itu Lulus atau tidaknya, kalian harus tetap bersemangat!” pesan Bapak kepala sekolah.
Entah kenapa, aku langsung melihat Nata, dia hanya tersenyum membalas lirikkan ku. Aku merangkulnya. Lalu, Nata mengajakku untuk tidak dulu membuka surat kelulusan itu.
“Nasya, aku ingin kita membuka surat kelulusannya bersama. Tapi jangan sekarang, aku mau kita membukanya nanti pukul 05.00 di sekolah ini. Aku ingin menunggu sekolah ini sepi dan hanya kita yang tau dalam membuka surat kelulusan ini. Aku mohon, ini permintaan terakhirku.” Mohonnya kepadaku. Apa? Permintaan terakhir? Aku sempat tidak berpikir dengan omongan permintaan terakhirnya itu.
“okeeyy! Aku akan datang tepat waktu. Di sekolah ini!” jawabku.
“apakah kau berjanji? Dan tidak akan mengingkari janji ini?” lanjutnya seperti  meragukanku.
“siiaapp Nata Syara aku janji!” jawabku meyakinkannya.
Dan tak lama kemudian, siswa kelas 12 serempak membuka surat kelulusannya. Alhamdulillah semuanya terbilang Lulus. Hanya aku dan Nata yang belum membukanya. Teman-teman sekelasku menatap heran, dan kemudian aku menjelaskan kenapa aku dan Nata tidak membukanya. Untungnya mereka mengerti.
Ketika telah dibagikan kelulusan, kami siswa kelas 12 di pulangkan agar memberikan kabar baik kepada keluarganya. Ketika aku akan pulang, Azi memegang tanganku.
“yang jalan yu! Ngerayain kelulusan gittuhhh!” ajaknya.
“kemana?” tanyaku.
“yaa kemana aja gitu!” jawabnya.
“ajak Nata yuuu!!!” omongku.
“iihh ini khusus kita berdua aja yang.” Jelasnya.
“ya udah, ayo! Tapi aku bilang sama Nata dulu yah!” omongku kembali.
“ga usah yang, tadi aku udah bilang. Dia bilang ya udah ga apa-apa.” Jelasnya. Entah benar atau tidak omongannya itu.
Lalu aku diantarnya pulang ke rumah. Di rumah begitu sepi, ayah, ibu, dan kakak pergi ke luar kota. Aku tidak ikut karena akan ada pembagian kelulusan. Tak lama kemudian aku telah bersiap untuk pergi bersama Azi. Entah kenapa, janji itu aku lupakan lagi. Ya ampuunn di sinilah penyesalanku mulai terasa. Aku pergi bersama Azi sampai malam, aku lupa dengan janji ku kepada Nata untuk membuka surat kelulusan.
Di sekolah..
Nata sedang duduk sendiri tepat pada pukul 17.00, dan kemudian mang Saleh bertanya.
“neng Nata ngapain disini udah sore? Gerbangnya mau di tutup lo!” tanya mang Saleh penjaga sekolah kedua.
“aku lagi nunggu Nasya mang, kita mau membuka surat kelulusan bersama di sini. Jadi aku mohon jangan tutup dulu yah mang, nanti kalau dia datang aku yang menguncinya.” Jelasku.
“oh gitu toh, ya udah neng mamang juga mau nginep di sekolah jadi, biar mamang aja yang pegang kuncinya, nanti kalo udah di buka suratnya, terus mau pulang kasih tau mamang yah.” Jelas mang Saleh.
“iyah mang makasih. Sebelumnya.” Omong Nata.
Ketika Nata sedang duduk di halaman sekolah, Bobi  melihat Nata. Bobi langsung mendekati Nata.
“Nata, ngapain di sini? Pulang yu! Itu surat kelulusan belum dibuka?” tanya bobi kpada Nata.
“aku lagi nunggu Nasya. Iyah, aku berjanji sama Nasya mau membukanya bersama. Oh iyah bob, apakah kamu mau menemaniku disini?” jelasnya dan ajaknya.
“ohh, udah malam gini emang Nasya mau datang? Kan dia tadi lagi kencan sama pacarnya. Mungkin aja kan dia udah buka surat kelulusannya, atau mungkin dia lupa sama janjinya. Jadi kamu buka aja surat kelulusan mu terus kamu pulang, yah ini udah malem Nat.” Omongnya kepada Nata.
Nata tersenyum. “ngga Bobi aku percaya sama Nasya.” Jawabnya tenang.
“ya udaahh aku temenin kamu yah!” tersenyum ramah dan tenang kepada Nata. Ketika Bobi melihat nata. “Nat, kenapa kamu pucat? Kamu sakit? Sepertinya kamu lemas sekali.” Cemasnya.
“aku baik, ga kenapa-kenapa kok!” jawabnya pelan dan tenang.
“ya udah aku beliin makanan dulu yah, oh iyah besok kita kesekolah lagi kan buat latihan perpisahan 2 minggu lagi?” tanya bobi sebelum pergi membeli makannan.
“iyah, kamu harus datang yang bob, aku belum tau datang atau ngga datang. Iyah makasih udah mau ngebeliin makan.” Tersenyum tenang.
Bobi tersenyum seperti tak mau meninggalkan Nasya, walaupun hanya akan membeli makanan saja. Dan jaraknya tidak terlalu jauh. Ketika Bobi pergi, Nata mengeluarkan foto Nasya dari kantong celananya. Dia terus menatapnya dengan air mata. Tiba-tiba, darah menetes dari hidung Nata dan mengenai foto Nasya. Nata menangis menatapnya. Dan  iya berpikir akan membuka surat kelulusan itu sendiri saja.
Di Cafe..
Aku sedang asik mengobrol dengan Azi, kemudian Azi memaksa agar aku membuka surat kelulusanku. Dan akhirnya aku pun ingat! Ingat dengan janji ku kepada Nata, aku meletakkan tanganku di mukaku, aku mengingkari janji Nata lagi, perasaan menyesalku sudah terasa. Tapi akau hanya berpikir, besok aku akan meminta maaf kepada Nata di sekolah, dan menjelaskan apa yang terjadi. Pikirku tenang. Dan lagi-lagi Azi memaksaku agar cepat membuka surat kelulusan. Lalu aku mengajak Azi untuk kerumah dan melihat surat kelulusanku.
Ketika sampai di rumah, aku cepat mengambil surat kelulusan itu yang memang aku tunggu-tunggu. Tapi hatiku sungguh tidak enak. Merasa sangat bersalah, kemudian Azi menenangkanku.
“mungkin Nata sudah membukanya dari sejak dia menunggu, dia mungkin tidak menunggu sampai semalam ini. Dari sejak tadi mungkin dia sudah pulang kerumahnya. Dan besok kamu bisa kan bertemu dengan Nata?” omongannya untuk menenangkanku.
Kemudian aku membukanya dan ternyata hasilnya aku.... LULUS... aku bersenang hati dan bersyukur. Azi pun ikut bersenang.
Di sekolah,, Saat Nata membuka surat kelulusannya, dan ternyata hasilnya TIDAK LULUS dia terdiam, dan melihat foto Nasya, darah kembali keluar dari hidungnya. Ketika dia melihat foto Nasya, dia tersenyum dan tiba-tiba saja.. dia tak sadarkan diri. Beberapa menit kemudian Bobi datang membawa makanan.
“Nata ini aku belikan maka................” Bobi terkejut meilhat Nata yang sudah tak sadarkan diri. Ia tak memperdulikan makanan yang baru ia beli itu. Ia langsung merangkul Nata yang sudah tertidur kaku.
Sedangkan aku? Aku bersenang-senang. Dan tak lupa mengabari ayah,ibu dan kakakku di luar kota yang akan pulang besok malam. Aku melupakan Nata. Aku melupakan Janjinya. Aku melupakan kabarnya. Padahal Bobi terus menelfon ku yang tidak aku angkat, karena handphone ku tidak ku bawa.
TAKE 9
Keesokan harinya, ketika aku melihat handphone ku, banyak sekali panggilan dari Bobi dia me manggilku sebanyak 6 kali. Aku tidak langsung memberi sms atau telfon Bobi, karena hari ini kita pasti bertemu di sekolah. Dan aku ingin segera pergi ke sekolah juga, untuk memberikan kabar baik untuk Nata. Di sekolah, aku melihat mading sekolah penuh di kerumuni orang-orang banyak. Dan akupun penasaran. Segera saja aku menerobos untuk melihat mading yang membuatku penasaran itu. Deg! Hatiku hancur. Air mataku tak dapat kubendung lagi. Aku tak tau harus berbuat apa? Aku menyalahi diriku sendiri. Setelah aku melihat pengumuman yang ada di mading itu.
INNALILLAHIWAINNAILAIHI RAAJIUN
TELAH BERPULANGNYA KE RAHMATULLAH. SEORANG INSAN YANG BERNAMA “NATA SYARA AZWA” KEMARIN MALAM TANGGAL 29 MEI 2010. Dikarenakan penyakit yang sudah lama di deritanya yaitu “Leukeumia” semoga amal ibadahnya diterima oleh Allah SWT. Amiiin
Turut berduka cita
Kami segenap guru.

Hatiku benar-benar hancur! Aku terus menangis dan menangis, teman-temanku memelukku, menenangkanku. Terutama Azi, ia ada di sisiku dan menenangkanku. Kemudian aku berlari menuju rumah Nata. Disana ada Ibu, ayah, kak Rio, dan Nisa yang sedang berkumpul dan bersedih. Aku melihatnya dengan tatapan yang penuh dengan air mata. Yang Nata inginkan berkumpul besama keluarganya. Termasuk ayahnya. Dan sekarang, ayahnya ada berkumpul sekeluarga. Akan tetapi Nata, Nata sudah Tiada. Aku memeluk erat ibunya. Dan aku masuk kedalam kamar ibunya. Di atas kasur Nata, ada dua buah surat dan satu foto ku dengannya. Ketikaku buka surat yang pertama, ternyata itu adalah sebuah surat kelulusan yang menyatakan Nata tidak lulus. Aku menangis kembali. Aku membayangkan betapa bodohnya aku!
Dan aku membaca surat yang kedua. Dengan isi yang sangat menyentuhku. Dan membuatku sangat menyesal.
Assalamualaikum wr.wb.
Apa kabarmu Sahabat ku? Aku menyayangimu, aku harap kau tau betapa aku sangaat menyayangimu. Aku ingin setelah kau membaca surat ini, kamu menjengukku. Aku sengaja tidak memberi tahu mu tentang penyakitku yang telah lama aku derita. Karena aku tidak mau menyusahkanmu, tidak mau kalau kamu mencemaskan ku. Jika aku sudah tiada nanti, ku harap kau menyimpannya,dan menyimpan semua kenangan kita dari waktu kita sd,smp,dan sampai saat ini SMA. Ketika nanti dibagi kelulusan, aku ingin kita membuka surat kelulusannya berdua di sekolah, hanya itu yang ku inginkan. Apakah kau bisa melakukannya? Dan ketika kita buka surat kelulusan itu bersama, aku dan kamu tersenyum dan menangis bahagia dengan kelulusan yang menyatakan kita berdua LULUS. Lalu, kita bersekolah di Universitas terkenal di Indonesia ini. Dan meraih masa depan bersama. Itu hanya sebuah harapan ku, tapi untuk mu? Itu akan menjadi sebuah kenyataan. Maafkan aku sahabat, jika aku tidak pernah mengabarimu dan membohongimu. Aku harap kau bisa mamaafkanku. Aku tidak akan pernah menyimpan dendam untuk mu sahabat. Sahabat, berjuanglah untuk masa depanmu. Karna itu tidak akan bisa ku lakukan lagi, aku sudah tak berdaya, sekarang aku menjadi lemah, tidak seperti yang kamu pikirkan lagi, kalau aku seorang yang tidak pernah putus asa! Itu yang selalu kau katakan, tapi kali ini tidak. Aku seorang anak yang lemah! Terimakasih sahabat, kau telah membuat hari-hariku selalu berwarna!
Untuk sahabat tercintaku Nasya Putri Rahman

Nata Syara Azwa 22 Mei 2010

Itulah surat terakhir dari nya! Aku benar-benar menyesal, aku tak tahu kalau malam itu malam terakhir dia ada di bumi ini. Selamat jalan sahabat terbaikku aku tidak akan pernah melupakanmu, aku akan selalu mengenangmu. Maafkan aku sahabat!
Penyesalan tidak akan datang dari awal.”

SEKIAN
#Maaf nih yaa kalo banyak kesalahan di dalam penulisan :) baru belajar nih~

1 komentar:

  1. Banyak kata, Panjang, Bagus, Keren, Rapih, :v
    dan soal penyesalan, yah begitulah, menyesal itu menyakitkan... Disana kita benar-benar sadar bahwa waktu itu sangat berharga, ia takkan datang kembali.. :) Salam

    BalasHapus