Kamis, 21 November 2013

Menunggumu Apakah Untuk Selamanya?


Ini mungkin sudah masuk taun ke 7. Ya 7 tahun aku suka, sayang, cinta, sama kamu.. sejak itu aku duduk di kelas 5 Sekolah Dasar dan kamu duduk di kelas 6 Sekolah Dasar. Hehehe cinta monyet nya banget yaa. Dulu kamu pernah bilang kalau kita TTM an  (teman tapi mesar) hihihi lucu banget sih. Yaa namanya juga anak SD masih kecil, kecil banget malah. Gatau harus ngomong apa, yang penting aku seneng banget waktu itu.

            Perpisahan.. waktu itu mau masuk SMP, aku sedih loh, aku berfikir kalau aku gaakan ketemu kamu lagi setiap hari, gaakan curi curi pandang lagi ketika istirahat, gaakan ngobrol sambil malu malu gitu lagi, gaakan cari perhatian lagi ke kamu. Rumah kita tidak terlalu jauh ko, jaraknya sekitar setengah kilo meter. Hehe tapi walaupun rumah kita tidak terlalu jauh, tetep saja aku sulit bertemu sama kamu, sulit ngeliat kamu, sulit nyari kabar kamu, ah serba sulit deh. Tapi tuhan mungkin berkata lain, aku masih sering liat kamu, masih sering cari perhatian ke kamu, aku sering denger kabar kamu dari temen temen kamu ko.

            Satu tahun berlalu, akhirnya aku juga ngerasain arti kata Perpisahan. Yaa itu jadi perpisahan pertamaku, perpisahan sama orang tua, keluarga, temen-temen, guru-guru SD, tetangga-tetangga pastinya perpisahan sama kamu juga. Aku memilih SMP yang jauh dari rumah, dan pastinya memilih SMP plus Modern yang ada di Jatinangor hehe, gak terlalu jauh dari rumah ku, dengan waktu satu jam saja bisa sampai ko. Aku punya banyak temen temen baru disini. Selama di Jatinangor aku selalu mikir, kalau kamu bakalan aku lupain, so jelass disini banyak cowok cowok ganteng, baik, pengertian hehehe dan ternyata dugaanku salah, aku gabisa lupa sama kamu, bahkan ketika aku punya pacar pertama, aku belum lupa sama kamu, walaupun Cinta kamu terbagi dua. Aku malah semakin merindukan kamu, bahkan ketika sosok laki laki pertama yang menjadi kekasihku menyakitiku rasa Rinduku kepada kamu semakin menjadi jadi. Aku semakin sulit lupa sama kamu, sampai sampai aku sering sakit hehehe ( tapi sakit aku bukan sepenuhnya karna kamu ko). Aku sering meminta ijin dan beralasan untuk pulang kerumah agar aku bisa ketemu sama kamu. Konyol sekali yaa.. 3 tahun aku duduk di SMP yang jauh dari rumah. Dan akhirnya… aku merasakan Perpisahan kembali..

            Sekarang aku udah masuk SMA (sekolah menengah atas). Aku memilih untuk bersekolah di SMA dekat rumah jaraknya 5 km dari rumah. Aku punya teman teman baru lagi. Dan yang pastinya hati aku masih menyimpan Kamu, otak aku masih memikirkan kamu. Lama aku tidak mendengar kabarmu, entah kapan terakhir aku mendengar kabar kamu, yang pasti teman teman ku yang pernah sesekolah sama kamu memberi kabar baik tentang kamu, aku senang saat itu mendengarnya. Saat di SMA aku juga berfikir kalau kamu akan lenyap di fikiran ku, hati aku, hidup aku. Tapi dugaanku salah lagi hahaha kamu malah semakin nempel aja, aku sering mendengar kabar kamu sekarang, teman teman dekatku ternyata banyak yang satu sekolah dengan kamu, dan mereka mencuri informasi tentang kamu buat aku hahaha konyol sekali. waktu aku kelas 11 dan kamu kelas 12, kita tidak satu sekolah, tapi aku merasa dekat sama kamu, aku merasakan kamu ada. Hampir setiap malam minggu aku mendengar kabar kamu dari teman teman, mereka menceritakan kamu dengan heboh haha kamu berprestasi, kamu bijaksana, kamu menjadi pemimpin. Aku semakin kagum sama kamu, aku semakin ingin melihatmu, aku semakin ingin memilikimu, aku semakin merindukanmu. Khayalan khayalan tentang kamu selalu aku ceritakan kepada semua orang yang aku kenal, semua mengetahuinya hahaha, yaa aku kekanak kanakan, aku tidak tahu malu, hahaha itu karna kamu. Saat ulang tahun ku yang berumur 16 tahun, aku bahagia, kamu mengirim pesan ucapan untukku, walaupun tidak secara langsung hanya melalui teman temanku dan asal kamu tahu, pesan itu masih aku simpan. Aku sangat bahagia, aku selalu tersenyum melihat pesan itu. Itu hadiah yang paling istimewah setelah doa dari kedua orang tua ku. Selang 1 hari dari ulang tahunku, aku mengirim sms ucapan terimakasih kepada kamu, walaupun bukan aku yang mengirimnya, mana berani aku mengirim pesan untukmu. Teman-teman menjahili ku, hp aku dipinjam dan ternyata itu hanya untuk mengirimkan pesan untuk kamu. Hahaha aku malu tapi aku bahagia bisa mendengar kabar kamu langsung dari kamu. Kita saling bertukar kabar hahaha. Tapi beberapa waktu berlalu, kamu menghilang lagi.

Disela sela waktu, hati aku, fikiran aku, hari hari aku, teralihkan oleh sosok laki laki yang selalu membuatku tertawa, yang selalu memberiku candaan candaan yang unik, dia menjadi kekasihku. Lagi lagi aku menduakan Cinta aku untuk kamu. Hehehe tapi aku tidak pernah mendengar kabar tentang kekasihmu, kabar tentang kisah cinta kamu, walaupun kenyataanya, kamu pasti sudah pernah memiliki kekasih, sudah pernah membagi cerita cinta, dan yang pasti seseorang yang pernah menjadi kekasihmu merasa bangga dan sangat bahagia. Tapi kisah Cintaku dengan sosok laki laki itu, lenyap sudah, dengan waktu satu bulan, kisah yang ingin aku pertahankan, kisah yang membuat aku bisa melupakanmu berakhir begitu cepat, aku menangis, aku merasakan kembali rasa sakit dihati. Aku tidak menyalahkan laki-laki itu, aku sudah mengerti kalau ini hanya sebuah takdir untuk dijalankan. Gagal lagi cara aku melupakan kamu, menghilangkan kamu dari fikiran, menghapus kamu dari hati. Apa ini takdir aku juga untuk memilikimu? Hahaha GR sekali, PD sekali aku.

Kenaikan kelas, dan pastinya kamu sudah melalu perpisahan, hahaha aku mendengar kabar lebih jelasnya aku mencuri kabar tentang kamu, kalau kamu sudah memiliki kekasih. Hatiku hancur, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan, marah kepadamu? Memaksa agar kamu aku miliki? Itu tidak mungkin, aku tidak bisa menangis, karena kamu tidak pernah bisa membuatku menangis meski kamu menyakitiku. Kamu ingat saat aku menemukan akun Twitter kamu? Aku bahagia, aku mendahului dan menanyakan kabar tentang kamu. Dan tiba tiba saja kamu membalasnya, hahaha senang sekali rasanya. Aku tahu kamu sudah memiliki seseorang dan aku tidak ingin merusak hubungan kamu, aku cukup sadar untuk tidak terlalu berlebihan sama kamu. Meskipun kamu sudah memiliki seseorang yang sangat kamu cintai, meskipun aku sering melihat percakapan kamu dengan perempuan itu di media social yang begitu romantic dan membuat hatiku panas, hatiku hancur, tapi tetap saja, hatiku kuat untuk tetap menyayangimu. Meskipun banyak lelaki lain yang mungkin bisa lebih baik dari kamu, tetap saja aku gagal, mereka serasa belum tepat untuk diam dihatiku, mereka serasa tidak akan pernah tepat untuk kumiliki. Sampai saat ini, sampai menit ini, detik ini, aku masih memikirkanmu, aku masih ingin memilikimu, aku masih merindukanmu, aku masih berharap. Meskipun kamu tidak mengetahuinya, dan mungkin tidak akan pernah mengetahuinya, karena aku tidak berani mengungkapkan perasaanku kepada mu. Sekarang jarak kita sangat jauh, kamu memilih unversitas yang tepat, kamu memilih universitas yang jauh untukku ikuti, awalnya aku ingin meneruskan sekolahku yang sefakultas dengan kamu setelah lulus nanti, tapi itu tidak mungkin, aku punya tujuan lain. Aku tidak harus mengikutimu, aku tidak harus memikirkanmu, aku tidak harus menyiksa diriku sendiri, aku tidak harus menjadikan kamu alasan hidup aku, aku salah menjadikanmu sosok yang membuatku seperti ini, kamu tidak tahu apa apa tapi aku melibatkanmu dan membuatmu seakan akan orang yang salah. Aku minta maaf untuk semua yang aku lakukan. Aku akan melupakanmu jika itu yang terbaik, aku akan mengenangmu jika hanya ini yang bisa aku lakukan. Sejujurnya aku masih berharap memilikimu seutuhnya dan selamanya. Maaf jika ini membuamu terganggu. Karena entah sampai kapan aku harus seperti ini, menunggumu dan mengharapkanmu.

           

Dari seseorang yang selama ini melibatkanmu dalam hidupnya..

Seseorang yang hanya ingin memilikimu tanpa sepengetahuanmu

Seseorang yang hanya bisa bermimpi mendapatkanmu

 

Semoga melalui tulisan ini, kamu tahu semua perasaanku. Karena hanya ini caraku untuk mengungkapkan segala perasaanku.

Sabtu, 04 Mei 2013

Iteung Milikny?



Cerita kali ini gue ambil dari cerita yang mau gue jadiin Drama Sunda, yang ternyata ga jadi pake cerita ini yaudah deh gue posting aja ke blogg ini. semoga nyambung deh~ hihihi


Ternyata Iteung Miliknya…

Suatu hari, di sebuah pedasaan Jawa Barat yang amat sangat sunyi,indah dan nyaman, terdapat seorang pemuda yang umurnya sudah 20 tahun yang wajahnya tampan,lugu,dan menawan. Kebiasaan sang pemuda adalah duduk di tempat yang menurut dia adalah tempat terindah yang pernah ada di dunia ini. Tempat dimana dia bisa duduk santai,bermain alat musik tiup,meminum secangkir atau dua cangkir atau lebih kopi hitam panas dan hal-hal yang menurutnya bahagia dalam menjalani kehidupan ini. Tempat itu dinamakan “Saung Gundil” sungguh nama yang indah bukan? (itu menurut Sang Pemuda Tampan). Oh ya, tidak lupa saya kenalkan nama pemuda itu, dia bernama “Kayaban Bayan” baguskan namanya. Kayaban adalah seorang pemuda yang se-tengah rajin. Kegiatan sehari-harinya sangatlah padat.setiap pukul 09.00, dia harus pergi ke sawah, ayahnya. Tapi, disana dia bukannya membantu malah duduk di saung kesayangannya, anak yang tidak tau diri… eett tapi itu dulu. Sekarang Kayaban sangat rajin setelah dia berpacaran dengan seorang mojang yang cantik jelita dan juga idaman para semua lelaki,yang bernama Iteung, mereka menjalin hubungan sudah 5 tahun, Uuh sungguh waktu yang sangat lama. Kini Kayaban menjadi rajin, setiap dia pergi ke sawah , pastinya sekarang dia membantu ayahnya, yaa walaupun hanya sebentar.
            Kayaban mempunyai 5 orang teman, yang sudah berteman dari mereka umur 7 tahun. Mereka bernama : Usep, Itang, Dedi, Eruk dan Johan. Yang paling keren sih Johan yah soalnya dia adalah keturunan Belanda. Lama sekali saya menceritakan tentang Pemuda Tampan ini. Yuu mariii kita lanjut aja keceritanya.
Pukul 09.00 pagi. Pagi ini Kayaban bersiap siap untuk pergi ke sawah, untuk menyusul abahnya. Seperti biasa dia mengikuti gaya kota, dia mengenakan celana hitam sepertiga, kaos putih, sarung yang diselendangkan ke bahunya, dan tidak lupa dengan peci kesayangannya, peci berwarna hitam yang sering digunakan oleh presiden pertama kita Pak Soekarno. Gaya kota banget bukan -__-.
            “Ambuuu Kayaban angkatnya, aya nu bade dititipkeun kangge abah teu ??” kata kayaban sambil mendatangi ibunya yang sedang di dapur.
            “enya mangga, ieu ambu nitip kulub hui, sangu jeung deungeun sanguna, jeung ieu yeuh teh haneut jang si abah.” Kata ambu sambil membungkus makanan yang akan dibawa oleh kayaban.
            “ih atuh ambu mah, kangge abah hungkul ai kopi hideung haneut kangge kayabanna mana ambuu?” jawaban kayaban bari jeung kesel.
            “yeehh ieu apan tuangeun mah kangge kayaban sareng si abah. Yeuh muda keneh geus kopi haneut nu hideung deuih, geus we cai enteh nya ngarah seger ke ku ambu pang damelkeun.” Omong ambu sambil beranjak dari tempat duduknya.
            “aahh alim ambu aah meni enteh, teu gaul ambu ari enteh mah. Gaulan keneh kopi hideung. Wios we atuh kayaban nu ngadamelna, ambu mah calik we.” Omong kayaban sambil membawa gelas besar untuk membuat kopi.
            “yeeeehh ai si ujang dipapatahan teh, nya sok atuh buru, karunya si abah nungguan jigana teh. Ambu kacai heula ah.” Kata ambu sambil pergi ke kamar mandi.
            “mangga ambuu.” Jawab kayaban sambil membuat kopi.
            Setelah membuat kopi kayaban pun pergi menuju sawah dan membawa bekal yang di beri oleh ambunya. Di tengah perjalanan dia bertemu dengan kekasihnya yaitu Iteung. Kayaban pun menyapa iteung dengan lembut dan biar sedikit kaya orang kota, mereka berdua berbicara menggunakan bahasa Indonesia campur sunda, bahasa yang indah…??
            “aduuh si cantik, selamat pagi atuh cantik.” Sapa Kayaban kpada iteung dengan lembut.
            “eh ada akang, pagi kang, mau ke sawah nya kang? Meni seueur kitu bekelna.” jawab iteung.
            “muhun duh ieu teh meni repot piwarang ambu neng, eneng mau kemana ini teh pagi-pagi kaya gini?” Tanya kayaban kembali.
            “tadina mah mau ka warung ceu mimin , tapi tutup janten teu jadi weh kang. Akang bade dibantosan ku eneng bawa bekelna?” jawab neng iteung.
            “aah gak usah atuh neng sok ajah eneng pulang ke rumah, bantuin si mamih dirumah, beberes atawa masak atuh.” Omong kayaban.
            “ih henteu akang da sudah beres pekerjaan rumah mah, ayeuna mah hoyong sareng akang we ah.” Omong iteung sambil menyenggol bahu kayaban.
            “aah si eneng mah meni sok kitu.” Sambil mendorong neng iteung dengan sedikit keras.
            “adduh si akang mah meni keras keras teuing mukul teh, sampe eneng kasuntrungkeun.” Omong iteung sedikit kesal.
            “atuh punten neng cantik nyaa da cuman bercanda akang mah. Hayu atuh bade ngiring moal ka sawah teh neng?” omong kayaban dengan lembut.
            “muhun teu sawios kang, mangga kang dieu atuh rantangna ku eneng pang nyandakkeun.” Omong iteung sambil membawa rantang yang di pegang kayaban.
            “oh hatur nuhun nya neng sayang. Hihihi.” Omong kayaban sambil mencolek dagunya iteung. Neng iteung pun hanya tesenyum. Mereka berdua kemudian melanjutkan perjalannya untuk pergi ke sawah.
            Sesampainya disawah, iteung dan kayaban pun menyapa abah kayaban yang sedang bekerja.
            “abah ieu aya bekel dari ambu..” seru kayaban sambil berjalan menuju saung kesayangannya.
            “heueuh sok teundeun we di saung gundil ujang, ke ku abah di makan. Eh gening sareng neng iteung.” Omong abah sambil mencangkul, lalu berhenti ketika melihat iteung.
            “muhun bah, iteung teh hoyong ngiring we sareng kang kayaban. Mangga abah ieu bekelna enggal tuang.” Jawab iteung, sambil menyimpan bekalnya di saung gundil.
            “oh.. enya sok simpen we didinya ke abah kadinya.” Seru abah sambil melangkah menuju saung gundil.
            Mereka pun memakan perbekalan yang dibekalkan oleh ambu, tetapi iteung tidak memakannya, iteung hanya menyiapkan makanan itu untuk dimakan.
            “kayaban, abah geus makan mah rek pulang we nya. Tuh itu gawean saeutik deui, teruskeun ku kayaban nya ke ieu rantang ku abah dibawana.” Seru abah sambil memakan perbekalan.
            “mangga bah, salam nya bah ka ambu.”jawab kayaban dengan nada bercanda.
            “kawas rek kamana wae ai maneh teh jang ah.”omong abah dengan bercanda.
            Setelah mereka selesai makan, iteung dan kayaban pun membereskan makan yang telah dimakan. Kemudian Abah pun pergi untuk pulang ke rumah, kayaban pun menyelesaikan pekerjaan yang belum terselesaikan oleh abahnya. Sedangkan iteung hanya menunggu kayaban di saung.
            Beberapa saat kemudian… kayaban telah menselesaikan pekerjaannya. Kayaban pun berjalan menuju saung yang diduduki iteung. Betapa romantisnya hubungan mereka, Disusutlah keringan yang mengalir di dahi kayaban oleh iteung. Iteung pun memberikan kopi hitam yang tadinya panas menjadi dingin kepada kayaban. Sungguh percintaan anak muda jaman sekarang so sweet….
            “neng uih yu tos siang. Akang teh aya janji sama si bujang bujang kampung.” Omong kayaban kepada iteung. (yang disebut bujang-bujang adalah kelima sahabat karibnya).
            “hayu atuh kang, eneng ge meni asa hoyong bobo ieu teh tunduh.” Jawab iteung kepada kayaban.
            Mereka berduapun pergi, iteung menggandeng tangan kayaban, bahagianya kisah cinta mereka. Sepertinya tidak akan pernah terpisahkan. Meskipun badai menerpa. Kayaban mengantarkan iteung ke rumahnya. Di rumah iteung kayaban menyapa Mamih yang sedang menyapu di depan rumah.
            “assalamualaikum mamiih.. meni rajin yah mamih sasapu siang siang gini.” Sapa kayaban dengan logatnya yang sangat sunda itu.
            “eeh ada Kayaban yang tampan sekali ini teh. Waalaikumsaalam ujang ganteng. Iya dong mamih kan memang rajin. Adduuh abis dari mana ini teh?” jawab mamih dengan bahasanya yang centil.
            “haha mamih aya aya wae. Abis dari sawah mih, kebetulan ditengah jalan ketemu neng iteung nya entos we neng iteung teh hoyong ngiring.” Jawab kayaban.
            “adduuhh meni kaya magnet ajah kalian berdua teh, kemana mana nempel terus nyaa.. geura narikah atuh nya. Haha” omong mamih dengan nada sedikit menyindir.,
            “aah mamih naon mih, atos ah kang kayaban mau ada janji, mamih jangan ngajak ngobrol kayaban aja atuh.” Omong iteung dengan nada malu-malu.
            “yeeh ai iteung meni suka gituh nya. Nya entos atuh kade nya kayaban. Nuhun tos nganteurkeun iteung.” Omong mamih sambil memegang sapu.
            “ mangga atuh mamih, ke ah nikah mah gampil nya neng.” Seru kayaban sambil mencolek dagunya iteung.
            “aduh tos colak colek ini teh.” Sindir mamih dengan nada centil. “nya sok atuh kadee kayabannya,salam ka bujang-bujang sama si ambu si abah nya.” Seru mamih.
            “muhun mamiiih mangga ah.” Omong kayaban sambil berjalan pergi.
            Sesampainya kayaban di lokasi pertemuan, para bujang-bujang telah menunggunya dengan santai. Akan tetapi para bujang tidak kumpul semua, mereka hanya bertiga.
            “heeyy bujang bujang yang tampan, aya acara naon ieu teh?”  Tanya kayaban sambil duduk di dekat Usep.
            “nyaa kieu we biasa urng ruang-riung heuh. Geus timana maneh kayaban?” Tanya Itang sambil memakan makanan kesukaannya yaitu keripik singkong.
            “geus ti sawah terus nganteurkeun sin neng iteung ka imahna euy.” Jawab kayaban sambil membawa makanan yang ada di tangan Itang.
            “adeuh lah gaya batur nya nu boga kabogoh.”ledek Usep sambil mencolek Kayaban.
            “bae aah dari pada Jomblo!” ledek kayaban kembali.
            “euh tong kitu atuh kayaban, kita bertiga teh memang Jomblo, tapi Jomblo terhormat. Hahaha” omong Itang.
            “eeh heueuh kawas eta we nya Karuhun Jomblo haha , gening ngan tiluan na kamarana nu dua deui?” Tanya Kayaban heran.
            “itu mereka teh ada acara ke Kota cenah mah.” Jawab Johan.
            “kota mana euy meni gayaa…?” omong Kayaban dengan kurang yakin.
            “ka kota nyah joh? Naha asa ku gaya?”Tanya heran Usep.
            “yeeh heueuh eta Kota Wado tea gening.” Canda Johan.
            “eeeuuhh gelo si maneh mah.” Sambil memukul kepala Johan.
            “heuuh katurunan Balanda teh meni kieuu.” Ledek itang kepada Johan.
            “keun bae aaahh. Eh heueuh, dulur saya mau datang ke sini.” Curhat Johan.
            “dulur anu mana? Anu ti Balanda??” seru Itang.
            “heueuh dong saya mah da dulurna ge ti Balanda hungkul.”sombong Johan.
            “watir kitu maneh mah  Johan. Dulur teh ngan ti Balanda hungkul. Simkuring atuh dulur teh timana-mana, Ti manca nagara ge aya.” Omong Kayaban dengan nada sombong.
            “naha maneh kayaban boga dulur timana wae kitu? Asli sunda lin maneh teh?” Tanya Usep.
            “nya loba atuh, Ti Subang, Ti Wado loba, Ti Sumedang aya, Ti Situraja aya, Ti Tanjung kerta ge loba.” Omong Kayaban dengan candanya.
            “ih ai maneh eling Sangu!!” omong Itang dengan kesal.
            “hahhaa si kayaban mah aya aya wae. Eh terus joh lobaan teu kadieu na? kadee aah ngajajah deui kawas jaman baheula.” Omong Usep.
            “lobaan 5 urang mah aya, nya moal atuh maneh teh puguh da jaman naon ayeuna teh.” Omong Johan.
            “emang rek naon dulur maneh nu ti Balanda kadieu?” Tanya Kayaban.
            “silaturahmi we meureun. Da islam kabeh dulur urngna ge. Ngan aya si Charless ngaranna teh hayang meunangkeun awewe urang dieu.” Jelas johan.
            “aallaah siah, saha tah? Da anu geulis didieu mah ngan si iteung hungkul euy.” Omong Itang dengan nada menyindir Kayaban.
            “naon atuh euy!! Iteung mah milik simkuring euy! “ sentak Kayaban sebari menyenggol Itang.
            “hahaha heureuy jang ah. Balik yu ahh tunduh euy.” Ajak Itang.
            “heueuh hayu aahh saya teh mau ngabantuan si ibu di warung.” Omong Johan.
            Kemudian mereka ber 4 pun pergi kerumahya masing-masing. Sesampainya dirumah, Kayaban memikirkan Iteung, dia takut jika nanti orang Belanda yang bernama Charless itu merebut Iteung darinya.
            Keesokan harinya, Kayaban tidak pergi ke sawah., tetapi pagi-pagi tepat pukul 08.30, Kayaban mengajak Iteung untuk berkencan, yaahh bahasa gaulnya berkencan kan? Dia mengajak Iteung untuk pergi ke Saung gundilnya. Karena disanalah tempat pertama kali mereka bertemu.
            Sesampainya di Saung..
            “neng atos makan tadi di bumi?” Tanya Kayaban.
            “Alhamdulillah kang sudah eneng mah. Ari akang gimana sudah belum makan?” Tanya balik Iteung.
            “sudah juga atuh neng akang ge, tadi enjing tambah ci Kopi Panas duuh mantap neng.” Omong Kayaban sambil memegang suling yang dia sayangi.
            “wios kang ah da teu naros.” Jawab singkat Iteung sambil bercanda.
            “eh si eneng mah sok kitu.” Omong Kayaban sambil menyenggol bahu Iteung.
            “ah akang mah.. eh kang ada apa ini teh ngajak Iteung kesini?” Tanya Iteung.
            “ah nya hoyong we neng akang teh ngajak eneng ameng. Bilih eneng bt kitu bahasa gaulna mah Bad Mood di bumi wae. Hehehe” jawab Kayaban dengan nada khasnya.
            “ih akang mah mening baik atuh ka eneng teh.” Omong iteung sambil mencolek bahu Kayaban.
            “nya harus atuh neng baik ka kabogoh sendiri mah. Hehehe eh neng, ai eneng moal ninggalin akang kan?”Tanya Kayaban dengan nada sedikit ragu.
            “eh ai si akang, ngomongnya kemana aja, nya moal atuh kang, da eneng mah sayang ka akang teh. Da dina carita Kabayan ge pan Iteung mah ditakdirkeun  kangge kang Kabayan. Ngan Iteung didieu, ditakdirkeunna kangge kang Kayaban. Hehehe” jelas iteung.
            “iihh si eneng mah meni lucu ari tos nyarios panjang lebar teh. Haha” jawab Kayaban sambil mencolek dagunya Iteung.
            Ketika mereka sedang asik berduaan, tiba-tiba datang Usep menyusul Kayaban. Usep ingin member tahu kepada Kayaban kalau saudaranya Johan yang dari Belanda telah datang tadi.
            “Kayabaaaann...!!” teriak Usep beberapa meter dari saung itu.
            “euy naon seep..kadieu!!” teriak kayaban kembali.
            Kemudian Usep pun mendatangi Kayaban…
            “adeuh ieu mah duaan wae euy. Kade ah katiluna Jurig atawa setan pek tah.” Omong Usep dengan nada menyindir.
            “apan maneh sep nu katilu.” Ucap Kayaban dengan nada datar.
            “eehh maneh mah sok kitu jang.” Tegur Usep sambil memukul kayaban tetapi tidak dengan sengaja tidak dikenainya.
            “heuh, aya naon maneh kadieu ngaganggu wae ah.” Omong Kayaban.
            “tuh dulurna si Johan nu ti Balanda karek datang, bisi maneh rek salam hayu atuh bareng, iraha deui sasalaman jeung orang luar nagara sok?”ucap Usep dengan nada kampong banget.
            “aduh kang usep mah meni kampungan pisan yah. Cuman salam sama orang Belanda aja ge. Hehehe” Ucap Iteung nyambung percakapan Kayaban dan Usep.
            “heueuh da si Usep mah emang kampungan neng.” Ledek Kayaban.
            “ah meni sok karitu ka urang teh nya. Hayu atuh, arek moal jang? Hayu atuh neng Iteung ge ngiring.” Ajak Usep kepada mereka berdua.
            “mangga atuh kang Usep eneng mah hayu wae kumaha kang Kayaban we. Akang bade moal? Itung itung silaturahmi atuh kang.” Ajak Iteung kembali.
            Kayaban terlihat khawatir dan bingun, dia takut kalau nanti orang Belanda itu merebut Iteung darinya. Dan Kayabanpun masih memikirkan itu dari kemaren.
            “enya hayu atuh neng, tapi eneng harus sama akang terus yah!” seru Kayaban kepada iteung.
            “muhun akang kasep. Hayu atuh ah, kang Usep heula ti payun.” Ajak Iteung.
            Mereka bertiga pun berjalan menuju rumahnya Johan yang jaraknya tidak terlalu jauh dari Saung itu.
            Sesampainya di rumah Johan… Kayaban pun memasuki rumah Johan terlebih dahulu, disana Johan telah menyambut mereka bertiga.
            “Assalamualaikum, Joh!” sapa Kayaban ketika memasuki rumah Johan.
            “waalaikumsalam, euy rek naraon kadieu? Eh aya neng Iteung.” Tanya Johan heran.
            “yeuh si Usep haying papanggih jeung si Orang Balanda, bejana mah haying sasalaman cenah.” Omong Kayaban sambil nada meledek.
            “aahh maneh mah sok ngabuka privasi urang wae euy!!” omong Usep.
            “apal nyah maneh naon privasi??” Tanya Kayaban sambil meledek kembali.
            “nya apal atuh da pernah di ajar urang teh.” Jelas Usep.
            “geuuss ah heup. Rek sasalamannya jeung dulur urang? Ke urng panggilan heula dulur urngna nya. Tapi daa nu aya diimah ayeuna mah ngan aya si Charless hungkul nu laenna ka imah nini urang.” Jelas Johan.
“ohh.. eh Charless teh nu neangan awewe nu aya  didieu lin? Tanya Usep.
            Kayaban pun dengan kagetnya mendengar omongan itu, lalu melihat kearah Iteung.
            “heueuh nu eta.. ke urang panggil heula nya.” ucap Johan sambil pergi menuju kamarnya untuk menyusul Charless.
            Kayaban terilihat ketakutan, yang pastinya ketakutan kalau nanti iteun direbut oleh Charless. Beberapa saat kemudian Charless datang. Wajahnya sangat tampan sampai-sampai melebihi Kayaban, ukuran tubuhnya tinggi, tapi yaa sedikit kurus, badannya harum dan Cowo banget deehh!! Kayaban semakin deg degan, melihat Charless. Tapi Iteung terlihat biasa saja memandang sang cowo Belanda yang tampan itu.
            “ohh hai mister, my name is Usep. You know Usep. U-S-E-P.” omong Usep sambil menjabat tangan Charless dengan berbica inggris kurang lancar.
            “oh ya I know, USEP.” Dengan suara yang nyaring dan lantang, dan juga senyum yang manis. “and siapa kamu?” tunjuk Charless kepada Kayaban.
            “euleuh gening bias bahasa Indonesia oge gening.?!” Celoteh Usep sambil menyenggol bahu Kayaban.
            “oh iya, saya teh Kayaban kenalin.” Ucap Kayaban memperkenalkan diri sambil menjabat tangan Charless.
            “iya Kayaban. And siapa perempuan ini?” Tanya charless kepada Iteung.
            “saya Iteung kang, kenalin yah. Akang bisa bahasa Indonesia juga yah ternyata.” Jawab iteung dengan ramah dan juga senyumnya yang imut.
            “ I-T-E-N-G? right? Benar begitu namanya? Ya saya bias bahasa Indonesi, dari kecil saya belajar.” Tanya Charless kembali epada Iteung.
            “bukan nama saya teh Iteung bukan Iteng, pakeu eu nya kang.” Jawab iteung dengan nada lembut kembali.
            “ohh ya I know, ITEUNG. Right? Hahaha you’r so beautiful.” Omong Charles dengan nada memuji Iteung.
            “hahaha iya kang nuhun nya.” Omong iteung kepada charless. “Akang Kayaban apa atuh arti dari byutipul teh? Iteung mah tidak mengerti.” Tanya Iteung kepada kayaban dengan nada membisik.
            “duka atuh neng, baik meureun artina teh.” Jawab Kayaban dengan nada so tahu.
            Kayaban melihat kearah Iteung dan Charless, dia terlihat takut kehilangan Iteung. Akan tetapi Iteung hanya biasa saja.
            “hayu atuh sok mangga duduk semuanyah, urag ngobrol ngobrol.” Ajak Johan kepada orang-orang yang ada di rumahnya.
            “enya mangga atuh joh. cai-caina we nya sakalian.” Omong Usep sambil duduk.
            “ah sok we atuh Usep nya. Saya saa neng Iteung au pergi duluan tidak apa-apa?” Ucap Kayaban sambil memegang tangan Iteung. Akan Tetapi Iteung terlihat heran, mengapa Kayaban bertingkah seperti itu?
            “bade kamana akang?” Tanya Iteung kepada Kayaban.
            “urang jalan-jalan neng pan tadi akang tos janji ka eneng.” Jawab kayaban. “Marangga ah ke semuanya.” Salam kayaban sambil memegang tangan Iteung lalu berjalan pergi keluar.
            Di dalam rumah Johan…
            “ai si Kayaban kunaonnya? Gelisah kitu? Sieun si Iteungna di rebut kitu?” omong Usep dengan asal ngomongnya itu.
            “teu apal atuh sep ah. Rek nginum moal?” ucap Johan sambil menawari Usep dengan nada sedikit kesal.
            “mangga atuh mun ay amah jeung kakarenna nya hehe” omong Usep.
            “aaahh maneh meni eweuh kaera nya.”omong Johan sambil memukul pundaknya Usep lalu pergi ke dapur.
            “ada apa Sep, ko Kayaban pulang duluan?” Tanya Charless sambil duduk di kursi.
            “tidak tahu atuh saya teh, cemburu meureunnya.” Jawab Usep kepada Charless.
            “apa sep? I’m not understand.” Omong Charless.
            “aah nya begitu saja lah. Teu mengerti.” Ucap Usep yang so paham.
            Di perjalanan Kayaban dan Iteung… mereka berdua tidak tahu arah tujuannya kemana. Kayaban hanya ingin membawa Iteung pergi Dari rumahnya johan.
            “mau kemana atuh kang ini teh?” omong Iteung kepada Kayaban.
            “jalan-jalan we neng. Mun jujur mah akang teh hoyong ngajak eneng pergi we dari rumah si Johan, da akang teh cemburu liat eneng ngobrol sama Charless, charless tea.” Jelas Kayaban dengan nada sedikit kesal.
            “ih ai si akang jadi cemburuan gitu? Tenang aja atuh kang da eneng juga gaakan tinggalin akang, kecuali kalo akang tinggalin eneng, eneng oge bade ninggalkeun akang.” Jelas Iteung kembali kepada Iteung.
            “enya atuh neng hapuntennya akang bilih keterlaluan cemburuna.” Ucap Kayaban mengalah.
            “enya kang tidak apa-apa iteung mah,  ngan akang tong kawas tadi deui nya. Teu sopan kang,dating ka rumah orang eh malah buru-buru pergi.” Omong Iteung dengan nada menasehati.
            “enya neng engke mah akang moal kitu deui nya. Eneng bade uih ayeuna? Hayu atuh ku akang di anteurkeun.” Omong kayaban sambil mengajak Iteung pulang.
            “aih si akang mah jiga nu ngusir kitu atuh kang.” Omong Iteung dengan nada bercanda.
            “eh nya henteu kitu neng akang mah nawaran hungkul. Meni sok baeud.” Ucap Kayaban sambil mencolek dagu Iteung.
            “enya kang haha eneng ge heureuy atuh kang. Hayu atuh kang eneng ge hoyong uih, meni asa cararape ieu teh.” Omong Iteung.
            “mangga neng hayu.” Ajak Kayaban kepada Iteung.
            Keesokan harinya, ketika Kayaban ingin pergi ke sawah, kayaban melihat Iteung sedang berduaan di dekat kebun dengan Charless. Kayaban sangat cemburu dan sangat marah. Kemudian, Kayaban mendatangi Iteung dan Charless yang sedang asik berduaan.
            “heh Charles apa-apaan kamu the dua-duaan sama pacar saya? Dasar tidak tahu malu kamu mah. Mau ngerebut Iteung dari saya?!!” Bentak kayaban kepada Charless.
            “ih ai kang kabayan kenapa? Udah atuh jangan marah-marah ga jelas kitu, daa ini teh cuman salah paham kang, Iteung teh mau ke rumah akang tadina mah, kebetulan ketemu kang Charless, nanyyain jalan ka sungai kamana..” Jelas iteung yang kemudian di potong Kayaban
            “aah neng iteung mah sok alesan wae, kamari-kamari weh neng ngomong ka akang, moal ninggalkeun akang, eh ieu buktinya eneng ninggalin akang.” Bentak Kayaban yang sangat cemburu.
            “neng mah baru juga tadi pisan ngobrol sama kang Charlessnya juga./ si akang mah sok keras kepala nya. Iteung mah jujur kang, sok we taroskeun ka kang Charless sok tara percayaan wae da.” Jelas Iteung kembali.
            “aah jelas akang mah teu percaya neng. Hoream ah nanya ka si Charless na ge. Muak akang mah.” Cibir Kayaban.
            “hey Kayaban kenapa marah-marah seperti itu? Dia pacarmu? Iya saya juga tahu. Saya tidak akang merebutnya.” Jelas Charless yang kemudian berbicara.
            “alah bohong maneh mah charless! Teu percaya say amah!” bentak Kayaban dengan keras kepala.
            “kamu menyebut saya pembohong? Saya berkata jujur!” kesal Charless kepada kayaban.
            “enya emang kunaon kitu? Aya masalah?! Hayu neng ngiring jeung akang!!” bentak kayaban sambil menarik Iteung. Kemudian, Kayaban dan Iteung pun pergi meninggalkan charless. Neng Iteung terlihat kesal melihat tingkah laku Kayaban yang sangat tidak tahu sopan santun dan keras kepala. Di perjalanan…
            “lepasin atuh kang, mau kemana kita teh? Sebaiknya mah kita the minta maaf ka kang charless akang teh salah paham kang.. Iteung mah jujur. Ka pacar sendiri aja akang mah ga percaya.” Omong Iteung kepada Kayaban sambil menghentikan langkah.
            “akang teh cemburu neng! Neng iteung mah meni sok tara ngartos. Nanaonan ngobrol duaan kitu.” Kesal Kayaban.
            “nya entos ah kumaha akang we da Iteung mah tos jujur. Atos ah Iteung mah hoyong uih wae. Iteung tipayun kang. Nuhun!” bentak Iteung kepada kayaban,lalu Iteung pun pergi kerumahnya sendiri dan tidak memperdulikan Kayaban.
            Kayaban sangat kesal dan dia menemui teman-temannya yang sedang berkumpul di tempat biasa. Ceritanya mau curhat…
            “eta si Kayaban kunaon euy? Asa buad baeud wae?” Tanya Eruk yang baru kemarin dia datang dari Kota wado itu..
            “gandeng ah saya teh lagi karesel.” Omong singkat Kayaban.
            “nya kunaon atuh ai maneh, datang-datang geus sentak sengor gini?” Tanya heran Johan.
            “tah saya the gasuka sama sodara kamu si Charless, dia mau merebut si Iteung dari saya.” Ungkap Kayaban dengan kesal.
            “ah maenya Kayaban?” heran Eruk.
            “ah maenya ah? Moal da geus di bejaan ku urang ka si charless kieu yeuh :, si Iteung mah kabogoh Kayaban jadi tong di rebut, teangan we deui perempuan-perempuan anu cantik di desa ieu. Terus da nurut si eta the. Jadi moal mungkin ah.” Jelas Johan.
            “heueuh Kayaban boa maneh mah ngan salah paham hungkul, emang apal timana kitu lamun ngarebut sok?” Tanya Itang.
            “aya buktina eweuh jang yen si charless teh ngarebut?” Tanya Usep.
            “kelaaaa.. urang rek nannya, ai charless teh saha atuh?” Tanya Dedi yang sedari tadi tidak mengerti yang mereka bicarakan.
            “eeuh samah. Urang ge nu karek kumpul geus apal! Eta dulurna si Johan anu ti Balanda.” Jelas Eruk.
            “ohh atuh ai kieu mah aya bahan perang deui yeuh.!” Omong Dedi dengan asal.
            “ah gelo samah, amit-amit atuh ke urang bisi eleh deui kumaha sok?”omong Itang.
            “eeuh geus geus ah heup. Sok caritakeun Kayaban, kumaha mimitina?” Tanya Eruk.
            “pan kieu nya, tadi urang teh rek kasawah heuh, ai pek teh ningali si Iteung jeung si Charless ngobrol duaan. Kumaha teu heneg sok kana hate jaba si Charless teh keur neangan awewe sok?” Cerita Kayban kepada teman-temannya.
            “bisi keur ngomongkeun naon meureun, atawa teu kahaja papanggih.”omong Usep sambil menenangkan hati Kayaban.
            “heueuh jang, da moal mungkin atuh meureun iteung ninggalin kamu mah.” Jelas Johan.
            “heueuh atuh da kumaha ari ngaranna cemburu mah teu bisa ditahan.”omong Kayaban.
            “ah maneh mah keras kepala teuing ah. Mun maneh kitu terus mah nya, di dunia percintaan, ke the sok di tinggalkeun ku awewena. Pek siah kumaha?” jelas Dedi.
            “heueuh nyah sok kitu? Apan maneh the karuhun jomblo, nyaho timana sok?”omong kayaban.
            “eehh apan urang teh osok macaan buku tentang percintaan atuh euy.” Omong Dedi meyakinkan, sambil mengedikpan matanya.
            “aaahh geus ah balik yu urang tunduh euy, carape!” omong Itang.
            “heueuh hayu, ke Kayaban urang ngomong yah sama si charlessna, tenang we.” Ucap Johan menenangkan.
            “heueueh atuh nuhun nya barujang bujang.” Omong Kayaban.
            Mereka pun pergi ke rumahnya masing-masing.
            Satu minggu kemudian…
            Sudah satu Minggu ini Iteung dan Kayaban belum bertemu, Kayaban  pergi ke rumah neneknya yang berada di Sumedang. Tetapi Iteung selalu mencari Kayaban. Dia mencari ke kebun,ke sawah,ke rumah teman teman Kayaban,ke seluruh dunia dia cari. Ups terlalu berlebihan…
Akhirnya Iteung datang kerumah Kayaban, akan tetapi dirumahnya tidak ada siapa-siapa, ketika Iteung bertanya kepada Ambu, Ambu heran, dikira Ambu, Kayaban bilang kepada Iteung, kalau dia pergi ke rumah neneknya yang ada di Sumedang.
“punteenn, ambu..ambuu.. ieu Iteung ambu.. Assalamualaikum.” Ucap Iteung dengan kekhawatirannya.
“mangga.. eh aya neng Iteung. Aya naon neng kadieu? Kayaban mah teu acan uih neng. Masuk dulu atuh neng.,” Omong Ambu yang baru datang dari dapur.
“emang Kayaban kamana ambu? Teu terang da Iteung mah.”  Tanya Iteung heran.
“eh neng Iteung teu acan terang? Apan ka bumi ninina anu di Sumedang, Kayaban the.” Jelas Ambu dengan nada heran.
“ka Sumedang ambu? Naha ai Kang kayaban teu wawartos nya?”Tanya Iteung dengan sedih.
“eh nya teu apal neng ambu mah. Ke 2 harian deui ge uih da neng sabar we nya.” Tenang ambu.
“muhun atuh ambu, Iteung uih heula nya ambu..” Ucap Iteung dengan lesu.
“naha atuh tos uih deui? Moal kalebet neng cai-cai heula.” Ucap ambu.
“mangga ambu ah Iteung seueur pekerjaan di rumah. Nuhun nya ambu. Assalamualaikum.” Ucap Iteung sambil berjalan pulang.
“yeh aatuh.. enya waalaikumsalam.” Jawab ambu lalu menutup pintu.
Iteung sangat sedih, kenapa Kayaban segitu marahnya hanya melihat Iteung ngobrol sebentar dengan Charless. Kayaban terlalu keras kepala piker Iteung. Dia ingin sekali bertemu dengan Kayaban. Dia ingin Kayaban kembali seperti dahulu, Kayaban yang selalu Romantis, yang selalu ada untuk Iteung, yang selalu percaya kepada Iteung, tapi kali ini tidak.
Keesokan harinya, ketika Iteung membuka pintu depan rumahnya, ada seorang lelaki yang tampan dan wangi.. harapan Iteung hancur ketika melihat pemuda itu bukan Kayaban melainkan Charless.
“eh kang charless ada apa kesini?” Tanya Iteung dengan muka sedih.
“saya hanya ingikn mengajak Iteung jalan-jalan. Iteung terlihat sedih. Kenapa?” omong Charless.
“jalan-jalan kang? Iya kang Iteung lagi sedih ini teh/.” Jelas iteung dengan muka sangat sedih.
“kenapa Iteung? Bisakah kamu menceritakan sesuatu yang membuatmu sedih?” omong Charless dengan nada menenangkan hati Iteung.
“iya kang Iteung boleh cerita?”omong Iteung sambil bertanya kepada Charless.
“iyaa silahkan saja. Bagaimana kalau ceritanya, kita sambil jalan-jalan mencari udara segar.”ajak Charless.
“iya kang hayu.” Iteung pun menerima tawaran Charless.
Lalu, mereka pun pergi mengelilingi desa kecil yang indah itu, Iteung menceritakan tentang Kayaban yang masih marah kepadanya, yang Kayaban pergi tanpa memeberi tahu Iteung. Dan Charless menenangkannya. Kemudian, agar Iteung senang dia ingin mengajaknya ke acara Tarian tradional Jawa Barat yang di adakan nanti malam. Iteung pun menyetujuinya, dia hanya ingin menenangkan dirinya. Mungkin dengan menonton pertunjukan itu dia bisa tenang. Piker Iteung..
Pada Malam hari….
Charless datang ke rumah Iteung. Dan Iteung pun telah bersiap-siap. Iteung memakai baju yang rapih dan cantik. Itang dan Dedi yang sedang melintas di depan rumah Iteung pun terlihat kaget, melihat charless datang ke rumah Iteung.
Dedi dan Itang pun mengikuti Charless dan Iteung pergi. Mereka terus mengikutinya. Ketika Iteung dan Charles sampai tujuan, Itang dan Dedi pun lari kerumah Kayaban untuk menyusuli Kayaban, dan mereka berharap Kayaban sudah pulang dari rumah nenek nya.
“Kayabannn… Kayaban Bayaaaann!!” teriak mereka dari kejauhan.
Abah pun membuka pintu rumahnya.
“aya naon ieu teh bujang-bujang gogorowokan peuting kieu?” omong Abah yang ternyata akan menonton Tarian Tradisional itu.
“bah ai Kayaban tos uih ti Sumedangna?”Tanya Dedi dengan nada terengah-engah.
“enggeus tuh kara datang, aya di kamarna, tong waka di ajak ulin capeeun karunya.” Jawab abah.
“enya bah moal, abdi lebetnya bah.” Omong Itang dengan terburu-buru.
“heug jig jig.” Omong abah yang lalu pergi.
Itang dan Dedi pun kemudian memasuki kamar kayaban dan membangunkan Kayaban yang sedang tidur.
“Kayaban!! Hudang heula maneh buru! Aya berita penting ieu teh!!” gebrak Itang dengan terburu-buru
“iiihh aya naon atuh ieu teh!! Teu apal urang carape!” omong Kayaban dengan kesal.
“urang leuwih cape lulumpatan! Hayu urang ningali tradisional tea!!”ajak Dedi.
“ngahudangkeun urang jang ngomong kitu hungkul?” Ucap Kayaban dengan sangat kesal.
“eehh maksud urng teh lain nonton hungkul. Diditu aya si Iteung jang aya si Iteung.” Jelas Dedi dengan terburu-buru.
“nya keun bae aya si Iteung ge, da hayangeun lalajo meureun!” omong Kayaban yang langsung menarik selimut.
“Aya Si Iteung jeung si Charless keur duaan lalajo Tari!!!” teriak Itang sambil menarik tangan Kayaban.
“demi naon siah?!!! Teu sopan pisan urang Balanda teh! Hayu lah urang perangan deui geura! Ayeuna mah urng nu ngajak perang tiheula! Bongana atuhda ngarebut kabogoh urang!” omong Kayaban sangat kesal sambil berjalan dan memakai peci.
“eeh kalem heula atuh tong waka ambek jang!” omong itang.
“eweuh kalem-kalem ah!!” Bentak Kayaban.
Lalu mereka bertigapun pergi menuju tempat acara Tarian tersebut. Kayaban terlihat sangat kesal, Kayaban berjalan sangat cepat dan di susul oleh Itang dan Dedi.
Sesampainya di tempat acara tarian…. Kayaban mencari Iteung. Banyak sekali orang-orang yang menonton acara Tari tersebut.
“ngalem heula Kayaban, tong ngarusak acara batur, ke mun nu narina geus beres, karek bereskeun masalah maneh.” Omong Dedi dengan sedikit dewasa.
Kayaban pun mendengar apa yang dikatakan dedi. Kayaban menunggu acaranya sampai selesai.
Setelah acara nya selesai…. Kayaban sibuk mencari Iteung. Dan akhirnya, Kayaban menemukan Iteung yang sedang asik mengobrol dengan Charless.
“neng Iteung!! Nanaonan didieu duaan jeung si urang balanda kampret eta?!” omong Kayaban dengan kesal kepada Iteung.
“kang Kayaban? Timana wae Iteung kangen kang..” omong Iteung kepada Kayaban.
“aah kangen-kangen bari eneng ayeuna ulin duaan jeung si eta!” omong Kayaban sambil menujuk Charles.
“heh kenapa kamu menunjuk saya?” bentak Charless.
“ih udah atuh akang. Da Iteung teh cuman pengen nenangin diri ajah, Iteung the kangen ka akang Kayaban, Iteung teh curhat ka kang Charless, kang Charless the hoyong nenangkeun perasaan iteung, jadi ngajak kadieu.” Jelas Iteung dengan sangat sedih.
“neng Iteung maha ayeuna tos wani nya ngabohongan akang. Akang mah tos teu percaya. Akang uih the hoyong pependak sareng eneng, eh ningali eneng duaan jeung cahrless the jadi males akang mah. Kaduhung balik.” Omong Kayaban dengan kesal.
“eneng mah teu ngabohong akang sing sumpahna ge.” Yakin Iteung kepada Kayaban.
“gandenng neng. Heh Charles! Hayu siah Kita Perangsama sayah! Sok kamu bawa pasukan kamu nu dari Belanda. Tukang merebut Pacar orang kamu mah.” Tantang Kayaban kepada Carless.
“kamu mengajak perang kepada saya? Tidak takut kah kamu? Waktu dahulu saja Negara kamu oleh Negara saya.” Omong Charless yang akhirnya datang juga kesalnya..
“tidak!! Saya mah tidak takut demi Iteung sok lah!!” tantang Kayaban kemballi.
“atos atuh akang nanaonan perang?” sambung Iteung.
“cicing neng ieu mah kumaha akang we. Heh charless besok saya tunggu kamu di belakang Kebunnya bapanya si Dedi” Omong Kayaban.
“naha jadi tukangeun kebon bapa urang euy?”Tanya heran.
“cicing kumaha urang!!” bentak Kayaban.
Kayaban dan Charless pun setuju kalau mereka akan perang. Tapi,, ingat ini bukan perang sungguhan,  ini hanya perang antar Bujang-bujang. Kayaban membawa pasukannya 5 orang yang terdiri dari teman-teman dekatnya. Dan Charless akan membawa saudara-saudaranya yang dari belanda sekitar 5 orang. Waahh jadi pas yaah…
2 hari kemudian…
Kayaban bersiap-siap untuk melakukan perang dengan charless. Kayaban dan Bujang-bujang memakai baju seragam yaitu batik dan celana hitam panjang. (mau perang atau mau ke kondangan paa -___-). Kemudian kelompok Charless menggunakan pakaian perang yang keren seperti pakaian marcing ban. Kalian mau perang atau pertunjukan sih…
Kelompok Kayaban membawa pemukul dari kayu yang tentunya terbuat dari sterofoam yah… kelompok dari Charless juga membawa alat pemukul dari kayu juga.. kan biar adil..
Kelompok Kayaban berjejer kepinggir dengan tampilan so gagah.. mereka memasang muka so judes dan jago. Kelompok Charles berjejer pula dengan tampilan memang gagah dan keren uuuhh.. dengan muka yang sangat tampan…
Hitungan ke 1…2…3…4…5…6…7…8…9…10…11..12 wwoooyy kelamaan woooyy -__-.. okeh langsung di mulai aja deh perangnya…. Perkelompok pun berperang… mereka berperang dengan gaya slow bangeuuutt!! Kan biar kelihatan gagah… et gaasik ah kalo slow.. mereka berperang dengan sangat heboh.. dari kejauhan Iteung lari ditemani temannya Dian dan Laras... Iteung bermaksud untuk menghentikan peperangan itu.
“heeeyy setoop heeyy.. udah atuh kalian semua the berhenti.” Teriak Iteung.
“kela neng lagi keren nih… poto dulu yuu heey suasana perang.” Celoteh Kayaban.
“okeeyy ayoooo” omong semuanya. Mereka berhenti sejenak untuk berfoto. Setelah berfoto, mereka melanjutkan kembali perangnya…
 “ih atuh malah popotoan. akang Kayaban akang Charless da teu keren bertengkar kaya ginian the atuh!! Berhenti kata Iteung juga atuh.. masa perang cuman gara2 Iteung kang?!! Teriak Iteung dengan Lantang.
“enyaa heey ujang-ujang berhentii!!!!!” ucap dian juga.
“perangna teu gaul aaaahhh!!” teriak Laras.
Tiba-tiba saja perangpun berhenti dan mereka yang ikutan perang pun diam seperti patung.
JANGAN IKUTI ADEGAN INI BERBAHAYA!!! (figuran lewat)
 “atoss akang jadi patungna hey..” ucap Dian kepada mereka yang melakukan perang.
Kelompok Kayaban dan kelompok Charless pun tersadar.. mereka lalu kebingungan.. dan akhirnya Kayaban pun berbicara.
“benar ceuk neng Iteung, buat apa kita seperti ini benar tidak  semuanya?” Ucap Kayaban.
“ya itu benar mari kita berdamai saja. Biarkan Iteung memilih siapa yang akan dia pilih, Saya atau Kayaban?” ucap Charless.
“tah udah lah begini saja. Kita berdamai, biarkan Iteung anu milih rek saha Charless atawa Iteung?” Ucap Usep.
“apan tadi  si cahrless teh ngomong kitu ontohod!!!!” ucap Kayaban dengan sedikit kesal.
“oh kitu nya? Ampun atuh a. hayuu atuh urang sasalaman we..” Ucap Usep sambil bersalaman kepada orang2 belanda itu.
“ih ai si Usep.. sok gini ajah neng Iteung mau milih siapa kang Kayaban atawa Charless neng? Akang mah ridho neng milih Charless ge da ieu ge demi kebahagiaan eneng.” Omong Kayaban dengan bijak. Tumbeeenn…..
“ai akang Charless teh suka ke Iteung?” Tanya Iteung kepada Charless.
“iyah saya sangat mencintaimu Iteung.” Jawab Charless dengan sangat yakin.
“atuh meni kudu milih gini? Kasih Iteung waktu atuh.” omong Iteung dengan kebingungan.
“geus we neng mening milih Kayaban, kayaban mah Pacar eneng atuh.” Ucap Laras mimbisik kepada Iteung.
“ih atuh Laras Kayaban mah teu unik, mening Charless, kasep, wangi gagah. Sempurna asana the.” Bisik Dian menghasut Iteung.
Ketika Iteung sedang bingung-bingung nya memilih pria mana yang akan di pilih.. datang seorang cewe cantik dari kota.
“hey ada apa ini? Ko pada kumpul-kumpul?” Tanya seorang gadis itu yang ternyata adalah Risti teman kecilnya Kayaban sewaktu masih SMP. Yaa di sebut mantan..
“neng Risti sanes? Ieu Kayaban neng..” Ucap Kayaban dengan mata bersinar. Artinya kesenangan muncul.. seakan lupa dengan Iteung.
“oohh kang Kayaban apa kabar? Iya ni Risti kang. Risti the kangen kang ka kang Kayaban meni hoyong pendak, nya entos we Risti the uih ka kampong. Kumaha kabar akang?” omong Risti yang langsung mendekati Kayaban.
Iteung terlihat sangat marah.. ternyata Risti yang pernah ada di hidup Kayaban hadir kembali, kemudian yang asalnya Iteung akan memilih Kayaban, tidak jadi memilihnya karena melihat Kayaban bertemu lagi dengan mantannya yang sangat dia sayangi. Iteung kemudian memilih Charless untuk mengganti Kayaban dari Hidupnya.
“ Iteung mah bade milih kang Charless we anu setianya wios ieu teh?” omong Iteung dengan nada menyindir Kayaban lalu menggandeng tangan Charless.
“neng serius milih kang Charlles?” Tanya Kayaban dengan nada bingung.
“iyah! Soalnya kang Kayaban pasti mau kembali lagi kan sama Risti?”Tanya Iteung dengan nada kesal.
“yaa kalo ditanya mau balikan lagi mah mau atuh yak an neng Risti?” omong Kayaban dengan nada yang tidak berdosa. Neng risti pun mengangguk sambil tersenyum.
“ih dasar laki-laki!! Kang Charless janji mau setia ka Iteung?” Tanya Iteung kepada Charless.
“I’m promise Iteung. Saya akan selalu setia sama kamu.” Janji Charless.
“tapi akang ngomongnya bahasa Indonesia ajah atuh yah Iteung mah tidak mengerti promas promas the apa?”omong Iteung dengan polos.
“janji neng artinya promise.”jelas Itang.
“hebatan kang Itang.” Ledek Iteung.
“yasudaah Iteung Ternyata Milik Charless yah. Saya mah milik neng Risti yah. Hayu ah neng kita jalan-jalan.” Ucap Kayaban lalu pergi sambil menggandeng tangan Risti.
“iyah Ternyata Iteung Miliknya….” Ucap serentak Para bujang-bujang dan orang2 Belanda.
Iteung dan Charless pun pergi meninggalkan kumpulan Bujang dan orang Belanda Itu sambil menggandeng tangan Charless dan mereka terlihat senang dan bahagia.
Sekian cerita ini dapat kami sampaikan.. kita doakan Kayaban dan neng Risti bahagia selamanya amiinn,, jadi jodoh amiinn.. dan juga Iteung dengan Charless bahagia selalu amiin jadi Jodoh amiiinn..  dan para Bujang-Bujang mendapatkan kekasih pujaan mereka amin…..
TAMAT.

#sori deh kalo kaga nyambung, gue baru belajar :D