~ini sebuah cerita karangan saya baca deh Seru looh~
PENYESALAN
Kisah
ini diambil dari kisah masa lalu ku. Dimana, kisah ini tidak akan pernah aku
lupakan. kisah dimana telah terjadi 3 tahun yang lalu. Kisah dimana yang
sangat menyesalkan diriku. Dan mungkin aku akan terus menyalahi diriku. Inilah Kisahku.
Inilah sekolahku,orang-orang bilang,sekolahku bagus, baik dari segi prestasi dan juga
dari kegiatan ekstrakulikulernya, gak kalah ko sama sekolah-sekolah lain. Aku selalu menjalani hari hari ku di sekolah dengan
canda,tawa dan kegembiraan bersama teman temanku terutama sahabatku. Terkadang
aku suka bosan berada di sekolah dengan pelajarannya, akan tetapi sahabat
terbaikku selalu mengingatkanku
dan terus mendukungku untuk bersemangat ketika mengikuti
pelajaran.
Ya,
itulah sahabat ku, dia bernama NATA SYARA NAZWA , kita sebut saja “Nata” dia sangat
rajin, tidak pernah melanggar peraturan sekolah,baik hati,dan selalu
mendapatkan Juara petama di dalam kelas maupun diluar kelas, dia tertib,
disiplin, dan tidak pernah menyombongkan kepintarannya,selalu membantu temannya
yang kesulitan, bahkan saking baiknya, dia pernah mengerjakan tugasku sempai
malaman. Hehehe.. terkadang aku suka iri dengan sifat baiknya. Sunggu
bertolak belakang sifat nya dengan sifatku. Seperti biasa,
aku pemalas, kadang juga rajin, yang aku pentingkan adalah bermain bercanda dan
bersenang senang bersama teman, Nata, dan juga Pacarku. Hehe
Uuooppss!
Pacarku? Ya dia memang pacarku, yang baik hati,pengertian,juga selalu mengerti
keadaanku, dia tidak pernah selingkuh dong terutama... hubungan kita telah
terjalin selama 1 thun. Teman-teman ku suka heboh kalau aku lagi berduaan di
halaman sekolah mereka bilang hubangan kami sangat cocok dan romantiiisss. Nama
pacarku AZI RAINAL. Intinya dia sangat baik dan tampan pula! Hehehe
Ups
hampir lupa, ini lah aku. Sekarang aku duduk di kelas 3 SMA bisa disebut juga
kelas 12. Namaku NASYA PUTRI RAHMAN. Mmmm nama Rahman di ambil dari nama belakang ayahku.
Terkadang aku juga suka kesel dengan nama itu teman-teman ku meledekku dengan
sebutan PAK RAHMAN. Akan tetapi itu hanya ledekan biasa. Ketika aku bertanya kepada
ibuku, ibu hanya menjawab nama itu sebuah titipan dari ayahmu, jika ayah sudah
tiada mungkin ayah akan terkenang dengan menyimpan nama belakangnya di namaku.
Keluarga ku keluarga yang sederhana. Aku mempunyai satu orang kakak laki-laki.
Yang bernama RIZKY PUTRA RAHMAN. Nama ayahku selalu dipakai. Hehe oh iyah dua bulan lagi
ada UN (ujian Negara). Huh disanalah perjuanganku dimulai. Dan sebentar lagi
aku akan mencapai cita-cita. Kuliah di universitas terkenal, dan menjadi orang
yang paling berguna di negara ini. Itulah impianku dari dulu dengan sahabatku
Nata. Tapi dalam masalah kerajinan da kecerdasan aku dan Nata bertolak
belakang.
Eh
kelamaan cerita. Yuk kita mulai ceritanya dariiii. Mmm sini ajah!
TAKE 1
Di
pagi hari tepat pukul 05.00 jam alarm ku berbunyi, mmm itu yang membuatku sangat
kesal, hari ini, hari Senin. Dimana hari ini aku kembali kesekolah setelah satu
hari kemarin tidak pergi kesekolah alias libur (minggu)..hari yang menyebalkan
karena adanya UPACARA. Pernah berfikir gunanya upacara apa sih? Eh sahabatku Nata menjawab kita upacara
untuk mengenang para pahlawan kita yang dulu, jadi jangan pernah meremehkan
upacara soalnya para pahlawan kita berjuang mati-matian demi memerdekakan
negara kita INDONESIA. Yaah kalah lagi pikir ku nanya ke Nata. Soalnya dia rajin sih
harusnya aku nanya ke orang yang juga malas kaya aku. Tapi baiknya aku jadi
semangat mendengar ceramahnya Nata. Hehe
Eh
hampir lupa pukul 05.10 aku langsung ambil wudhu, untuk shalat subuh. Walaupun
pemalas, dalam beribadah aku tidak pernah malas. Setelah shalat aku langsung ke
kamar mandi dengan cepat.
“wooooyyyy
cepet mandinya!!!” teriak kakak ku.
“la
la la la la la la.....!” jawabku dengan nyanyian.
“heh
anak so imut! Cepet dong mandinya gue ada jadwal kuliah pagi niiiiii!!!” teriak
nya juga.
“suruh
siapa telat bangun? Makannya punya uang tabung buat beli jam bekker!” ledek ku
kembali.
Kakak
tidak kembali menjawab! Mungkin dia marah atau mungkin dia mandi di kamar mandi
yang berada di kamar ayah dan ibu. Aaah itu semua aku abaykan, kembali lagi aku
membersihkan tubuhku untuk nanti ke sekolah. Hampir setiap pagi aku dan kakak
ku ribut berebut kamar mandi. Karena di rumah kami hanya ada dua kamar mandi.
Satu di kamar ayah dan ibu satu lagi, ya di dekat dapur! 30 menit sudah aku mandi.
Ku lirik jam ternyata pukul 05.40! WOW! Lama juga ya aku mandi hehe.. dengan
buru2 aku mengambil seragam sekolah ku Putih-Putih. Untungnya buku-buku dan
topi upacara sudah aku siapkan dari malam.
Pukul
06.15 kami sekeluarga makan pagi di meja makan seperti biasa. Kakak ku begitu
cemberut melihatku, ah mungkin dia masih marah. Aku tanya saja dia.
“
masih ngambek kak? “ tanya ku polos
“
iyah.” Jawabnya singkat
“
oh ya udah deh, minta maaf aja.”balas ku kembali.
“kenapa
ini ko kalian berdua marahan?” tanya ayahku.
“
ga kenapa-kenapa, biasa kamar mandi.” Jawabku dengan ledekan sambil melihan
kakaku.
Kami
semua tertawa hanya saja kakak ku masih cemberut! Iih males banget punya kakak
kaya gitu! Pukul 06.30 aku berangkat sekolah. Aku ke sekolah menggunakan motor
matic ku, sekolahku tidak terlalu jauh. Sebelum ke sekolah, aku pergi untuk
menjemput Nisa yang mungkin udah nunggu beberapa menit lalu di rumahnya.
Sesampainya di rumah Nisa,benar saja dia udah nunggu dengan pakaian rapih di depan rumahnya.
“Udah
lama nunggu Nat?” tanya ku.
“ngga
baru aja keluar rumah.” Jawabnya sambil menaiki motor ku. “yu berangkat!”
Sesampainya
di sekolah aku dan Nisa langsung menuju ke kelas tercinta kami. Dan akhirnya… hari ini tidak ada Upacara. Woow bahagianyaa.. aku tidak tahu
apa alasannya, yang paling penting TIDAK Upacara. Hahaha
Didalam kelas, sebelum ada guru. Aku
berbincang-bincang dengan teman-temanku, terkecuali Nata, dia sedang asik
membaca buku.
“pulang
sekolah ke cafe yu ah!” ajak Randi.
“lah
gue ga punya uang!” jawab Galih.
“yyaa
ayo ayo! Yah lu mah lih kita di cafe cuman mau Hang out aja. Cari kesenangan
gituuh!” seru Rana.
“mmm
gimana yah? Gue ajak Nata yah! Sama pacar gue!hehe Tp kayanya kalo Nata ga ikut gue juga ga ikut deh! ” jawabku!
“huuuu
lu mah pacar mulu! Eh Nisa emang mau ikut? Emang kenapa Nata ga ikut Lo juga ga ikut?”tanya Randi.
“yaaa
ajak aja, kan gue sahabatnya, ga enak dong kalo ga di ajak!ya soalnya kasian
dia di rumah sendirian sama pulangnya gak ada kendaraan” jawab ku.
“siipp
sipp!”
“
eh eh ada ibuuuu ada ibuuuu!!!” serruu Rizal sambil masuk kekelas yang tadinya ada di luar kelas. Serentak semuanya cepat-cepat duduk di bangkunya masing-masing. Ibu
gurupun masuk.
“Selamat
pagi anak-anak!!” sapa ibu Fida sambil berjalan ke kursinya.
“Pagiiiiiiii
buuuuu!” jawab anak-anak kelas.
“
Pelajaran Bahasa Indonesia sekarang membahas karangan. Oh iyah ada pr tidak?”
“gak
ada bu!” jawab kami semua.
Ibu
gurupun menerangkan dan menjelaskan pelajaran bahasa Indonesa yang membahas
tentang Karangan. Setelah 2 jam pelajaran b.indonesia selesai. Ibu Fida
memberikan tugas untuk membuat sebuah karangan. Hhmmm itu membuatku malass!
“mau
jajan gak?” ajak Nata.
“ayoo!!
Lapaaarrr buuu!!!” jawab ku. Sambil beranjak pergi.
Nata mengikuti dari belakang.
Eh padahal kan Nata yang ngajak ko Nata yang mengikuti yah? Hahaha aneh!
“ke
kantin bi Surti yuu ah Nat!” ajak ku!
“iyah
ayo! Biar sekalian irit! Hahha” jawabnya.
Bi
Surti, seorang pedagang kantin yang sangat baik hati. Makanannya enak-enak dan
bergizi,itu membuat murid-murid SMA ini sangat betah kalau jajan ke kantin Bi
Surti. Menjadi langganan jajanan aku dan Nisa. Wow di kantin Bi Surti ternyata udah banyak
murid-murid yang sedang jajan.
“bii
pesen nasi kuning 2 dan jus strawberrinya 2 juga ya biii!!!!” teriakku!
“siiaap
neng Nasya!”
teriak bi Surti.
Tak
lama kemudian,pesanan ku datang. Sambil makan aku pun berbincang-bincang dengan
Nata. Disaat kita sedang berbincang-bincang, Azi pun datang.
“ekheem
yang lagi makan nasi kuning niihh.” Sindirnya.
“ekheem
ekhem, ada apa? Mau ?hehe” jawabku.
“ngga
ah, ganggu ga nih yang?” tanya Azi.
“ngga
kok! Santai aja zii! Hahaha” jawab Nata.
“iyah
sini sini duduk!” ajak ku!
“sippp!
Tapi aku cuman bentar yah! Soalnya banyak tugas belum di kerjain!” obrol azi.
“iyah
ga apa-apa! Iih tugas tuh kerjainnya di rumahh doong!!!” ledek kU!
“yyaahh
kaya yang sendirinya ngerjain tugas sendiri aja! Hahaha” ledek kembali Nata.
“yaeellaaa
lu mah ngebocorin aja! Hahhaha” seru ku.
“hahahahahahahaha”
serentak kita tertawa!
“ya
udah yah duluan ke kelas! Dadaaahh bebeb
hahaha! Daaahh Nata!” seru Azi.
“yooooo!!!”
jawab kita berdua.
Tak
lama kemudian bel berbunyi kembali. Aku dan Nisa segera pergi ke kelas dan tak lupa membayar
jajanan yang dibeli tadi. Di kelas belum ada guru. Seperti biasa aku bergabung
bersama teman-teman. Tak lama kemudian guru matematikapun datang. Yaitu Bu
Tati.
“ayoo
anak-anak cepat keluarkan tugas kalian. Yang tidak mengerjakan lari 10 keliling
di lapang!”omongan sinis guru matematika pun mulai.
Deg!!!
“Paraaahh nih gue kan belum!” bisik ku ke Nata.
“yaahh
kamu mah suka lupaan!! Kenapa ga ngomong dari tadi?” cemas Nata.
“yaaahh
namanya juga manusia pasti ada lupanya!!!!!” seruu ku!
“heh
Heri! Kenapa ga ngerjain? Randi? Bobi? Farah? Loli? Guntur? Eggy? Siapa lagi
yang ga ngerjain? Nasya ngerjain gak?” tanya dengan suara yang memang tidak
enak itu!
“be
be belum bu!” jawabku gugup.
“
dasaaar! Gimana mau bener kaliaaan? Kerjaan main main teruuss! Sana cepet
lari!!” teriak bu Tati.
Aku
dan nama-nama yang di sebut oleh bu Tati langsung pergi kelapangan dan
mengerjakan hukuman itu. Wwiiihhh guru yang killeerr! Hehehe uppss guruu loo!
“
heh Nas lu
mah malu-maluin tuh sobat lu mah Nata baik ngerjain tugas rajinn lah elu!” tanya bobi sambil lari2 kecil.
“heh!
Lu juga kaya yang ga di lariin aja! Udah ga usah ngomong! Ngomong aja lo suka sama Nisa!” jawab ku tegas.
“hahaha
udah-udah! Kita sama2 di hukum harus saling mengerti!” ceplos Farah.
Setelah
selesai di larikan, kami semua pun masuk kelas kembali. Ibu Tati sudah
menerangkan banyak tentang Matematika yang membahas Logika Matematika. Yaaahh
ketinggalan deh -_- . bu Tati tetap saja
jutek.
“Nata Syara! Cepat kerjakan
soal yang ada di depan ini!” suruh Bu tati sambil menunjuk papan tulis.
“baik
bu!” jawab tenang Nata
Nata
menjawab soal matematika itu dengan lancar. Memang dia sangat pintar, ga salah
kalau dia mengerjakan soal itu dengan cepat dan benar.
Setelah
2 jam pelajaran matematika pun selesai. Bel pulang pun berbunyi. Aku mengajak Nisa agar ikut pergi ke
cafe bersama teman-teman.
“Nata, ikut yu! Ke cafe
dulu! Hang Out gituuuH!” ajak ku.
“
ngapain? Ngga ah, gue kan mau ngerjain tugas! Kamu juga! Mening ngerjain tugas aja! Yuu ah!”
jawab dia dan dia pun mengajak kembali.
“yaahh
lu mah kebiasaan! Ayoo dong yoo!! Kan bentar dikit mah nongkrong. “ bujukku.
“ngga
Nasya Putri
Rahman. Pokonya kita harus ngerjain tugas! Emangnya mau dihukum kaya tadi? Ngga
kan?! “ tolak dia kembali.
“yyaaahh
ga usah pake rahman gitu laaah! iya deh iya!!!”jawab ku dengan malas.
Tetapi
Nata hanya
tersenyum melihat wajahku yang malas ini. Benar-benar sahabat yang sangat baik
hati.
Sesampainya
di rumah Nata,
aku pun tidak pulang kerumah dahulu, aku masuk kedalam rumah Nata untuk mengerjakan
tugas. Kami berdua mengerjakan tugas bersama sambil memakan cemilan dan berbincang-bincang.
Keluarga Nata jarang ada di rumah, dia hanya tinggal bersama ibunya,kakaknya, dan adik
perempuannya. Nata bisa disebut dengan anak yang Broken Home. Karena ayah dan ibunya
telah bercerai tiga bulan yang lalu. Keluarganya menjadi hancur, karena ulah
ayahnya yang tidak pernah mengerti anak-anaknya dan ibunya. Ayahnya tidak
pernah memberi nafkah, hanya ibunya yang bekerja. Akan tetapi Nata tidak berkecil hati,
iya tetap bersemangat dalam menjalani hidup! Aku senang bersahabat dengannya
dia benar-benar sahabat yang sejati.
Selesai
mengerjakan tugas, aku pun pamit pulang. Ketika aku baru menaiki motor ku, ibu
Nata pun
datang dan menyapaku. Matanya sayu seperti ia telah menangis.
“ eh ada Nasya. apa kabar Nas? ” sapanya
lembut.
“baik
bu, ada apa bu kayanya lesu banget?” jawabku penasaran.
“ga ada apa-apa.” jawabnya pun lembut dan
tersenyum. Seperti menutupi kesedihannya. Dan akupun pamit pulang. Ibunya Nata yang wajahnya terlihat
lesu itu terbayang-bayang olehku.
TAKE 2
Keesokan
harinya, seperti biasa aku pergi ke sekolah, ketika ku sms Nata, tidak di balas dan di
telfon pun tidak menjawab. Aku segera pergi kerumahnya, di rumahnya, seperti
tidak ada siapa-siapa. Akupun heran. Dan karena sudah pukul 06.40 aku terpaksa
tidak menunggu Nata dan meninggalkannya, karena di pikiranku, mungkin Nata telah pergi ke sekolah
sendiri, dan tidak memberi sms kepadaku karena tidak ada pulsa. Dan tidak menjawab
telfon, handphone nya tidak terbawa. Pikirku positif.
Sesampainya
di sekolah, ketika aku
memasuki kelas, Nata tidak ada, aku pun semakin diberi kekhawatiran. Tak lama kemudian, bel
berbunyi dan akhirnya Nata pun datang kesekolah. Aku melihatnya heran, matanya seperti sudah
menangis, tubuhnya lemas, wajahnya pucat. Ada apa dengan dirimu sahabat? Aku
melihatnya khawatir. Apa mungkin dia mempunyai masalah? Apa mungkin dia sedang
sakit Pikirku khawatir sekali.
“kenapa
lo Nat? Ada
masalah? Cerita sama gue! Mungkin gue bisa bantu.” tanyaku cemas.
“ngga
ada apa-apa. gue baik.” Jawabnya santai dengan senyuman indahnya yang kaku.
“kenapa
lo ga bales sms gua? Telfon gue ga di angkat?” tanyaku untuk meyakini.
“ gue ga tau kalo kamu sms
ato nelfon, gue ga bawa handphone.” Jawabnya dengan lembut.
“gak
bohong kan? Kenapa datang terlambat?” tanyaku kembali.
“semalam
aku menginap di rumah nenek nindi. Dan maaf gak ngasih kabar.” Jawabnya
yakin dan tetap lembut dan lemas.
Aku
tidak menjawab kembali, kenapa aku merasa kesal sama Nata? Padahal seharusnya
aku menghiburnya, membuat dia tersenyum kembali. Tapi yang aku lakukan hanya
bertanya kepadanya secara terus menerus, jika dia mempunyai masalah dan aku
terus menerus bertanya, aku yakin dalam hati dia sangat kesal kepadaku, akan
tetapi dia tetap ramah,menjawab semua pertanyaanku dengan sabar dan lembut. Kau
benar-benar terbaik Nat. Jika benar kau mempunyai masalah yang berat aku harap ada jalan
keluar untuk semua masalahmu. Disini aku mendukungmu Nisa.
Beberapa
menit kemudian, kepala sekolah kami Bapak Drs. Sunarya Budi M.dp memasuki kelas
kami, dengan kumis tebalnya dan peci di atas kepalanya yang sangat berwibawa.
mungkin ada pengumuman penting untuk siswa kelas 12. Entah masalah UN ataupun
perpisahan. Ooppss perpisahan?mmm kejauhan kali ya, UN juga belum. Hehe
“Selamat
siang anak-anak,saya datang ke kelas kalian ini akan memberitahukan tentang
Ujian Negara. Ujian Negara tinggal 2 bulan lagi, dan bapak harap kalian semua
mempersiapkan dengan sebaik mungkin. Karena bisa saja yang pintar tidak lulus
karena banyak pikiran, ataupun dalam proses mengerjakan soalnya tidak konsentrasi. Itu semua bisa saja. Jadi bapak
harap kalian menjaga diri kalian baik-baik jaga kesehatan tidak memikirkan
masalah seberat mungkin.” Pengumuman dari kepala sekolah.
Tiba-tiba
saja aku melirik kepada Nata, kulihat dia hanya menunduk,dan seperti akan
menangis, Nata ada apa dengan kau? Hatiku seperti tidak tenang melihat Nata.
Aku melihatmu prihatin, kemudian aku merangkul Nata, dia hanya tersenyum dan
kembali menunduk.
“oh
tidak lupa anak-anak, minggu depan akan diadakan Try Out pertama. Maka
persiapkan diri kalian sebaik mungkin. Pesan bapak tidak boleh ada beban pikiran apapun. Oke
terimakasih atas perhatiannya. ” lanjut kepala sekolah memberi pengumuman.
Kemudian bapak Drs.Sunarya Budi
M.pd pun pergi meninggalkan kelas ku. Bel istirahatpun berbunyi, aku mengajak
Nata pergi ke kantin.
“Nat, kantin yu! Kelihatannya lo lemes banget makn yu!!!”
Ajak aku semangat.
“iyah kamu aja gue disini aja, gak laper.” Jawabnya tenang dan lembut.
“yaahh yuu ah! Gue tlaktir deh! Sekalian gue mau nemenin Hani ngelabrak
adik kelas. Kelas 11 tuhh yang ga sopan, terus ngedeketin cowonya Hana! Aahh
pasti seruu yu ikutan! Yu yu yu!” ajak ku kembali.
“ngga makasih, ngapain ngelabrak? Omonginnya baik-baik aja, gimana kalo
kalian nanti ngelabrak eh malah kena BP lagi. Udah jelek tau! Ngapain
ngelabrak? Jangan main hakim sendiri.” jawabnya dan nasihatnya.
“hhmm Iya iya deh ga akan! Mau kekantin aja ko!ya udah kalo ga mau ikut!
Daahh nis!”
jawabku tidak meyakinkan.
Duuhh kenapa gue harus ngomong sama Nata mau ngelabrak adik kelas?
Yyeehhh sialan! Kan jadi gak boleh! Aahh tapi gak apa-apa lah! Nata nya juga di
dalam kelas! Hehehe “pikirku”
“Nas yuu bantuin ngomongin adik kelas yang so imut ituu!” ajakan Hana.
“mmmm, gue td bilang ke Nata mau ngelabrak, eehh malah di ceramahin.”
Jawabku
“yaaahh lu mah malah ngomong! Udah tau dia mah baik hati dan tidak
sombong!” balas Hana enteng.
“yeehh lu mah jangan ngejelekin Nisa. Gitu-gitu juga sahabat gue kali!” seruku
tegas.
“hehe iya iya sory sory! Yuu ah ga apa-apa kali, Nata juga ga
ngeliatkan?” ajaknya lagi.
“iya yah bener! Okey ayooooo!!” seruu ku.
Aku mendatangi adik kelas itu. Namanya Sisi dan ditemani temannya Nia.
Ternyata anaknya ga cantik-cantik amat. Hana membentak Sisi. Sedangkan aku
hanya melihatnya saja. Dia seperti tidak bersalah.
“ hey! Ngerti sopan santun gak?” Bentak Hana
kepada adik kelas itu.
“weess na lu sadis amat! Pelan-pelan aja!” bisik gue.
“aaahh diem lu! Nafsu gue!” omong Hana lagi.
“ada apa ya kak? Maaf jangan kasar-kasar dong!” balas Sisi adik kelas.
“lu gak sopan! Biasa aja dong! Diajarin sopan santun gak sama orang
tua?” bentak Hana kembali.
Aku hanya melihatnya, Hana terlalu kasar. Memang benar apa kata Nata
omongin baik-baik. Tibak-tiba salah satu guru BP datang. Duuuhh mampuss dehh
gue! Pikirku!
“ hey hey hey! Ada apa ini? Hana?Nasya? Sisi? Ada apa?” tanyanya tegas.
“ini bu ka Hana tiba-tiba marah-marah gitu?” jelas Sisi.
“aaah apa bu! Yang pertama nyari masalah dia! Ya kan Nasya?” jelas
kembali Hana.
“i i i iya bu.” Jawabku gugup
“udah ikut ke kantor saya! Biar masalahnya selesai!” tegas guru BP Bu
Yani tersebut.
Kami berempat ikut keruang Bu Yani, (ruang BP). Didalam pikiran ku,
terbayang-bayang omongan Nata, dia benar jangan main hakim sendiri. Kalo kaya
gitu kita akan kena getahnya kan! Ternyata itu bener gue yang cuman ikut ajah,
kena getahnya. Sampai bel pulang berbunyi kami di ruang BP. Kami tidak
mengikuti kegiatan belajar di kelas. Dan dalam hati aku merasa bersalah kepada
Nata. Maafkan aku Nata. Ketika aku dan Hana keluar dari ruang BP, aku melihat
Nata menunggu di depan kelas. Nata melihatku dengan rasa cemas lalu tersenyum.
“kenapa Nasya? Ada masalah? Di bawa keruang BP?” tanyanya dengan lembut.dan
menurutku itu menyindirku. “mmm aku ga bermaksud menyindirmu nas.” Lanjutnya lembut.
“Nat maafin gue, tadi gue ga ngedengerin apa kata lo! Gue malah main
hakim sendiri. Padalah gue cuman ikut doang.” Jelas ku.
“kenapa harus minta maaf! Udah yang udah berlalu lupain ajah yah J lain
kali, jangan kaya gini lagi yah! Kan lo udah gede Nindi udah mau LULUS UN! Terus nanti kita ke
Universitas terkenal!” jawabnya dengan senyuman,lembut.
“okeh! Yuu kita pulang Nis!” ajakku.
Kemudian aku mengambil motor matic ku di parkiran. Lalu, Nata pun ku
bonceng. Aku mengantarkan Nata sampai depan rumahnya. Nata tersenyum dan
menyuruhku cepat pulang karena hari sudah sore.
TAKE 3
Hari-hari selanjutnya aku lalui, Syukurlah Nisa kembali bersemangat!
Lewat satu minggu. Dan hari minggu pun datang. Sekolah pastinya libur. Aku
mengajak Nata untuk belajar bersama dirumahku. Nata pun bersedia datang,dan
bersenang hati mau mengajariku. Setelah ku tunggu-tunggu, Nata pun datang.
“Nasyaaa,, Nasyaa!” panggilnya di depan rumahku.
“heeyy! Gue tunggu! Masuk yuu!” ajakku.
Nata pun masuk kedalam rumahku. Kemuadian aku menyiapkan
makanan-makanan ringan,minuman,dan buku untuk belajar tentunya.
“yuu Nat kita belajar!” ajak ku dengan semangat.
“iyah ayoo! Seneng deh kamu jadi semangat gini!” seru Nata.
“oohh iya dong kamu juga semangat! Aku juga harus semangat!” balasku
dengan gembira.
“haha iya iya alhamdulillah deh.” Syukurnya.
“kamu ada masalah ga Nat?” tanyaku penasaran.
“mm? Ga ada.” Jawabnya dengan senyuman.
Aku tidak membalasnya, aku hanya mengangguk dan mengerjakan soal-soal
untuk latihan Try Out nanti. Nata,sepertinya sekarang suka menutupi masalahnya
dan tidak pernah berkata jujur lagi kepadaku. Aku heran apa masalahnya? Dia
bisa berubah seperti itu? Mungkin dia sedang ingin memendam masalahnya itu.
Pikirku, mengertikan sahabatku ini.
“udah belum soalnya Nasya? Ko diliat-liat malah ngeliatin soalnya
doang?hehe”canda Nata.
“mmm? Ngga,,aku mikirin aja, orang yang pemalas seperti aku Lulus gak
yah nanti?” tanyaku agar dia tidak terlalu curiga dengan pikiranku.
“Pasti bisa nas, percaya! Asal kamu sekarang mau bener-bener. Dan aku
siap ngebantu ko!” jawabnya.
“iyah makasih yah,dukungannya Nat.” Balasku dengan senyum.
Tak lama kemudian ibuku datang.
“eeh ada Nata, makan dulu yu nat, biar enak nanti belajarnya. Yuu tuh
makanannya di meja makan.”ajak ibuku.
“iyah bu makasih,tadi pagi udah di rumah.”jawab Nata.
“eehh ayo ah ayo cepet makan dulu! Sekarang kan udah siang! Cepet kamu
Nasya makan dulu!” bujuk ibuku kembali.
“iya iya buu.. yuu Nat makan dulu!” ajakku.
Nata pun mengikutiku dari belakang. Ketika kami sedang makan, kakak ku
datang dan mencubit pipiku.
“heh! Dee.. kakak beli buku UN nih! Pelajari sana! Berdua sama Nata,
kan biar lulus!” omong kakakku.
“huh! Tumben perhatian!”celotehku.
“yeeee ga di perhatiin salah,diperhatiin salah! Mau lu apa?” jawab
kesel kakakku. Nata hanya tersenyum melihat kita bertengkar.
“iyyaa iyyaa.” Jawabku dengan muka malas sambil menyuap nasi.
Aku mengambil buku itu dan ku pelajari.
TAKE 4
Keesokan harinya, hari yang sangat mendebarkan, Try Out Pertama. Wow
baru saja Try Out pertama udah deg degan gimana UN nya? Hahaha pagi-pagi
seperti biasa sebelum berangkat sekolah setelah sarapan pagi, aku pergi
menjemput Nata ke rumahnya. Dan Nata pun sudah siap dengan pakaian rapih.
Hhmm,, kebetulan sekali aku seruangan dengan Nata karena, Nata awal namanya
dari N dan aku juga dari N, dan nomor Unnya juga berdekatan karena dari 6 sd
sampai SMA aku dan Nata selalu sekelas. Lebih untungnya aku kan bisa melihat
jawaban NaTa. Ooppss udah niat ga bener tuh! Ga jadi deh niat nyonteknya. Hehee
Sebelum masuk kelas, aku menitipkan helmku ke penjaga sekolah, yaitu
mang Sarif, yang berasal dari jawa tengah, baik, sopan, suka diajak bercanda
juga lo sama aku. Bel berbunyi. Tetapi sebelum masuk ruangan, kami kelas 12 .
kami diberikan petunjuk dan penjelesan akan mengikuti Try Out ini. Hatiku
merasa gugup namun senang. Aku berada di ruangan 4.
Di dalam ruangan aku melihat Nata sedang asik mengerjakan soal-soal try
out, tanpa kebingungan, akan tetapi aku sendiri kadang bertanya dan kadang
bingung. Try out hari pertama selesai, hari ke 2 dan ke 3 sama seperti biasa.
Try Out pertama pun selesai. Alhamdulillah leganya.
Kembali lagi aku kesekolah untuk belajar seperti biasa. Hasil try out
pun tiba, ternyata hasilku tidak begitu jelek, yang penting lulus. Dan kulihat
hasil try out Nata wow! Sungguh luar biasa, nilainya hampir sempurna. Akan tetapi hari-hari ini sangat aneh, tidak
ada Nata. Aku sms tidak ada balasan, aku menelfonnya handphone nya tidak pernah
aktif.ada apa ini? Dalam hati terus bertanya-tanya. Aku khawatir dengannya.
“Nas, Nata kemana sih? Ko jarang masuk? Malah udah dua minggu loh! Kan
bentar lagi Try Out terakhir. Kalau dia ga ikut bisa ga lulus tuh!” tanya Hani.
“gue juga ga tau ni, kemana dia lost contact
gue ma dia. Gue ke rumahnya ga pernah ada jawaban. Tapi gue yakin dia lulus
ko!” jelas ku.
“iyah tapi, kalo udah dua minggu ga ada surat keterangan gini mau
gimana? Yang tiga hari gak ada surat keterangan juga udah di pertimbangin
apalagi 2minggu?” balas hani.
Aku tidak menjawabnya kembali. Sungguh ke khawatirannku sangat kuat.
Apa dia ada masalah keluarga? Masalahnya apakah besar? Atau dia sedang sakit
dan dirawat di rumah neneknya? Dipikiranku selalu ada pertanyaan-pertanyaan
tentang kamu Nata. Cepat kembali nat.
TAKE 5
Try out terakhirpun tiba, Nata tidak hadir kembali, aku sedih
melihatnya. Kegelisahan selalu hadir di hati dan pikiranku. Kemana kamu Nata?
Aku harap kau ada!
Sepulang Try Out, aku dan teman-teman pergi bermain dulu atau
istilahnya Hang Out di cafe. Tanpa Nata. Itu yang aku pikirkan. Walaupun aku
tertawa, tapi tetap saja ada yang mengganjal di pikiranku, kemana Nata? Kemana
Nata? Kemana sahabatku?
“Nas lo mikirin Nata?” tanya Rendi.
“iyah keliatannya gelisah banget?” lanjut Guntur.
“iyah, gue mikirin Nata. Gua takut Nata kemana? Gua khawatir, kan
bentar lagi UN?” jawab ku.
“mmm emang lu nyangka dia kemana?” tanya Dila.
“gue nyangkanya di sakit di rumah neneknya.” Jawabku dengan penuh
harapan.
“ya udah kita cari ke sana!” seru Rizal.
“iyah bener zal! Kita bantu deh! Lu taukan rumah nenek nya?” seruu
loli.
“gue gak tahu. Itu masalahnya.”jawabku pasrah.
“yyaaaahh,, mmmm ya udah lo sabar aja, kita doain aja, besok Nata masuk
sekolah yah!” omong tenang Caca.
“aamiiiiiiiinnnnnn!!!!!!” jawab kami serentak.
TAKE 6
Kemarin aku, Randi,Galih,Rizal,Bobi,Farah,Hana,Hani,Caca,Guntur,dan
Loli. Ketika sedang bersantai di cafe. Mendoakan kamu Nata agar kamu ada di
sekolah kembali. Hari terus berjalan, hampir 3 minggu Nata tidak hadir. UN di
depan mata. 1minggu lebih UN akan di mulai.
Hari ini hari Selasa. Aku senang melihatnya, Nata datang. Nata telah
duduk dibangku yang telah 3 minggu aku tempati sendiri. Dia tersenyum kepadaku.
Aku memluknya erat, teman-teman sekelaspun ikut senang. Aku belum smpat
bertanya, aku masih memeluknya.
“Nasya maafin aku yah, udah lama ga ada kabar.” Omongnya lembut.
Aku meneteskan air mata, “kenapa harus minta maaf? kejadian yang lalu
biarlah berlalu Nat. Asal sekarang kamu jangan kaya gitu lagi.” Jawabku mengikuti
perkataan Nata ketika aku masuk BP.
“apakah kamu mengikuti perkataanku nas? Haha” celotehnya.
Kami berdua tertawa bersama. Bel masukpun berbunyi. Ibu Fida guru
bahasa Indonesia dan juga wali kelas kami, masuk kedalam kelas. Dan membagikan
kartu Ujian Negara.
“anak-anak, hari ini tidak ada kegiatan
belajar mengajar, karena akan diadakannya rapat tentang Ujian Nasional kalian
yang akan segera dilaksanakan pada tanggal 15 April 2010. Di sini ibu akan
membagikan kartu ujian kalian, ibu panggilkan satu persatu.” Jelas ibu Fida.
Ibu
Fida pun membagikan kartu ujian dan memanggil satu-persatu anak kelas. Rasanya
masa depan semakin dekat. Tak lama
kemudian, namaku dan nama Nata dipanggil untuk membawa kartu ujian itu. Setelah
bu Fida membagikan katu ujian, aku dan Nata pulang, dan akan pergi kerumah
Nata. Sesampai dirumah Nata, perasaan ku sangat heran, kenapa rumah Nata
berbeda? Suasana yang aneh. Ketika aku melihat ke kamarnya Nata, disana banyak
sekali obat-obatan. Akupun bertanya kepada Nata.
“Nat?
Ko banyak obat-obatan?dikamar lo?” tanyaku heran.
“hah?
Itu obat-obatan nenek ku, kemaren sakit.” Jawabnya yang memang kurang
meyakinkan.
“oh
serius?”balasku yakin.
“iyah
Nasya.” Jawabnya lembut.
Aku
yakini sajah. Akan tetapi,hatiku belum meyakininya. Entah obat apa itu? Aka
tidak kembali bertanya. Seperti biasa,didalam rumah Nata sangat sepi. Tiba-tiba
ada yang membukakan pintu rumah, aku pun melihat ke arah pintu, ternyata yang membukakan
pintu itu adalah Nisa adiknya Nata. Adiknya Nata tersenyum ramah kepadaku aku
pun kembali tersenyum. Ketika aku pamit akan pulang adiknya Nata berkata.
“ka
Nataaaa cepet minum obat!” teriaknya
agak pelan.
“sssttt
kamu jangan bilang begitu!” balas Nata sambil menutup mulutnya Dian.
Aku
melirik Nata, Nata hanya tersenyum. Lirik ku heran, ada apa ini? Kenapa Nata di
suruh makan obat? Dia sakit apa? Aku tidak terlalu memikirkannya dulu. Aku menaiki motor matic ku,lalu aku menuju ke
rumah. Sampai dirumah, aku langsung pergi ke dalam kamarku. Di dalam kamarku,
aku memikirkan Nata. Lalu, aku letakkan tubuhku ini diatas kasur yang tidak
begitu empuk. Aku berfikir, apakah Nata baik-baik sajah? Kenapa dia harus
memakan obat sebnyak itu? Apa memang benar apa yang dikatakan Nata semua obat
itu milik neneknya? Sungguh membuat ku bingung. Masih ku ku terbaring di atas
tempat tidurku. Kemudian aku menarik bantal guling yang ada di bawah kaki ku.
Tak lama aku berbaring sambil memikirkan Nata, mataku ku pejamkan. Dan akupun
terlelap tidur.
Aku
tidur tidak terlalu lama, hanya satu jam saja. Karena suara ketukan pintu
kamarku yang membuatku terbangun.
“
tuk tuk tuk.. Nasya... Nas! Nasya banguuunn woy!” teriak suara di balik pintu
itu.
Akupun
terbangun,lalu ku buka pintu kamarku. Mmm menjengkelkan. Ternyata yang mengetuk
pintu adalah kakaku. Dengan wajah malas ku bertanya.
“ada
apa sih? Ganggu kenikmatan orang aja!” tanyaku dengan kesal.
“yeeee
sewot! Gue mau ngajak lu maen! Yuu ikut!” jawabnya.
“hah?
Tumben! Ngapain?” jawabku kembali aneh.
“anter
beli nasi goreng aja! Yah! Gue tlaktir deeh!” ajaknya.
“
ayoo! Seriuss ya tlaktir.” Seruku
girang.
Kakaku
menganggu sambil berangkat. Dia mengambil motornya yang dia bilang keren banget
itu! Padahal biasa aja! Aku mengikutinya dari belakang. Di jalan, kakaku
menggunakan motornya tidak terlalu cepat, di perjalanan, aku melihat dua orang
yang mirip sekali dengan Nata dan kakak laki-lakinya. Orang memasuki sebuah
rumah sakit. Aku tidak sempat melihat wajahnya. Ketika aku melihat orang itu,
dipikiran ku hanya ada Nata. Apakah itu benar Nata? Tp kalaupun benar Nata buat
apa dia pergi kerumah sakit dengan kakaknya? Ahh mungkin itu orang lain, Di
dunia ini banyak orang yang wajahnya mirip walaupun bukan saudara kembar bahkan
saudara biasa. Aku berfikir positif, dan
jika aku masih penasaran dengan orang itu, yang mirip dengan Nata besok bisa
aku tanya dia.
TAKE 7
Keesokan
harinya, ketika aku akan pergi ke
sekolah, aku menerima sms dari Nata, dia berkata, “hari ini aku tidak
pergi kesekolah dengan mu, aku baru saja pergi jalan kaki,kamu pergi sendiri saja. Maaf tidak
menunggumu.” Dengan menggunakan tanda senyum di akhir kalimatnya yang lembut itu. Tinggal
menghitung hari, Ujian Nasional akan dimulai. Ya, 3 hari lagi siswa kelas 3
SMA. Itu membuatku takut, gugup dan semangat belajar pun meningkat!
Sesampainya
di dalam kelas, aku melihat Nata dia duduk dan sedang membaca buku. Kemuadian
aku mendekati Nata dan menyimpan tas lalu aku duduk disampingnya. Nata
tersenyum ramah seperti biasanya. Akan tetapi aku melihatnya heran.
“selamat
pagiii Nata!” sapa seseorang di belakang Nata. Nata pun menjawab dengan
senyuman. Dan ternyata dia adalah Bobi cowo yang suka ke Nata itu loo!
“heh
bob, so imut lo! So akrab! Ngomong kalo suka sama Nata!” ledekku kepada Bobi.
“yyeee
apaan si lu! Kan cuman nyapa aja! Sebagai orang muslim, kita kan harus saling
menyapa. Ya kaann Nat?” jelas Bobi so imut.
“
nyapa-nyapa! Ke Nata aja? Ke gue engga gituh? Dasaarr!” balasku tegas.
“addaa
ibuu heyy addaa ibuu!!!” teriak Randi.
Serentak
seperti biasa anak-anak dengan cepat menuju tempat duduknya masing-masing.
“selamat
pagi anak-anak! 2 hari lagi kita akan diadakan Ujian Nasional, apakah kalian
telah menyiapkan semuanya?” tanya guru bahasa Inggris. Yaitu bu Rida.
“
udaahh bu!” jawab anak kelas ku serentak.
“
bagus, kita sekarang membahas tentang soal-soal latihan Ujian Nasional yah!”
omong Bu Rida.
Semua
anak2 kelas pun memperhatikan Bu Rida yang sedang menerangkan. Akan tetapi,
ketika aku melihat Nata dia seperti tidak konsentrasi dalam memperhatikannya.
Aku heran, ketika aku melihat wajahnya, dia sangat pucat, lemas. Kekhawatiranku
datang kembali. Setelah selesai belajar disekolah, aku mengajak Nata pulang
bersama. Sebelum kita pergi pulang aku bertanya kepada Nata.
“nat,kemarin
lo pergi ke rumah sakit dengan kakak lo ga?” tanyaku ceplos.
“hah?
Kapan? Aku.. aku.. aku ga pernah pergi kerumah sakit.” Jawabnya dengan gugup.
Aku melihatnya heran, dan kenapa akhir-akhir ini aku selalu di buat khawatir
dan heran oleh Nata.
“oouh.
Kenapa kamu pucat sekali?” tanyaku kembali.
“ga
tau, mungkin lapar kali, hehehe.” Jawabnya dengan candaan.
“makan
dulu yu di cafe!” ajakku.
“mmmm
ngga ah, aku makan di rumah aja, adik dan kakaku sudah menunggu ku dari tadi.”
Jawabnya.
Kemudian
aku pergi mengambil motor ku, ketika ku ajak Nata ternyata dia sedang asik
ngobrol sama mang Sarif, duuh ada apa nii? Hehee. Di perjalanan.
“Nata,
belajar bareng yu! Di rumah ku! Tar jam 4 sore aku jemput! Kamu tunggu di depan
rumah yah!” ajakku.
“okke
baik! Aku tunggu yah!” jawabnya dengan senang hati.
Setelah
mengantarkan Nata kerumahnya akupun sampai di rumah ku. Lalu aku langsung
menuju kamar seperti biasa, sebelum aku mengganti baju seragam, handphone ku
bergetar, ku lihat ternyata ada sms dari Azi, pacarku.. hehe! Ternyata dia
mengajakku untuk pergi. Dan tak lama dari sms itu datang, Azi lasung
menelponku.
Di
telpon:
“haallooo
sayang. Hehe jalan yuu! Kita pergi ke cafe atau apa gituh! Sebelum ujian kan
ada refresing dulu dong!hehe” ajak Azi.
“hhmm,
haha ayoo! Bete nih dirumah.”jawabku. Aku melupakan perjanjian belajar bersama
Nata. Itu selalu aku lakukan. Tapi, Nata tidak pernah sekalipun kesal apalagi
marah kepadaku.
“aku
jemput yah sekarang kerumah mu.” Seruunya.
“okkkee
aku tungguu yaang!!!” girangku. Langsung aku mengambil baju yang menurutku
bagus dan pantas untuk dipakai.
Ketika
aku keluar kamar,di ruang tamu sudah ada Azi yang sedang mengobrol dengan
ayahku. What? Ayahku? Ngomongin apa aja tuh, jangan sampe jauh-jauh dulu deh
baru juga mau keluar SMA. Pikirku. Ternyata, mereka hanya mengobrol biasa.
“udah
siap Nasya?” tanya ayahku.
“iihh
ayah mau ikut campur aja!” jawabku malu.
“eehh
emang gak boleh yah nanya gitu?” balas ayah.
“nggaa
boleh ko boleh! Yu zi kita berangkat!” omongku. “ayah aku pamit yah!” pamitku.
“marii
om pergi dulu.” Pamit Azi.
“iyah hati-hati kalian, jangan lama-lama maennya
satu hari lagi Ujian Nasional.”teriak ayahku, karena kita sudah mulai pergi.
Kita
pergi dari pukul 03.30 dan pulang ke rumah pukul 18.30. tidak terlalu lama.
Sesampai dirumah, ku lihat keruang tempat kumpul keluarga, disana ada
ayah,ibu,dan kakak ku yang melihatku baru pulang bermain, mereka meledekku
dengan ledekan.”yang habiss pacaraan nii.” Uuhh betapa malunya aku. Aku
langsung lari ke kamar. Lalu aku pergi untuk mandi. Setelah mandi, aku kaget!
“ya
ampuuunn lupa! Pukul 04.00. aku kan ada janji sama Nata buat belajar bersama!”
omongku sendiri! “aku harus menelpon Nata!” omongku kembali.
Ketika
ku telpon:
“halooo
Nat?” omongku cemas, karena aku takut
dia marah.
“assalamualaikum?
Iyah ada apa Nasya?” jawabnya dengan lembut dan seperti tidak memikirkan janji
yang tidak aku tepati itu.
“nas,
maagin gue! Tadi gue ga dateng jemput lo! Sumpah gue bener-bener minta maaf!”
mohonku.
“mm
iyah ga kenapa-kenapa ko, santai aja, aku ngerti ko! Ga usah di permasalahin
yah, asal jangan di ulangi lagi aja. Hehe” jawabnya tanpa meragukanku.
“yang
benar? Maaf yah! Hehehe besok gue jemput yah ke sekolah?” ajakku.
“ngga
usah, besok aku diantar kakakku. Soalnya kakakku lagi libur kualiah.” Jawabnya.
“ouuh
ya udah daah good night my sob!” obrolku. Kututup telponku, dan kubaringkan
tubuhku di tempat tidur. Aku merasa sangat lelah. Aku tiba-tiba terlelap.
TAKE 8
Keesokan
harinya, yaahh hari-hari terakhir aku berada di jalan yang lumayan santai tapi
mendebarkan. Karena keesokan harinya akan diadakan Ujian Nasional yang akan
menentukan masa depan. Hari ini tidak ada kegiatan belajar mengajar, kita semua
harus membersihkan kelasnya masing-masing. Sebelum ku bersihkan kelasku, aku
mencarii.... Nata, yah Nata! Dia kemana? Katanya akan diantarkan oleh kakaknya,
akan tetapi, sampai bel berbunyi dia belum datang juga. Hhhmmm kekhawatiran dan
kecemasanku datang lagi.
“Far,
liat Nata ga?” tanyaku kepada Farah yang sedang menyapu kelas.
“ngga,
kenapa? Dia ga hadir lagi?” tanyanya balik.
“iyah!
Ga tau ini! Padahal besok kan UN! Gue cemass nih!” jelasku kepada Farah.
Lalu
akau bertanya kepada Guntur, dia tidak melihatnya. Dan aku bertanya kepada
Galih tetap dia tidak melihatnya. Aku bertanya kepada Dila tetap saja dia tidak
melihatnya. Aku mencarinya kemana-mana dia tidak ada. Sampai pada saat kita
pulang sekolah, dia tidak ada kabar. Hari ini aku tidak terlalu memikirkan
Nata. Aku fokus dengan belajar, karena besok Ujian Negara. Sampai malampun,
Nata tidak ada kabar. Aku biarkan sajah.
Keesokan
harinya tanggal 10 April 2010. Ujian
Nasional di laksanakan. Hatiku berdebar, gugup. Ketika ku lihat ke sekeliling,
akhirnya Nata ada. Aku mendekati nya. Lalu bertanya.
“hey
nat! Kemaren lo kemana?” tanyaku heran.
“a..aa..aaku..
mmm pergi kerumah nenek. Soalnya nenek lagi sakit. Terus gak ngabarin kamu,
handphone ku ketinggalan di dalam kamar ibuku.” Jawabnya yang kurang meyakinkan
dan gugup.”
Belpun
berbunya tanda kami akan memulai perang yang menentukan masa depan kami. Aku
memasuki ruang 4. Dimana ruang 4 adalah ruangan ujian ku dan Nata. Pertama kali
ku lihat Nata mengerjakan dengan rasa gelisah. Aku melihatnya heran. Tapi aku
berfikir positif. Masa seorang Juara kelas Juara segalanya tidak lulus dari
ujian? Itu mustahil. Pikirku.
Ujian
Nasional telah aku lalui dengan lancar. Kami semua berdoa agar kami lulus dalam
Ujian ini. Dan bisa meneruskan ke Universitas yang kami inginkan. Beberapa
minggu sampai satu bulan, kami kelas 12 menunggu hasil UN tersebut dan menunggu
Kelulusan.
Tepat
pada tanggal 29 Mei 2010, pengumuman kelulusan akan di berikan. Kami harus
membawanya sendiri. Beberapa pengumuman di umumkan oleh kepala sekolah. Dan
beberapa guru membagikan surat kelulusan. Uuuhh sangat mendebarkan!
“anak-anakku
sekalian, apapun Nilai yang ada di dalam kertas itu Lulus atau tidaknya, kalian
harus tetap bersemangat!” pesan Bapak kepala sekolah.
Entah
kenapa, aku langsung melihat Nata, dia hanya tersenyum membalas lirikkan ku.
Aku merangkulnya. Lalu, Nata mengajakku untuk tidak dulu membuka surat
kelulusan itu.
“Nasya,
aku ingin kita membuka surat kelulusannya bersama. Tapi jangan sekarang, aku
mau kita membukanya nanti pukul 05.00 di sekolah ini. Aku ingin menunggu
sekolah ini sepi dan hanya kita yang tau dalam membuka surat kelulusan ini. Aku
mohon, ini permintaan terakhirku.” Mohonnya kepadaku. Apa? Permintaan terakhir?
Aku sempat tidak berpikir dengan omongan permintaan terakhirnya itu.
“okeeyy!
Aku akan datang tepat waktu. Di sekolah ini!” jawabku.
“apakah
kau berjanji? Dan tidak akan mengingkari janji ini?” lanjutnya seperti meragukanku.
“siiaapp
Nata Syara aku janji!” jawabku meyakinkannya.
Dan
tak lama kemudian, siswa kelas 12 serempak membuka surat kelulusannya.
Alhamdulillah semuanya terbilang Lulus. Hanya aku dan Nata yang belum
membukanya. Teman-teman sekelasku menatap heran, dan kemudian aku menjelaskan
kenapa aku dan Nata tidak membukanya. Untungnya mereka mengerti.
Ketika
telah dibagikan kelulusan, kami siswa kelas 12 di pulangkan agar memberikan
kabar baik kepada keluarganya. Ketika aku akan pulang, Azi memegang tanganku.
“yang
jalan yu! Ngerayain kelulusan gittuhhh!” ajaknya.
“kemana?”
tanyaku.
“yaa
kemana aja gitu!” jawabnya.
“ajak
Nata yuuu!!!” omongku.
“iihh
ini khusus kita berdua aja yang.” Jelasnya.
“ya
udah, ayo! Tapi aku bilang sama Nata dulu yah!” omongku kembali.
“ga
usah yang, tadi aku udah bilang. Dia bilang ya udah ga apa-apa.” Jelasnya.
Entah benar atau tidak omongannya itu.
Lalu
aku diantarnya pulang ke rumah. Di rumah begitu sepi, ayah, ibu, dan kakak pergi
ke luar kota. Aku tidak ikut karena akan ada pembagian kelulusan. Tak lama
kemudian aku telah bersiap untuk pergi bersama Azi. Entah kenapa, janji itu aku
lupakan lagi. Ya ampuunn di sinilah penyesalanku mulai terasa. Aku pergi
bersama Azi sampai malam, aku lupa dengan janji ku kepada Nata untuk membuka
surat kelulusan.
Di
sekolah..
Nata
sedang duduk sendiri tepat pada pukul 17.00, dan kemudian mang Saleh bertanya.
“neng
Nata ngapain disini udah sore? Gerbangnya mau di tutup lo!” tanya mang Saleh
penjaga sekolah kedua.
“aku
lagi nunggu Nasya mang, kita mau membuka surat kelulusan bersama di sini. Jadi
aku mohon jangan tutup dulu yah mang, nanti kalau dia datang aku yang
menguncinya.” Jelasku.
“oh
gitu toh, ya udah neng mamang juga mau nginep di sekolah jadi, biar mamang aja
yang pegang kuncinya, nanti kalo udah di buka suratnya, terus mau pulang kasih
tau mamang yah.” Jelas mang Saleh.
“iyah
mang makasih. Sebelumnya.” Omong Nata.
Ketika
Nata sedang duduk di halaman sekolah, Bobi
melihat Nata. Bobi langsung mendekati Nata.
“Nata,
ngapain di sini? Pulang yu! Itu surat kelulusan belum dibuka?” tanya bobi kpada
Nata.
“aku
lagi nunggu Nasya. Iyah, aku berjanji sama Nasya mau membukanya bersama. Oh
iyah bob, apakah kamu mau menemaniku disini?” jelasnya dan ajaknya.
“ohh,
udah malam gini emang Nasya mau datang? Kan dia tadi lagi kencan sama pacarnya.
Mungkin aja kan dia udah buka surat kelulusannya, atau mungkin dia lupa sama
janjinya. Jadi kamu buka aja surat kelulusan mu terus kamu pulang, yah ini udah
malem Nat.” Omongnya kepada Nata.
Nata
tersenyum. “ngga Bobi aku percaya sama Nasya.” Jawabnya tenang.
“ya
udaahh aku temenin kamu yah!” tersenyum ramah dan tenang kepada Nata. Ketika
Bobi melihat nata. “Nat, kenapa kamu pucat? Kamu sakit? Sepertinya kamu lemas
sekali.” Cemasnya.
“aku
baik, ga kenapa-kenapa kok!” jawabnya pelan dan tenang.
“ya
udah aku beliin makanan dulu yah, oh iyah besok kita kesekolah lagi kan buat
latihan perpisahan 2 minggu lagi?” tanya bobi sebelum pergi membeli makannan.
“iyah,
kamu harus datang yang bob, aku belum tau datang atau ngga datang. Iyah makasih
udah mau ngebeliin makan.” Tersenyum tenang.
Bobi
tersenyum seperti tak mau meninggalkan Nasya, walaupun hanya akan membeli
makanan saja. Dan jaraknya tidak terlalu jauh. Ketika Bobi pergi, Nata
mengeluarkan foto Nasya dari kantong celananya. Dia terus menatapnya dengan air
mata. Tiba-tiba, darah menetes dari hidung Nata dan mengenai foto Nasya. Nata
menangis menatapnya. Dan iya berpikir
akan membuka surat kelulusan itu sendiri saja.
Di
Cafe..
Aku
sedang asik mengobrol dengan Azi, kemudian Azi memaksa agar aku membuka surat
kelulusanku. Dan akhirnya aku pun ingat! Ingat dengan janji ku kepada Nata, aku
meletakkan tanganku di mukaku, aku mengingkari janji Nata lagi, perasaan
menyesalku sudah terasa. Tapi akau hanya berpikir, besok aku akan meminta maaf
kepada Nata di sekolah, dan menjelaskan apa yang terjadi. Pikirku tenang. Dan
lagi-lagi Azi memaksaku agar cepat membuka surat kelulusan. Lalu aku mengajak
Azi untuk kerumah dan melihat surat kelulusanku.
Ketika
sampai di rumah, aku cepat mengambil surat kelulusan itu yang memang aku
tunggu-tunggu. Tapi hatiku sungguh tidak enak. Merasa sangat bersalah, kemudian
Azi menenangkanku.
“mungkin
Nata sudah membukanya dari sejak dia menunggu, dia mungkin tidak menunggu
sampai semalam ini. Dari sejak tadi mungkin dia sudah pulang kerumahnya. Dan
besok kamu bisa kan bertemu dengan Nata?” omongannya untuk menenangkanku.
Kemudian
aku membukanya dan ternyata hasilnya aku.... LULUS... aku bersenang hati dan bersyukur.
Azi pun ikut bersenang.
Di
sekolah,, Saat Nata membuka surat kelulusannya, dan ternyata hasilnya TIDAK
LULUS dia terdiam, dan melihat foto Nasya, darah kembali keluar dari hidungnya.
Ketika dia melihat foto Nasya, dia tersenyum dan tiba-tiba saja.. dia tak
sadarkan diri. Beberapa menit kemudian Bobi datang membawa makanan.
“Nata
ini aku belikan maka................” Bobi terkejut meilhat Nata yang sudah tak
sadarkan diri. Ia tak memperdulikan makanan yang baru ia beli itu. Ia langsung
merangkul Nata yang sudah tertidur kaku.
Sedangkan
aku? Aku bersenang-senang. Dan tak lupa mengabari ayah,ibu dan kakakku di luar
kota yang akan pulang besok malam. Aku melupakan Nata. Aku melupakan Janjinya.
Aku melupakan kabarnya. Padahal Bobi terus menelfon ku yang tidak aku angkat,
karena handphone ku tidak ku bawa.
TAKE 9
Keesokan
harinya, ketika aku melihat handphone ku, banyak sekali panggilan dari Bobi dia
me manggilku sebanyak 6 kali. Aku tidak langsung memberi sms atau telfon Bobi,
karena hari ini kita pasti bertemu di sekolah. Dan aku ingin segera pergi ke
sekolah juga, untuk memberikan kabar baik untuk Nata. Di sekolah, aku melihat
mading sekolah penuh di kerumuni orang-orang banyak. Dan akupun penasaran.
Segera saja aku menerobos untuk melihat mading yang membuatku penasaran itu.
Deg! Hatiku hancur. Air mataku tak dapat kubendung lagi. Aku tak tau harus
berbuat apa? Aku menyalahi diriku sendiri. Setelah aku melihat pengumuman yang
ada di mading itu.
TELAH
BERPULANGNYA KE RAHMATULLAH. SEORANG INSAN YANG BERNAMA “NATA SYARA AZWA”
KEMARIN MALAM TANGGAL 29 MEI 2010. Dikarenakan penyakit yang sudah lama di
deritanya yaitu “Leukeumia” semoga amal ibadahnya diterima oleh Allah SWT.
Amiiin
Turut berduka cita
Kami segenap guru.
Hatiku
benar-benar hancur! Aku terus menangis dan menangis, teman-temanku memelukku,
menenangkanku. Terutama Azi, ia ada di sisiku dan menenangkanku. Kemudian aku
berlari menuju rumah Nata. Disana ada Ibu, ayah, kak Rio, dan Nisa yang sedang
berkumpul dan bersedih. Aku melihatnya dengan tatapan yang penuh dengan air
mata. Yang Nata inginkan berkumpul besama keluarganya. Termasuk ayahnya. Dan
sekarang, ayahnya ada berkumpul sekeluarga. Akan tetapi Nata, Nata sudah Tiada.
Aku memeluk erat ibunya. Dan aku masuk kedalam kamar ibunya. Di atas kasur
Nata, ada dua buah surat dan satu foto ku dengannya. Ketikaku buka surat yang
pertama, ternyata itu adalah sebuah surat kelulusan yang menyatakan Nata tidak
lulus. Aku menangis kembali. Aku membayangkan betapa bodohnya aku!
Dan
aku membaca surat yang kedua. Dengan isi yang sangat menyentuhku. Dan membuatku
sangat menyesal.
Assalamualaikum
wr.wb.
Apa
kabarmu Sahabat ku? Aku menyayangimu, aku harap kau tau betapa aku sangaat
menyayangimu. Aku ingin setelah kau membaca surat ini, kamu menjengukku. Aku
sengaja tidak memberi tahu mu tentang penyakitku yang telah lama aku derita.
Karena aku tidak mau menyusahkanmu, tidak mau kalau kamu mencemaskan ku. Jika
aku sudah tiada nanti, ku harap kau menyimpannya,dan menyimpan semua kenangan
kita dari waktu kita sd,smp,dan sampai saat ini SMA. Ketika nanti dibagi
kelulusan, aku ingin kita membuka surat kelulusannya berdua di sekolah, hanya
itu yang ku inginkan. Apakah kau bisa melakukannya? Dan ketika kita buka surat
kelulusan itu bersama, aku dan kamu tersenyum dan menangis bahagia dengan
kelulusan yang menyatakan kita berdua LULUS. Lalu, kita bersekolah di
Universitas terkenal di Indonesia ini. Dan meraih masa depan bersama. Itu hanya
sebuah harapan ku, tapi untuk mu? Itu akan menjadi sebuah kenyataan. Maafkan
aku sahabat, jika aku tidak pernah mengabarimu dan membohongimu. Aku harap kau
bisa mamaafkanku. Aku tidak akan pernah menyimpan dendam untuk mu sahabat.
Sahabat, berjuanglah untuk masa depanmu. Karna itu tidak akan bisa ku lakukan
lagi, aku sudah tak berdaya, sekarang aku menjadi lemah, tidak seperti yang
kamu pikirkan lagi, kalau aku seorang yang tidak pernah putus asa! Itu yang
selalu kau katakan, tapi kali ini tidak. Aku seorang anak yang lemah!
Terimakasih sahabat, kau telah membuat hari-hariku selalu berwarna!
Untuk sahabat tercintaku Nasya Putri Rahman
Nata Syara Azwa 22 Mei 2010
Itulah surat
terakhir dari nya! Aku benar-benar menyesal, aku tak tahu kalau malam itu malam
terakhir dia ada di bumi ini. Selamat jalan sahabat terbaikku aku tidak akan
pernah melupakanmu, aku akan selalu mengenangmu. Maafkan aku sahabat!
“Penyesalan tidak akan datang dari awal.”
SEKIAN
#Maaf nih yaa kalo banyak kesalahan di dalam penulisan :) baru belajar nih~
.jpg)
Banyak kata, Panjang, Bagus, Keren, Rapih, :v
BalasHapusdan soal penyesalan, yah begitulah, menyesal itu menyakitkan... Disana kita benar-benar sadar bahwa waktu itu sangat berharga, ia takkan datang kembali.. :) Salam