TERJAWAB SUDAH…..
Bruuukkk… tumpukan buku tiba-tiba
muncul dihadapanku. Rani teman dekatku menyimpan buku-buku itu dengan lumayan
keras. Aku menatap rani kesal.
“wooy
masih pagi iniii.. kenapa bengong aja tan? Masih muda udah mikirin utang!”
tegur Rani sambil duduk dibangku sebelahku.
Tan,
ya sebut saja namaku Tania. Aku hanya menjawab dengan senyuman. Yaa senyuman
palsu.
Pagi
itu warna dihatiku kelabu, gelap, dan tak ada warna yang menghiasinya. Oh sial
ini benar-benar sulit. Aku tak bisa merasaan keindahan di pagi ini. Ayollaah!
Huuaaah
untungnya sekolah mengerti dengan keadaan hatiku. Guru-guru rapat dan sekolah
dibebaskan. Bahkan murid-murid dipulangkan. Tapi tidak dengan ku, aku mengajak
Rani untuk diam disekolah. Okey dengan paksaanku Rani mau menemaniku. Aku duduk
di depan kelasku yang berhadapan dengan lapangan upacara disekolah.
“ran,
kamu tau seseorang yang sedang berdiri di depan pintu kelas seni itu?” tanyaku
sambil mengarahkan pandanganku ke sosok laki-laki berpenampilan sederhana
meskipun memakai baju seragam sekolah tapi terlihat sangat tak biasa yang
sedang berbicara dengan teman-temannya.
“oh
Nova? Boby? atau Rakha?” Tanya Rani kembali.
“itu
yang yang lagi berdiri depan pintunya banget. Rakha.” Jawabku sambil berbisik
kepada Rani.
“haah?
Oh iya iya, kenapa emang? kamu suka sama dia?” seru Rani dengan suara yang
lumayan keras.
“suuuttt
biasa aja dong! Iya kayanya aku suka sama dia.” Jawabku sambil memandang Rakha.
“ko
bisa? Sejak kapan kamu suka sama dia? Bukannya kalian deket?”Tanya Rani.
“yang
pasti sejak aku dan dia saling kenal. Iya kita deket. Deket banget malah. Pergi
dan pulang sekolah aku sama dia. Bahkan aku tau semua tentang dia.” Curhat ku.
Rani
memandangku dengan cukup serius dengan pandangan heran.
“tapi
kayanya gak mungkin deh kalo aku pacaran sama dia.” Tak hentinya ku pandangi
sosok laki-laki itu.
“kenapa
gak mungkin? Gak ada yang gak mungkin kali di dunia ini. Ungkapin aja perasaan
kamu sama dia, kali aja dia ngerasain perasaan yang sama.” Omong rani sambil
menyenggol pundakku.
Aku
menutup mata dan mengambil nafas. “pertemanan. Yaa pertemanan itu yang menjadi
salah satu halangan.”
“hah?
Halangan? Kenapa dijadiin halangan? Jahat kamu nuduh pertemanan!” omong Rani.
“aku
gak jahat, coba deh kamu ada di posisi aku. Kamu ngerasaan perasaan ini, sulit banget buat dijalani, kamu bakalan nuduh
apapun.” Kualihkan pandangan ku dengan menatap Rani.
“yang paling sakit buat aku, Rakha
sering nyeritain seseorang yang sangat dia sayangi bahkan dia cintai. Gimana hati aku gak hancur? Dan semalam dia curhat
lagi tentang perempuan itu. Itu yang ngebuat pagi aku buruk.” Aku memandang
kembali Rakha dan mengeluarkan nafas.
“mmmm
santai dong, kamu gak usah sesedih ini. Siapa emang cewe itu? Kamu kenal?”
Tanya Rani.
“aku
gak kenal, dia gak pernah sebutin namanya. Ketika aku Tanya siapa namanya, dia
cuman bilang nanti juga kamu tahu sendiri. Dan itu semakin membuat aku
penasaran.” Jawabku sambil menunduuk.
Rani
tak berkutik. Yaa Rani adalah seorang teman yang baik tapi dia tidak pernah
mengerti tentang masalah hati. Dia cuman bisa pura-pura ikut merasakan. Dia
masih kekanak-kanakan.
“eh
eh si Rakha liatin kamu tuh” seru Rani dengan menyenggol-nyenggol bahuku.
Aku
menaikkan kepala dan mataku langsung melihat Rakha yang tersenyum dan
melambaikan tangannya kepadaku. Ku balas lambaian tangannya dengan senyum dan
lambaian tanganku. Senyumnya manis meski terlihat dari kejauhan. Oh tidak!
Rakha berjalan kearahku, aku harus berbuat apa? Kenapa tiba-tiba aku jadi gugup
dan bertingah aneh.
“rani
rani raniiii. Dia kesini, kamu diam ya jangan ngomong apa-apa please please!!”
seruku sambil memegang tangan Rani dengan erat.
“
iyaa iyaa yaampun sibuk banget sih kamu!!” sambil membantingakn tanganku.
Okey
Rakha semakin mendekat kearah ku. Aku terus memandanginya. Oh Tuhaan semakin
dekat wajahnya semakin jelas dan ketampanannya semakin terpancar, dia terus
tersenyum kepadaku.
“hey
tan, kenapa belum pulang?” Tanya Rakha yang langsung duduk di pinggirku.
“pengen
aja.” Jawabku sambil tersenyum melihat mata Rakha.
“kan
nungguin kamu kha, masa aja sih gak peka duuuh.” Seru Rani memotong pembicaraan
aku dan Rakha.
“apaan
sih kamu ran! Heboh banget deh.” Bentakku sambil menyenggol Rani.
Rakha
hanya tertawa, oh tuhaan suara tawanya membuat hatiku berwarna kembali. Tapi
mengingat curhatan Rakha semalam, tiba-tiba saja aku tak mau berbicara dengan
dia. Okey hatiku kelabu kembali.
“mau
pulang bareng gak tan? Aku mau ngomong sama kamu.” Ajak Rakha sambil menatap
wajahku. Oh tuhaan jangan menatap gitu dong, jadi kaku deh semuanya.
“heeyy
Tania, pulang bareng gak?” ajaknya kembali.
Kali ini dengan nada paksaan. Aku harus
bagaimana? Dia bilang ingin ngomong sesuatu sama aku. Ohh siaal dia mau cerita
tentang perempuan yang membuat dia melupakan dunianya. Aku belum menjawab
ajakannya. Aku mau nerima ajakannya tapi jika aku terima dia akan cerita
tentang hatinya dan hati aku akan hancur. Belum juga reda sisa sakit semalam
masa sudah mau ditambah lagi.
“taniaaa kok bengong sih?” Tanya
Rakha.
“adduuh khaa.. dia pasti maul ah
pulang bareng sama kamu. Ya kan taan?” seru Rani sambil menyubit lenganku.
“a..a..a..aku sama Rani aja deh pulangnya.” Jawabku dengan
sedikit kaku.
“sama aku? Please deeh sejak kapan
kita pulang bareng tan? Rumah kita kan gak searah. Udah sama Rakha aja. Dia mau
ngomong sesuatu sama kamu tan. Ya kan kha ya kan?” omong rani.
“iya deh aku pulang sama kamu.”
Hmmm dengan hati deg degan aku iyakan ajakan Rakha.
“ya udah deh kalian kan mau pulang
bareng, nah aku mau pulang duluan yaa masih pagi nih mau lanjut tidurrr
hehehe.” Sambil Berdiri Rani pun pergi dari hadapan ku.
Ooh kenapa jadi panas gini sih,
ditinggal berdua Rakha. Tidak bisa berkata-kata. Aku hanya terdiam, aku harus
bicara apa. Oh tidaak perasaan ini baru muncul. Tidak seperti biasanya.
“loh ko diem sih? Tumben biasanya
banyak omong hahaha. Yu pulang sekarang aja.” Ajak Rakha sambil berdiri dan
meraih tanganku.
Aku tersenyum dan benar-benar tidak
bisa berkutik sedikitpun.
Diperjalanan, kita tidak berbicara.
Tumben, melihat wajah Rakha di balik spion motornya, dia terlihat sedang
memikirkan sesuatu. Aku memulai pembicaraan.
“mmmm kha, katanya mau ngomong
sesuatu, apaan?” aku tidak berharap pertanyaan ini dijawab.
“oh iya, tar aja deh dirumah kamu
ya. Aku boleh mampir rumah kamu kan?” Jawabnya yang terus memerhatikan jalan
didepannya.
“hah? Bo…bo..boleh boleh.” Apaa?
Rakha mau kerumahku. Oh ayolah jangan gugup seperti ini, biasanya juga kan
Rakha emang sering kerumah.
Dan akhirnya sampai juga ke rumah.
Aku mengajak Rakha masuk. Dan tiba-tiba saja Rakha meraih tangan kiriku.
“disini aja boleh gak ngomongnya?
Bentar ko. Tapi pasti kamu jawabnya lama.” Omong Rakha yang terus memegangi
tanganku.
“ mmm kenapa gak didalem aja,
yaudah deh boleh, ngomong apa?” tanyaku.
“kamu tahu perempuan yang sering
aku ceritakan? Perempuan yang aku sayangi? Perempuan yang aku cintai, perempuan
yang hamper melupakan dunia ku?” tanyanya yang belum melepaskan tanganku.
Aku mengangguk, dan siapkan hati!
Ini pasti buruk, dia pasti cerita kalau dia sudah pacaran sama perempuan itu
aaah tahan tahan. Jangan sakit hati dulu.
Rakha memegang tangan kanan ku dan
sekarang Rakha memegang kedua tanganku. Ooh aku gugup sekali. “perempuan itu
kamu tan. Aku suka sama kamu, aku sayang sama kamu. Kamu mau jadi pacar aku?”
Rakha masih memegang erat tanganku. Haah? Perempuan itu aku? Okey saat ini aku
merasa sangat tak karuan, aku harus bagaimana ini? Aku juga menyukainya bahkan
mungkin melebihi perasaan dia. Aku memandang wajahnya. Dia tersenyum kapadaku.
“aku gak maksa kamu buat jawab
sekarang ko.” Rakkha mengelus kepalaku dengan lembut ya walaupun merusak
poniku. “Kamu boleh masuk rumah, jawab pertanyaanku kapan saja boleh, asal
sebelum kamu jawab pertanyaanku, kamu gak boleh benci dulu ya sama ku.” Dia
melepas tanganku.
Aku masih terdiam, masih tak bisa
berbicara. Apakah ini mimpi? Mulutku sulit berbicara. Kenapa ini sebelum Rakha
pergi jawab dulu dongg jawab. Cuman bilang Iya aja susah. Aku bergumam dalam
hati. Rakha tersenyum dan menyalakan motornya.
“aku mau jadi pacar kamu. Aku juga
suka sama kamu. Aku sayang sama kamu, bahkan sayang aku ke kamu melebihi sayang
kamu ke aku. Aku gak berani mengungkapkan perasaanku sama kamu, aku takut kalau
perasaanku akan merusak pertemanan kita. Aku takut kamu jauh sama aku.”spontan
saja kata-kata itu keluar dari mulutku. Aku tertunduk malu.
Suara motor tidak terdengar lagi di
depanku. Aku tidak berani menatap Rakha. Dan tiba-tiba….. Rakha memelukku.
Hatiku terasa meledak. Air mataku tiba-tiba keluar, ini yang dinamakan air mata
kebahagiaan?
“kamu gak usah takut. Sekarang aku
akan selalu ada buat kamu. Aku akan menjagamu, aku janji. Tapi jika aku
mengingkari janji, kamu boleh membenciku sepenuhnya, kamu boleh menganggapku
sampah. Pertemanan kita tidak akan pernah rusak selamanya..” omong Rakha.
Dia memelukku erat, dia
mengelus-elus kepalaku. Aku memeluknya kembali. Ini yang dinamakan hari buruk?
Hahaha tidak.
Tidak ada hari yang buruk. Hanya
saja kita yang membuat harinya buruk. Jalani saja, sejauh apa kamu bisa
menjalani keburukan itu? Dan pada akhirnya waktu menjawab semua pertanyaanku.
Tuhan mengabulkan permintaanku. Dan hati merubah warna kelabu menjadi pelangi
indah. Terimakasih kau tidak takut untuk mengungkapkan segala perasaanmu. Tidak
seperti aku yang terus menunggumu dengan ketakutan dan kesakitan, meskipun
akhirnya kau menjadi milikku dan melenyapkan semua ketakutan dan kesakitanku..
males ah bacanya juga de, hahaha
BalasHapusJahatlah muti :((((
BalasHapus