Rabu, 04 Desember 2013

Akhirnya.......


TERJAWAB SUDAH…..
Bruuukkk… tumpukan buku tiba-tiba muncul dihadapanku. Rani teman dekatku menyimpan buku-buku itu dengan lumayan keras. Aku menatap rani kesal.
            “wooy masih pagi iniii.. kenapa bengong aja tan? Masih muda udah mikirin utang!” tegur Rani sambil duduk dibangku sebelahku.
            Tan, ya sebut saja namaku Tania. Aku hanya menjawab dengan senyuman. Yaa senyuman palsu.
            Pagi itu warna dihatiku kelabu, gelap, dan tak ada warna yang menghiasinya. Oh sial ini benar-benar sulit. Aku tak bisa merasaan keindahan di pagi ini. Ayollaah!
            Huuaaah untungnya sekolah mengerti dengan keadaan hatiku. Guru-guru rapat dan sekolah dibebaskan. Bahkan murid-murid dipulangkan. Tapi tidak dengan ku, aku mengajak Rani untuk diam disekolah. Okey dengan paksaanku Rani mau menemaniku. Aku duduk di depan kelasku yang berhadapan dengan lapangan upacara disekolah.
            “ran, kamu tau seseorang yang sedang berdiri di depan pintu kelas seni itu?” tanyaku sambil mengarahkan pandanganku ke sosok laki-laki berpenampilan sederhana meskipun memakai baju seragam sekolah tapi terlihat sangat tak biasa yang sedang berbicara dengan teman-temannya.
            “oh Nova? Boby? atau Rakha?” Tanya Rani kembali.
            “itu yang yang lagi berdiri depan pintunya banget. Rakha.” Jawabku sambil berbisik kepada Rani.
            “haah? Oh iya iya, kenapa emang? kamu suka sama dia?” seru Rani dengan suara yang lumayan keras.
            “suuuttt biasa aja dong! Iya kayanya aku suka sama dia.” Jawabku sambil memandang Rakha.
            “ko bisa? Sejak kapan kamu suka sama dia? Bukannya kalian deket?”Tanya Rani.
            “yang pasti sejak aku dan dia saling kenal. Iya kita deket. Deket banget malah. Pergi dan pulang sekolah aku sama dia. Bahkan aku tau semua tentang dia.” Curhat ku.
            Rani memandangku dengan cukup serius dengan pandangan heran.
            “tapi kayanya gak mungkin deh kalo aku pacaran sama dia.” Tak hentinya ku pandangi sosok laki-laki itu.
            “kenapa gak mungkin? Gak ada yang gak mungkin kali di dunia ini. Ungkapin aja perasaan kamu sama dia, kali aja dia ngerasain perasaan yang sama.” Omong rani sambil menyenggol pundakku.
            Aku menutup mata dan mengambil nafas. “pertemanan. Yaa pertemanan itu yang menjadi salah satu  halangan.”
            “hah? Halangan? Kenapa dijadiin halangan? Jahat kamu nuduh pertemanan!” omong Rani.
            “aku gak jahat, coba deh kamu ada di posisi aku. Kamu ngerasaan perasaan ini,  sulit banget buat dijalani, kamu bakalan nuduh apapun.” Kualihkan pandangan ku dengan menatap Rani.
“yang paling sakit buat aku, Rakha sering nyeritain seseorang yang sangat dia sayangi bahkan dia cintai. Gimana  hati aku gak hancur? Dan semalam dia curhat lagi tentang perempuan itu. Itu yang ngebuat pagi aku buruk.” Aku memandang kembali Rakha dan mengeluarkan nafas.
            “mmmm santai dong, kamu gak usah sesedih ini. Siapa emang cewe itu? Kamu kenal?” Tanya Rani.
            “aku gak kenal, dia gak pernah sebutin namanya. Ketika aku Tanya siapa namanya, dia cuman bilang nanti juga kamu tahu sendiri. Dan itu semakin membuat aku penasaran.” Jawabku sambil menunduuk.
            Rani tak berkutik. Yaa Rani adalah seorang teman yang baik tapi dia tidak pernah mengerti tentang masalah hati. Dia cuman bisa pura-pura ikut merasakan. Dia masih kekanak-kanakan.
            “eh eh si Rakha liatin kamu tuh” seru Rani dengan menyenggol-nyenggol bahuku.
            Aku menaikkan kepala dan mataku langsung melihat Rakha yang tersenyum dan melambaikan tangannya kepadaku. Ku balas lambaian tangannya dengan senyum dan lambaian tanganku. Senyumnya manis meski terlihat dari kejauhan. Oh tidak! Rakha berjalan kearahku, aku harus berbuat apa? Kenapa tiba-tiba aku jadi gugup dan bertingah aneh.   
            “rani rani raniiii. Dia kesini, kamu diam ya jangan ngomong apa-apa please please!!” seruku sambil memegang tangan Rani dengan erat.
            “ iyaa iyaa yaampun sibuk banget sih kamu!!” sambil membantingakn tanganku.
            Okey Rakha semakin mendekat kearah ku. Aku terus memandanginya. Oh Tuhaan semakin dekat wajahnya semakin jelas dan ketampanannya semakin terpancar, dia terus tersenyum kepadaku.
            “hey tan, kenapa belum pulang?” Tanya Rakha yang langsung duduk di pinggirku.
            “pengen aja.” Jawabku sambil tersenyum melihat mata Rakha.
            “kan nungguin kamu kha, masa aja sih gak peka duuuh.” Seru Rani memotong pembicaraan aku dan Rakha.
            “apaan sih kamu ran! Heboh banget deh.” Bentakku sambil menyenggol Rani.
            Rakha hanya tertawa, oh tuhaan suara tawanya membuat hatiku berwarna kembali. Tapi mengingat curhatan Rakha semalam, tiba-tiba saja aku tak mau berbicara dengan dia. Okey hatiku kelabu kembali.
            “mau pulang bareng gak tan? Aku mau ngomong sama kamu.” Ajak Rakha sambil menatap wajahku. Oh tuhaan jangan menatap gitu dong, jadi kaku deh semuanya.
            “heeyy Tania, pulang bareng gak?” ajaknya kembali.
 Kali ini dengan nada paksaan. Aku harus bagaimana? Dia bilang ingin ngomong sesuatu sama aku. Ohh siaal dia mau cerita tentang perempuan yang membuat dia melupakan dunianya. Aku belum menjawab ajakannya. Aku mau nerima ajakannya tapi jika aku terima dia akan cerita tentang hatinya dan hati aku akan hancur. Belum juga reda sisa sakit semalam masa sudah mau ditambah lagi.
“taniaaa kok bengong sih?” Tanya Rakha.
“adduuh khaa.. dia pasti maul ah pulang bareng sama kamu. Ya kan taan?” seru Rani sambil menyubit lenganku.
“a..a..a..aku  sama Rani aja deh pulangnya.” Jawabku dengan sedikit kaku.
“sama aku? Please deeh sejak kapan kita pulang bareng tan? Rumah kita kan gak searah. Udah sama Rakha aja. Dia mau ngomong sesuatu sama kamu tan. Ya kan kha ya kan?” omong rani.
“iya deh aku pulang sama kamu.” Hmmm dengan hati deg degan aku iyakan ajakan Rakha.
“ya udah deh kalian kan mau pulang bareng, nah aku mau pulang duluan yaa masih pagi nih mau lanjut tidurrr hehehe.” Sambil Berdiri Rani pun pergi dari hadapan ku.
Ooh kenapa jadi panas gini sih, ditinggal berdua Rakha. Tidak bisa berkata-kata. Aku hanya terdiam, aku harus bicara apa. Oh tidaak perasaan ini baru muncul. Tidak seperti biasanya.
“loh ko diem sih? Tumben biasanya banyak omong hahaha. Yu pulang sekarang aja.” Ajak Rakha sambil berdiri dan meraih tanganku.
Aku tersenyum dan benar-benar tidak bisa berkutik sedikitpun.
Diperjalanan, kita tidak berbicara. Tumben, melihat wajah Rakha di balik spion motornya, dia terlihat sedang memikirkan sesuatu. Aku memulai pembicaraan.
“mmmm kha, katanya mau ngomong sesuatu, apaan?” aku tidak berharap pertanyaan ini dijawab.
“oh iya, tar aja deh dirumah kamu ya. Aku boleh mampir rumah kamu kan?” Jawabnya yang terus memerhatikan jalan didepannya.
“hah? Bo…bo..boleh boleh.” Apaa? Rakha mau kerumahku. Oh ayolah jangan gugup seperti ini, biasanya juga kan Rakha emang sering kerumah.
Dan akhirnya sampai juga ke rumah. Aku mengajak Rakha masuk. Dan tiba-tiba saja Rakha meraih tangan kiriku.
“disini aja boleh gak ngomongnya? Bentar ko. Tapi pasti kamu jawabnya lama.” Omong Rakha yang terus memegangi tanganku.
“ mmm kenapa gak didalem aja, yaudah deh boleh, ngomong apa?” tanyaku.
“kamu tahu perempuan yang sering aku ceritakan? Perempuan yang aku sayangi? Perempuan yang aku cintai, perempuan yang hamper melupakan dunia ku?” tanyanya yang belum melepaskan tanganku.
Aku mengangguk, dan siapkan hati! Ini pasti buruk, dia pasti cerita kalau dia sudah pacaran sama perempuan itu aaah tahan tahan. Jangan sakit hati dulu.
Rakha memegang tangan kanan ku dan sekarang Rakha memegang kedua tanganku. Ooh aku gugup sekali. “perempuan itu kamu tan. Aku suka sama kamu, aku sayang sama kamu. Kamu mau jadi pacar aku?” Rakha masih memegang erat tanganku. Haah? Perempuan itu aku? Okey saat ini aku merasa sangat tak karuan, aku harus bagaimana ini? Aku juga menyukainya bahkan mungkin melebihi perasaan dia. Aku memandang wajahnya. Dia tersenyum kapadaku.
“aku gak maksa kamu buat jawab sekarang ko.” Rakkha mengelus kepalaku dengan lembut ya walaupun merusak poniku. “Kamu boleh masuk rumah, jawab pertanyaanku kapan saja boleh, asal sebelum kamu jawab pertanyaanku, kamu gak boleh benci dulu ya sama ku.” Dia melepas tanganku.
Aku masih terdiam, masih tak bisa berbicara. Apakah ini mimpi? Mulutku sulit berbicara. Kenapa ini sebelum Rakha pergi jawab dulu dongg jawab. Cuman bilang Iya aja susah. Aku bergumam dalam hati. Rakha tersenyum dan menyalakan motornya.
“aku mau jadi pacar kamu. Aku juga suka sama kamu. Aku sayang sama kamu, bahkan sayang aku ke kamu melebihi sayang kamu ke aku. Aku gak berani mengungkapkan perasaanku sama kamu, aku takut kalau perasaanku akan merusak pertemanan kita. Aku takut kamu jauh sama aku.”spontan saja kata-kata itu keluar dari mulutku. Aku tertunduk malu.
Suara motor tidak terdengar lagi di depanku. Aku tidak berani menatap Rakha. Dan tiba-tiba….. Rakha memelukku. Hatiku terasa meledak. Air mataku tiba-tiba keluar, ini yang dinamakan air mata kebahagiaan?
“kamu gak usah takut. Sekarang aku akan selalu ada buat kamu. Aku akan menjagamu, aku janji. Tapi jika aku mengingkari janji, kamu boleh membenciku sepenuhnya, kamu boleh menganggapku sampah. Pertemanan kita tidak akan pernah rusak selamanya..” omong Rakha.
Dia memelukku erat, dia mengelus-elus kepalaku. Aku memeluknya kembali. Ini yang dinamakan hari buruk? Hahaha tidak.
Tidak ada hari yang buruk. Hanya saja kita yang membuat harinya buruk. Jalani saja, sejauh apa kamu bisa menjalani keburukan itu? Dan pada akhirnya waktu menjawab semua pertanyaanku. Tuhan mengabulkan permintaanku. Dan hati merubah warna kelabu menjadi pelangi indah. Terimakasih kau tidak takut untuk mengungkapkan segala perasaanmu. Tidak seperti aku yang terus menunggumu dengan ketakutan dan kesakitan, meskipun akhirnya kau menjadi milikku dan melenyapkan semua ketakutan dan kesakitanku..

2 komentar: